Tuesday , 16 October 2018
update
Saatnya Ibukota Negara Hijrah

Saatnya Ibukota Negara Hijrah

Jakarta kembali direndam banjir, sampai hari ini Pusat Kendali Operasi (Pusdalopas) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Mencatat sudah empat korban jiwa tewas. Seperti tahun-tahun yang lalu, wacana pemindahan Ibukota Negara dari Jakarta adalah isu lama yang selalu muncul setiap tahun saat Ibukota dirandam banjir. Wacana ini terkesan kurang mendapat perhatian serius sehingga tiap tahunnya selalu muncul sekerdar sebagai wacana yang bersifat reaktif. Menurut Sejarawan Anhar Gonggong, Ide pemindahan Ibukota negara sudah muncul saat zaman Presiden Soekarno. Seandainya tidak ada peristiwa pemberontakan pada 30 September tahun 1965, saat ini pusat pemerintahan Indonesia mungkin sudah berada di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Senada dengan ide Presiden Soekarno, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai, pemindahan ibu kota akan menimbulkan dampak positif maupun negatif bagi Indonesia. Jika Indonesia memiliki kota pusat pemerintahan yang baru, SBY yakin kondisi Jakarta akan jauh lebih baik. Meski ibu kota akan pindah, SBY mengatakan, Jakarta tetap akan berfungsi sebagai pusat ekonomi dan perdagangan. Presiden SBY terinspirasi dengan beberapa negara yang berhasil memindahkan Ibukota Negaranya dam memisahkan antara pusat ekonomi dan pusat pemerintahan. Seperti Malaysia yang memindahkan pusat pemerintahan ke Putra Jaya pada 1999 dan tetap menjadikan Kuala Lumpur sebagai pusat ekonomi. Serta turki yang memindahkan pusat pemerintahan ke Ankara sedangkan kota terbesar tetap Istambul.

Riwayat Banjir Jakarta

Saat meminta Simon Stevin merancang kota Batavia pada 1619, Jan Pieterszoon Coen memimpikan duplikat kota Amsterdam di Belanda. Sebuah kota yang dikelilingi parit-parit, tembok kota, lengkap dengan kanal. Sayang, hanya tiga tahun sejak dibangun, Batavia yang sempat dijuluki ”Venesia dari Timur” kebanjiran. Banjir juga terjadi pada 1654 dan sejak itu terus membesar. Kota yang dirancang Coen ini perlahan ditinggalkan.

Menurut catatan Restu Gunawan, sejarawan yang meneliti riwayat banjir Jakarta sejak zaman kolonial hingga sekarang, Batavia kembali kebanjiran pada 1895, 1899, 1904, dan 1909. Sejak itu, banjir di Batavia terus meluas seiring pembengkakan jumlah penduduk. Januari 1918, Batavia dilanda banjir hebat sehingga melumpuhkan aktivitas kota selama sebulan. Ternyata di bawah pengelolaan Belanda yang merupakan ahli dalam masalah pengairan pun Jakarta masih susah di tangan.

Saatnya Ibukota Negara Hijrah
Untuk Mengatasi masalah Banjir tahunan yang selalu melanda ibukota, serta merehabilitasi kota Jakarta agar lebih layak untuk dihuni, wacana pemindahan ibukota harus segera direalisasikan. Pemerintah harus lebih serius dalam membuat visi serta kerja-kerja riil dalam mengeksekusinya. Masalah Jakarta adalah masalah kelayakan, Keberadaan ibukota yang representatif merupakan sebuah kebutuhan primer bagi sebuah negara. Seperti yang disampaikan oleh Muhammad Nasih Pengajar Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, memiliki wilayah cukup luas untuk pengembangan pembangunan; tidak rawan bencana; memiliki infrastruktur memadai terutama jalanan yang luas, bandara, dan stasiun kereta api; dan berpotensi untuk didorong secara cepat memiliki universitas yang dapat menjadi pusat kekuatan sosial dalam masyarakat mengontrol kekuasaan.

Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha pernah menyampaikan bahwa “Telah ada suatu tim kecil secara informal yang bekerja untuk menimbang dari berbagai aspek jika sampai kepada putusan pemindahan ibu kota dari Jakarta,”. Statemen ini menunjukkan bahwa pemerintah pusat masih setengah hati dalam membahas kebijakan pemindahan pusat pemerintahan. Pembentukan tim informal untuk membahas pemindahan Ibukota negara adalah sebuah bentuk ketidakseriusan.

Semoga Pemerintah bisa lebih serius dalam membahas kebijakan pemindahan Ibukota Negara. Jikalau kita memaknai Pemindahan ibukota negara seperti hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Bukan hanya menitikberatkan pada perpindahan fisik saja, tetapi juga membawa semangat reborn, semangat perubahan kearah Indonesia yang lebih baik. Semoga perpindahan Ibukota negara menjadi titik tolak kebangkitan ke- tiga setelah momentum sumpah pemuda dan proklamasi kemerdekaan. Saatnya ibukota negara hijrah.

Penulis : Arif Syaifurrisal, Pegiat KAMMI Surabaya
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top