Monday , 10 December 2018
update
Resep Mendidik Anak Ala Rasulullah

Resep Mendidik Anak Ala Rasulullah

Judul: Cara Bijak Rasulullah dalam Mendidik Anak

Penulis: Nur Kholish Rif’ani

Penerbit: Real Books, Yogyakarta

Cetakan: I, Februari 2013

Tebal: 156 Halaman

Tidak bisa dipungkiri bahwa Rasulullah adalah manusia yang memiliki kepribadian unggul. Pola kehidupannya selalu menjadi panutan bagi umatnya, tak terkecuali tata cara mendidik anak. Setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah, bersih dari dosa, dan tidak pula mengerti tentang pengetahuan. Menangis hanyalah satu-satunya komunikasi yang dapat dilakukannya. Perkembangan tiap periode hidupnya tergantung pada bagaimana orangtua mendidiknya.

Hal ini sesuai dengan yang pernah disabdakan Nabi, “Tidak ada seorang bayi pun melainkan dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.

Tutur Nabi ini menegaskan bahwa orangtua memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan perkembangan anaknya. Hadirnya buku berjudul “Cara Bijak Rasulullah dalam Mendidik Anak” karya Nur Kholish Rif’ani ini merupakan sebuah ikhtiar bagaimana seharusnya orangtua mendidik anaknya.

Untuk menciptakan bibit anak yang berkualitas harus dipupuk dengan perilaku dan kepribadian orangtuanya terlebih dahulu. Para orangtua harus membekali diri dengan kualitas pribadi yang unggul. Hal ini diawali saat mencari calon suami atau calon istri, kemudia masa-masa anak dalam kandungan, hingga sang buah hati lahir ke dunia. Bekal yang harus dimiliki adalah memiliki semangat untuk menerima berbagai informasi. Semangat belajar inilah yang diharapkan nantinya terwariskan pada sang buang hati.

Resep pertama berupa do’a untuk calon anak, yakni sejak masih dalam tulang sulbi seorang ayah, masih berupa nuthfah, saat bayi akan lahir, hingga kehadirannya di dunia. Do’a atau permohonan pada Sang Ilahi merupakan senjata paling ampuh melawan dan menahan serangan dari musuh. Yang dimaksud musuh di sini berupa kebodohan. Selektif memilih tempat benih pun termasuk dari do’a fi’liyah (aksi-prilaku) seorang lelaki. Jika benih unggul dan tanah tempat benih pun unggul, maka akan tumbuh tunas yang unggul pula (hal. 37). Rasulullah selalu mendo’akan putra-putrinya sejak dalam kandungan hingga dilahirkan ke dunia.

Pada masa kelahiran hingga usia tiga tahun, anak membutuhkan banyak stimulan agar saraf-saraf di otaknya dapat berkembang pesat, sehingga melahirkan kecerdasan yang optimal. Masa-masa ini konsen yang diperkuat oleh anak adalah kemampuan perkembangan berkomunikasi, cara berpikir, dan cara bersosialisasi. Di dalamnya terjadi proses pembentukan jiwa yang menjadi dasar keselamatan mental dan moralnya kelak.

Proses ini diawali dengan memberinya nama yang baik. Setelah usianya bertambah, perhatian orangtua harus ditingkatkan. Hal ini penting mengingat orangtua sekarang terlalu sibuk pada kegiatan-kegiatan kerjanya, terlebih jika anak sakit membutuhkan perhatian yang ekstra. Dan yang tak kalah penting adalah menyusui anak hingga berusia dua tahun. Ini khusus para ibu yang menyibukkan diri dengan pekerjaan. Karena ASI sangatlah penting dalam proses pembentukan sel-sel kecerdasan sang buah hati.

Masa kanak-kanak juga merupakan masa pertumbuhan emosional anak dengan mulai belajar mencintai atau membenci sesuatu. Tugas orangtua membangkitkan dan mengarahkan potensi alamiahnya dengan menanamkan cinta pada Nabi Muhammad Saw. Cinta pada Rasulullah jelas merupakan wujud kesaksian setelah kesaksian pada Allah Swt. Rasa cinta ini akan memberikan dampak positif pada pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak selanjutnya (hal. 65).

Setelah usia anak menginjak pada tahun keempat hingga kesepuluh, tanamkanlah kejujuran yang murni berupa memberi contoh dengan perkataan yang jujur. Sikap jujur ini merupakan sumber pusat dari sifat kebajikan. Tindakan korupsi yang merajalela adalah tindakan yang tidak peduli pada kejujuran. Sikap lembut pada anak juga akan mempengaruhi pola pikir anak. Jika anak berbuat salah, nasihatilah dengan lemah lembut. Tahun kesepuluh, tuntun dan ajarkanlah anak untuk beribadah. Moral yang kokoh akan terbentuk sejak dini.

Dunia anak tidak akan lepas dari canda dan tawa. Rasulullah juga mengajak putra-putrinya bercanda. Diriwayatkan oleh Jabir “Saya menemui Nabi SAW, ketika itu beliau berjalan merangkak sedangkan Husain dan Husein sedang bercanda berada di punggung Nabi. Lalu Nabi bersabda, ‘Seganteng-ganteng orang adalah kalian berdua dan seadil-adilnya orang adalah kalian berdua pula” (hal. 149).

Oleh: Bangkit Riyanto (Pegiat Farabi Institute, Anggota CSS MoRA IAIN Walisongo Semarang)

Editor: Nur Afilin

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top