Wednesday , 13 December 2017
update
Refleksi Pilpres Kita

Refleksi Pilpres Kita

Alkisah, ada seorang pemuda yang hendak pergi ke suatu tempat yang jauh dari tempat tinggalnya. Ia berpergian sendirian, tanpa kawan tanpa saudara atau sanak famili. Ia pergi hanya bersama seekor unta kesayangannya. Karena jauhnya jarak yang harus ditempuh, Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak didekat sebuah pohon besar. Unta kesayangannya berada didekatnya, namun ia lupa untuk mengikat tali unta pada pohon. Ia pun tertidur.

Ketika terbangun dari tidurnya, Ia kaget karena untanya sudah tidak ada didekatnya. Akhirnya pemuda itu mencari unta. Hingga sampailah ia di sebuah kebun. Terlihat di kebun tersebut, unta miliknya sudah terkapar meninggal dunia. Teramat terkejutlah ia melihat hal tersebut.  Beberapa waktu kemudian datanglah seorang kakek tua. Seraya si pemuda bertanya: “Siapa yang telah membunuh unta saya?”. Si Kakek menjelaskan bahwa ia membunuh unta milik si pemuda karena telah masuk ke kebun milik kakek tua dan merusak segala tanaman yang ada. Si pemuda marah dan  memukul si kakek tua hingga meninggal.

Pada pertarungan pemilihan presiden kali ini, kita menjumpai banyak sekali kampanye-kampanye berbau negatif dan saling menjatuhkan. Dari semua kubu capres-cawapres saling beradu statement. Media sosial menjadi salah satu “ladang” paling menggemparkan. Dimana banyak sekali kekreatifitasan dari masing-masing kubu untuk terus mengunggulkan calonnya dan menjatuhkan lawan.

Pemuda teramat menyesali perbuatannya. Ketika ia hendak pergi, datanglah dua orang anak dari si kakek tua. Melihat kakeknya meninggal, mereka tidak terima. Kedua anak dari si kakek ini kemudian membawa si pemuda ke seorang pemimpin arif di tempat itu. Mereka ingin mengadukan apa yang telah pemuda lakukan kepada ayah mereka.

Ketika sudah menemui pemimpin arif di tempat itu dan mengadukan apa yang terjadi, Sang Pemimpin berkata :” Melihat hal ini, tak ada kata lain kecuali selain hukum Tuhan.”  Hukuman yang dimaksud adalah hukuman ganti-rugi kematian, yakni pemuda itu juga harus dibunuh.

Selama masa kampanye, senantiasa bergulir isu-isu untuk terus mendiskreditkan calon dari kubu yang berseberangan. Semua isu yang dapat menjatuhkan selalu di gembar-gemborkan. Hingga pada akhirnya, tanpa disadari semua itu akan kembali ke masing-masing kubu.

Seperti dalam pepatah yang menyebutkan, menang jadi arang kalah jadi abu. Isu-isu negatif akan sama-sama merugikan kedua belah pihak. Karena dari isu-isu tersebut malah dapat menajtuhkan pamor dan kredibilitas kedua belah pihak.

Si Pemuda berkata: “Aku bersedia dihukum mati untuk menebus kesalahanku, tapi aku memohon untuk satu permintaan.” “Apa itu?” tanya Si Pemimpin. “Ijinkan aku kembali ke daerah asalku, kemudian tiga hari lagi aku akan kembali kemari. Aku harus menunaikan beberapa urusanku disana.”

“Kalau begitu, datangkan seseorang yang akan menjadi penjamin. Ketika tiga hari lagi kau tidak datang, kepala orang yang menjaminmu yang akan menjadi gantinya.” Kata Si Pemimpin. “Aku tak punya siapapun di tempat ini. Aku berpergian sendiri” jawab Si Pemuda.

Kemudian terdengar suara, “Kepalaku siap menjadi jaminan atas pemuda ini” kata seorang Pemuda, sebutlah namanya Abu. “Apakah kau yakin, Abu?” tanya Si Pemimpin. “Ya!” jawabnya tegas.

Ketika masa kampanye sudah lewat dan menjajaki masa pemilihan, dibutuhkan sosok presiden yang mau mengakui kesalahan. Memberikan pernyataan bahwa yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar. Tidak memutar balikkan apa yang sebenarnya terjadi. ketika pemungutan suara berlangsung, semua pihak sudah harus menyerahkan kepercayaan sepenuhnya kepada rakyat yang akan memilih mereka. Terlepas dari siapa yang menang nantinya.

