Saturday , 18 November 2017
update
Rupiah Tertindas

Rupiah Tertindas

muchamadBank Indonesia menyatakan nilai tukar rupiah belum menembus Rp 10.000 per dollar AS. Otoritas moneter ini menegaskan rupiah masih diperdagangkan di kisaran Rp 9.880 per dollar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Difi Ahmad Johansyah Selasa (11/6) ini menyatakan bahwa hari ini kurs rupiah dalam pantauan BI ditransaksikan dalam range Rp 9.830 – Rp 9.880 (per dollar AS) . Dia pun menyatakan Bank Indonesia sudah masuk ke pasar sehingga kurs rupiah ditutup pada level Rp 9.830 per dollar AS pada penutupan perdagangan Selasa.

Begitulah kabar terakhir mengenai semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Melemahnya rupiah juga diikuti dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Tercatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus merosot tajam belakangan ini. Kemarin, IHSG ditutup terjun 167,417 poin (3,50%) ke level 4.609,948 (Selasa, 11/6/2013).

Harga diri mata uang rupiah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) sedang runtuh. Pelemahan nilai tukar rupiah ini sudah berada dalam tahap yang mengkhawatirkan. Sebab nilai tukar rupiah saat ini sudah berada di atas asumsi dasar dalam RAPBN-P 2013 sebesar Rp 9.600. Asumsi itu pun merupakan hasil koreksi dari APBN 2013 sebesar Rp 9.300.

Atas dasar semakin melemahnya rupiah inilah yang menjadi salah satu alasan pemerintah ingin cepat menaikkan harga BBM (bahan bakar minyak). Memang kebijakan ini cukup menjadi salah satu cara agar rupiah tidak terus merosot. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan nilai tukar rupiah memiliki potensi untuk tergelincir ke level psikologis Rp 10 ribu. Dan kondisi ini akan mengakibatkan kapanikan di sektor pasar.

Sebab tercatat bahwa dari awal 2012 sampai sekarang Juni 2013, nilai
tukar rupiah terus merosot dari Rp 9.100 per dolar kini telah mencapai
pada level Rp 9.830 per dollar AS. Defisit neraca perdagangan dan jasa
yang berturut-turut mendorong pelemahan rupiah atas dollar AS. Kini
tekanan terhadap rupiah lebih disebabkan oleh utang yang makin besar,
melemahnya euro dan yen, tekanan inflasi, hingga makin membaiknya
perekonomian Amerika.

Oleh karenanya pemerintah semestinya lebih melihat penyebab lemahnya rupiah ke arah tersebut dengan cara menekan laju inflasi. Dengan mengoptimalkan kemampuan sector riil, dan menjaga keseimbangan dengan laju pertumbuhan sector moneter. Maka laju inflasi dapat ditahan dan mencegah laju gelembung balon ekonomi yang sewaktu-waktu dapat meletus. Hal ini juga dapat menekan laju impor agar tidak terus tinggi. Walaupun hal ini tidak mudah, dikarenakan pertumbuhan ekonomi Indonesia  yang di atas enam persen membuat supply melalui impor tak bisa dielakkan.

Namun setidaknya dengan mengoptimalkan kemampuan sektor riil laju inflasi dapat ditekan dan menjaga kondisi fundamental perekonomian di tanah air. Jangan sampai neraca pembayaran yang menjadi hal penting dalam menjaga keseimbangan kondisi fundamental perekonomian di tanah air terus mengalami defisit.

Sebagai catatan, pada kuartal I 2013, Neraca Pembayaran Indonesia mengalami defisit 6,6 miliyar dolar AS. Inilah yang mengakibatkan ketidakmampuan Indonesia membayar utang, sehingga asset-aset negara diobral. Investor asing pun berbondong-bondong panen. Tak hanya kehilangan asset-aset berharga. Karena utang yang terus membengkak, Indonesia juga kehilangan harkat dan martabat (dignity) sebagai negara berdaulat.

Jatinangor, 12 Juni 2013

Penulis : M. Syihabulhaq (Humas PD. KAMMI Sumedang)
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top