Wednesday , 15 August 2018
update
Rumah Sakit dalam Peradaban Islam (part 2)

Rumah Sakit dalam Peradaban Islam (part 2)

Rumah sakit dulunya dikenal dengan sebutan  bimaristan yang dalam bahasa persi berarti rumah pasien, dan tidak hanya dibangun permanen di pusat-pusat kota, namun selama era Saljuk Sultan Mahmud yang memerintah pada periode 511-525 H / 1117-1131 M terdapat rumah sakit keliling yang berupa konvoi sejumlah besar unta yang dilengkapi dengan alat terapi dan obat-obatan, dan disertai oleh sejumlah dokter. Konvoi ini berkeliling desa-desa terpencil, padang pasir dan pegunungan sehingga bisa mencapai setiap sudut negara Islam.

Di kota-kota besar, beberapa rumah sakit besar dibangun. Termasuk diantaranya rumah sakit Al-A’dudi di Baghdad yang paling terkenal, yang didirikan pada tahun 371 H, Rumah Sakit Al-Nuri di Damaskus, yang didirikan pada tahun 549 H/1154 M, dan rumah sakit Al-Mansuri di Kairo , yang didirikan pada 683 H/1284 M. Dan tercatat bahwa di Cordoba saja ada lebih dari lima puluh rumah sakit dibangun.

Beberapa rumah sakit besar dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan spesialisasi.  Ada bagian penyakit perut, operasi, dermatologi, oftalmologi, penyakit psikologis, tulang dan patah tulang, dan lain-lain.

Rumah sakit tidak hanya tempat untuk perawatan medis, tetapi juga menjadi tempat kajian bahan-bahan dasar komposisi obat. Seorang dokter spesialis memeriksa kasus-kasus di pagi hari ditemani oleh siswa yang berada di tahap awal studi medis . Dia mengajar mereka sambil memberikan catatan hasil pemeriksaan dan obat-obatan yang diresepkan, sementara mereka diminta untuk mengamati dan belajar. Kemudian dokter spesialis tersebut pergi ke aula besar mengajar siswa-siswa yang duduk di sekelilingnya, membaca buku-buku kedokteran, menjelaskan kepada mereka dan menjawab pertanyaan mereka. Materi dalam sesi pelajaran tersebutlah yang kemudian menjadi bahan  tes di akhir setiap masa pendidikan. Dan hasil dari tes tersebut adalah rekomendasi bagi para siswa untuk diterima bekerja dalam spesialisasi kedokteran.

Rumah sakit Islam mempunyai perpustakaan besar berisi sejumlah besar buku-buku farmakologi, anatomi, fisiologi, dan ilmu lainnya yang berkaitan dengan bidang kedokteran. Sebagai contoh, perpustakaan yang dimiliki Rumah Sakit Ibnu Tulun di Kairo. Perpustakaan ini lebih dari seratus ribu buku. Selain perpustakaan, Peternakan besar didirikan di dekat rumah sakit, di mana tanaman obat dan rempah-rempah ditanam untuk memasok kebutuhan bahan dasar obat-obatan rumah sakit.

Pada masa itu, Langkah-langkah preventif sudah diambil rumah sakit untuk mencegah infeksi. Pasien diminta menyerahkan pakaian mereka sebelum memasuki rumah sakit dan mengambil pakaian baru secara gratis dalam rangka untuk mencegah infeksi melalui pakaian yang mereka kenakan ketika mereka tertangkap penyakit. Setelah itu, setiap pasien memasuki bangsal khusus sesuai dengan penyakitnya, dan dia tidak diizinkan untuk memasuki bangsal lain untuk mencegah infeksi juga. Bahkan setiap pasien berhak atas sprei kasur yang baru.

Jika kita bandingkan antara rumah sakit tersebut dan rumah sakit yang didirikan di Paris beberapa abad setelah rumah sakit Islam didirikan, kita akan menemukan bahwa pasien rumah sakit di Paris dipaksa untuk tinggal di satu lingkungan, terlepas dari sifat penyakit mereka. Kadang-kadang, tiga atau empat atau bahkan lima pasien terpaksa tidur di satu tempat tidur. Jadi, Anda dapat menemukan pasien cacar tidur di samping pasien-pasien patah tulang atau di samping seorang wanita yang melahirkan. Selain itu, dokter dan perawat tidak bisa masuk bangsal tanpa mengenakan masker wajah untuk menghindari bau jamur dari bangsal mereka. Orang mati dipindahkan di luar bangsal duapuluh empat jam setelah kematian mereka. Kita bisa membayangkan bagaimana hal ini berbahaya untuk pasien lainnya.

Sumber  : islamstory

Editor     : Najmu Fuady

Leave a Reply

Scroll To Top