Monday , 25 June 2018
update
Ratu Adil, Harapan Kaum Tertindas

Ratu Adil, Harapan Kaum Tertindas

Ratu Adil Segera DatangJudul               : Ratu Adil Segera Datang!

Penulis             : Otto Sukatno CR

Penerbit           : Diva Press

Cetakan           : I, Februari 2014

Tebal               : 232 Halaman

ISBN               : 978-602-7968-41-7

Indonesia berpotensi menjadi negeri besar, kaya raya, serta makmur. Apa yang dibutuhkan manusia ada di Indonesia. Gunung berupa emas, minyak bumi seluas lautan, bahkan konon tongkat dan batu “ditanam” tumbuh subur. Bangsa ini tak kurang satu apa pun. Sayangnya, negeri ini selalu gagal melahirkan sosok pemimpin ideal seperti yang dicita-citakan. Kekayaan Indonesia dirampok dan dijadikan ajang akrobatik penguasa. Korupsi merajalela, melukai nurani jutaan penduduknya, ujungnya rakyat menderita tak berdaya.

Dalam ketidak berdayaan rakyat Indonesia, harapan akan hadirnya sosok Ratu Adil menjadi keniscayaan. Sebaliknya, ide-ide dasar tentang tatanan kemakmuran dan keadilan sering kali hanya bersifat utopia. Masyarakat yang mengharapkan kehadiran Ratu Adil menunjukkan situasi dan kondisi sosial masyarakat yang chaos dan skyzofrenis; mengalami krisis mental dan kesengsaraan sosial ekonomi serta budaya dan intelektualitas yang teramat parah dan berkepanjangan. (h. 18)

Maka, hadirnya Ratu Adil menjadi semacam cita ideal dalam diri bangsa ini. Ratu Adil diyakini menghasilkan bentuk idealitas dari tata ekologi, eko-sosial, eko-politik berikut dengan segala relasi dan agregasi serta nilai-nilainya. (h. 19)

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah siapa sebenarnya Ratu Adil? Apakah ia benar-benar ada? Ataukah hanya utopia belaka yang sengaja dihadirkan untuk menekan nyeri luka batin masyarakat Indonesia?

“Ratu Adil Segera Datang!” karya Otto Sukatno CR hadir di tengah kegalauan dan keresahan rakyat Indonesia menanti figurpemimpin ideal. Buku ini setidaknya menjawab pertanyaan tentang sosok Ratu Adil. Penulis membeberkan konsepsi Ratu Adil yang tidak hanya mendasarkan analisis pada mitos semata, tetapi mengolah realitas sejarah bangsa ini dengan serakan serat Jawa dan Ramalan Jayabhaya.

Sebagaimana masyhur dikalangan masyarakat, sosok Ratu Adil tidak bisa lepas dari konsep kepemimpinan suatu masyarakat atau bangsa. Kehadiran Ratu Adil merepresentasikan akan wujud idealitas kepemimpinan. Kata “Adil” dibelakang ratu menjadi kunci sosok pemimpin ideal bagi seluruh golongan masyarakat, tidak berat sebelah atau memihak golongan tertentu.

Konsepsi Ratu Adil sendiri dibayangkan sebagai tokoh hero oleh masyarakat, agama, mitos, dan keyakinan. Dalam teologi Semitik, kehadiran dan kepemimpinan Musa atas Bani Israil diyakini sebagai bentuk presentasi keyakinan adanya Ratu Adil. Musa membebaskan kejumudan dan perbudakan menuju zaman kegemilangan dan keadilan di tanah yang dijanjikan Tuhan.

Demikian pula Isa al-Masih, pasca penyalibannya diangkat Tuhan ke surga, kelak menjelang kiamat diyakini akan kembali turun ke dunia sebagai seorang messianic untuk menyelamatkan kehidupan. Di samping ide semitik mengenai Ratu Adil, tradisi Jawa dalam pewayangan maupun kehidupan praksis juga menggambarkan sosok Ratu Adil.

Prabu Parikesit disebut-sebut sebagai tokoh Ratu Adil dalam pewayangan Jawa. Ia mengamalkan ajaran Hastha Brata, inti dari wahyu Makhutarama. (h. 132). Sedang dalam tataran praksis, Ratu Sima di Kerajaan Kalingga mewakili tokoh yang santer diceritakan sebagai Ratu Adil. Ia adalah ratu yang terkenal sangat keras, adil dan bijaksana. Ratu Sima menghendaki semua rakyatnya menjadi orang baik dan jujur. (h. 173)

Menurut Otto Sukatno, kemakmuran dan keadilan masyarakat di bawah kepemimpinan Ratu Sima pasti sebuah proses sistemik. Ia juga menjadi proses panjang, renik, dan empiris. Pun sekaligus ia merupakan proses yang diskenariokan dan dicipkatan secara rasional, dengan perangkat elemen-elemen dasar melibatkan semua stake holder disertai etos kerja tinggi yang logis dan sistemik. (h. 175)

Kemakmuaran dan keadilan Ratu Adil tidak datang tiba-tiba, juga tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada proses dan usaha yang mesti dilalui disertai strategi budaya yang kompleks dan sistemik. Islam mengajarkan bahwa Tuhan tidak mengubah suatu kaum jika ia tidak mau mengubahnya sendiri.

Dalam tradisi masyarakat Jawa diyakini waktu siklik, yaitu sesudah zaman edan akan datang Ratu Adil yang menggantikan raja atau penguasa yang jatuh, meski “tata masyarakat” tidak berubah. Artinya, masyarakat tidak mengalami gegar budaya. Kehadiran Ratu Adil tidak mengakibatkan benturan nilai, transisi sosial, apalagi euphoria. (h. 37-38)

Ratu Adil menjaga dan memelihara tata keseimbangan kosmik. Sehingga manusia dengan alam kembali menjalin hubungan harmonis. Hingga akhirnya suasana yang ada hanyalah kedamaian, ketenangan, ketentraman, kerukukan, serta kestabilan.

Peresensi : Fatmawati Ningsih S.Th.I (Penulis Lepas, Alumnus IAIN Walisongo Semarang Konsentrasi Tafsir dan Hadis)

Editor : Nur Afilin

 

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top