Berdasarkan hasil hitung-cepat sementara, masing-masing pihak mengklaim bahwa mereka yang menjadi pemenangnya. Sahut bersahutan mereka saling deklarasi kemenangan. Mengutarakan kepada dunia bahwa merekalah Presiden Indonesia selanjutnya.

Pada pelaksanaan hari hukuman, si Pemuda belum nampak batang hidungnya hingga matahari hendak beranjak tenggelam. Abu pun tak kalah gugup pada waktu itu.

Hingga akhirnya nampak dari kejauhan seseorang berlari terengah-engah. Dan ketika sampai, dialah si pemuda itu. Semua yang hadir nampak keheranan melihat si pemuda ini.

Si pemimpin bertanya, “ Wahai pemuda, mengapa engkau memilih kembali ke tempat ini? Padahal bisa saja kau melarikan diri dan tak ada satupun orang yang tahu.” Pemuda itu menjawab, “ Wahai Pemimpin yang Arif, aku melakukan ini semua, agar manusia tidak beranggapan bahwa orang yang menepati janji di kalangan umat sudah tidak ada lagi.”

Dan di sini, ketika semasa kampanye sudah banyak berobral janji, maka haruslah pula bersedia segenap raga untuk memenuhinya. Karena janji itu bukan sesuatu yang dijual saat kampanye, tapi sumpah yang harus dilaksanakan.

Dibutuhkan presiden yang berani dengan lantang, mejadi garda terdepan dalam menunaikan segala apa yang telah ia janjikan sebelumnya. Menuntaskan apa yang telah dimandatkan kepadanya sebelumnya.

Si Pemimpin tertegun, lalu ia bertanya kepada Abu, “lantas wahai Abu, mengapa kau berani melakukan ini, padahal kau sama sekali tak kenal akan pemuda ini?” Dengan tegas, Abu menjawab, “Aku melakukan ini, agar manusia tidak beranggapan bahwa sudah tidak ada lagi orang yang berani berkorban dan prihatin terhadap saudaranya di kalangan umat.”

Dibutuhkan pula Presiden yang mau berkorban untuk orang banyak. Bukan sebatas ketiak masa kampanye saja. Tapi selama sepak terjangnya terekam, maka selama itulah ia harus senantiasa berani mendahulukan kepentingan orang banyak daripada dirinya.

Presiden yang mampu merasa senasib sepenanggungan dengan rakyat yang akan dipimpinnya. Makan bersama rakyat tidak sebatas ketika masa kampanye, tapi juga ketiak kelak menjadi seorang pemimpin atas negerinya.

Dan pada waktu itulah, anak dari Si Kakek berkata, “ Wahai Pemimpin yang Arif, maka perkenankan pada kesempatan ini kami memberi maaf kepada pemuda ini atas kesalahannya. Kami tidak ingin masyarakat beranggapan bahwa sudah tidak ada lagi orang yang mau memaafkan satu dengan lainnya di kalangan umat. ”

Hingga pada akhirnya dibutuhkan pula Presiden yang mampu legowo, menerima apa yang terjadi. berani mengakui bahwa ketika pada akhirnya KPU memutuskan ia kalah. Presiden yang mampu menjadi teladan dengan mengatakan keputusan KPU (22 Juli kelak) adalah keputusan rakyat. Apapun yang terjadi menerima dengan lapang dada.

Juga yang berani menyodorkan tangan, meminta dan memberikan maaf kepada rivalnya, entah dalam posisi menang atau kalah. Bersahabat kembali sebagai bukti bahwa didalam Bangsa ini, persatuan adalah harga mati.

Karena kami rindu akan pemimpin yang berani. Berani mengakui kesalahan, berani meminta maaf, berani dikritik, berani mengayomi.

Karena kami rindu akan pemimpin yang sederhana. menyederhanakan diri ketika berjumpa masyrakat. Merendahkan diri untuk menjadi abdi rakyat 5 tahun kedepan.

Karena kami rindu pemimpin yang mampu menjadi panutan kami di Negeri ini.

Entah Prabowo atau Jokowi, kami hormati keputusan final KPU 22 Juli nanti.

Entah Hatta atau Jusuf Kalla, kami akan tetap bangga menjadi sepenuhnya: Indonesia !

 

 

Penulis : Addin Hanifa, Staff Kementrian Luar Negeri BEM FISIP UNS
Editor : SCE

 

Leave a Reply

Scroll To Top