Saturday , 24 June 2017
update
Sakinah Itu Ada Di Sini

Sakinah Itu Ada Di Sini

Izinkan saya sedikit bertutur atas hal yang mungkin baru secuil saya dapati. Saya tidak sedang mengatakan bahwa saya sudah berpengalaman. Alangkah tergesanya sedang kehidupan pernikahan baru tiga setengah bulan saya arungi. Namun demikian, alangkah sayangnya jika sedikit ilmu ini tidak disampaikan karena ilmu yang baik, sepucuk apapun ia tetap mulia untuk disebar dan diamalkan.

Adalah saya menikah pada 28 Desember 2014 lalu. Baru? Ya, sangat baru ketimbang usia pernikahan ayah ibu kita yang berbilang puluhan tahun lamanya. Dimulai dari hal yang mendorong saya untuk menikah yakni keyakinan. Allah akan senantiasa memberikan jalan pada hambaNya yang berikhtiar pada kebaikan, itu hal yang saya sangat yakini. Dan lagi, saya yakin bahwa menikah adalah hal yang baik, ibadah dan banyak mengandung keberkahan lantaran kita mengikuti baginda Nabi Muhammad SAW. Saya niatkan menikah saya sebagai jalan menuju taubat. Saya sangat merasa banyak dosa dalam kehidupan yang Allah lah yang paling tau akannya. Maka itu menjadi salah satu niatan saya. Dan Alhamdulillah banyak sekali kesyukuran dengan langkah yang diikhtiarkan ini.

Menikah saya bukan tanpa halangan. Setiap pasangan pasti ada masing-masing tantangannya bisa soal internal keluarga, keuangan atau hal yang berkaitan dengan adat bahkan bisa jadi sumber tantangan itu. Alhamdulillah untuk halnya adat meski kami berasal dari dua suku yang berbeda yakni Minang dan Jawa-Sunda, Allah memudahkan langkah kami. Islam lah jalan yang kami ambil sehingga hal yang tidak prioritas yang di beberapa pengalaman orang lain menjadi masalah, bagi kami bukan masalah.

Awal kehidupan rumah tangga adalah masa yang unik bagi saya. Unik, kenapa? Padanya ada penyesuaian (adaptasi), pengenalan, pembelajaran hingga pengalaman lucu nan menggemaskan. Saya mengenal suami saya setelah saya menikah dengan beliau. Sebelumnya, perkenalan kami sebatas kami satu organisasi dakwah, berjuang bersama teman-teman lain di dalamnya, maupun saya dan beliau satu kampus. Setelah menikah, saya lebih mengenal beliau. Saya mulai mempelajari bagaimana laki-laki dan perempuan dalam menyikapi suatu hal. Aduhai, itu sangat berbeda dan unik. Dari suami saya, saya bahkan menjadi lebih mengenal siapa diri saya dan bagaimana karakter saya. Di awal pernikahan itu pulalah masa bagi kami untuk memetakan masa depan, mulai merajut benang yang Allah hamparkan pada diri dan sekeliling kami.

Setelah menikah bukan berarti tanpa masalah. Jika ingin lari dari masalah dan mengambil menikah sebagai jalannya, bagi saya itu kurang tepat. Bukan mutlak salah. Menikah bukanlah sebuah pelarian karena jika kita niatkan demikian maka menikah kita amat pendek napasnya. Masalah septar pernikahan terutama di awal pernikahan juga beragam. Sepengalaman saya, ini beberapa disebabkan oleh perbedaan kepribadian, beda jenis kelamin, itu sangat berpengaruh. Seperti yang telah saya baca di buku berjudul Men Are From Mars, Women Are From Venus karya John D. Gray, kedua sifat yang bagaikan kedua kutub ini memang rawan menjadi musabab masalah. Pun masalah tak besar seperti perbedaan kebiasaan makan, perbedaan kebiasaan menyimpan barang atau perbedaan selera makan jika tak disikapi dengan dewasa akan menjerat kita. Komunikasi, itulah kunci yang nampak mudah namun amat berbobot untuk dipraktikkan. Bukan hanya wanita yang ingin dimengerti, seperti lagu Ada Band. Lelaki pun berhak untuk mendapatkan hak dipahami dan ditaati, terlebih suami kita yang mana hak tersebut menjadi kewajiban buat kita (istri). Terkadang kita wanita yang gagap dalam mengkomunikasikan, lebih mudah membawa hal-hal ke perasaan sehingga keluarnya air mata kerap mendahului keluarnya kata-kata yang rapih. Jangan sepelekan persoalan komunikasi atau masalah kecil dalam  keluarga. Saran saya, selesaikan segala sesuatunya sebelum kita dan suami keluar rumah untuk beraktivitas. Ini saya ambil hikmahnya dari teladan suami saya yang senantiasa mengupayakan kerikil masalah agar tuntas sebelum kaki kita melangkah keluar rumah.

Setelah menikah jangan harap kita bisa egois. Saya belajar banyak untuk menata kembali kehidupan saya. Saya mematrikan dalam hati bahwa saya siap menjadi istri pun insya Allah menjadi ibu. Maka segala hal untuk terbaik di dalamnya sangat saya usahakan. Jangan heran jika awal pernikahan terdapat sedikit jet lag terhadap aktivitas, waktu dan rutinitas kita para istri. Mungkin ada kalanya kita merasa sangat kurang produktif saat tugas negara di rumah tiada habisnya kita kerjakan. Ada kalanya pula kita merasa kurang move on saat beberapa kegiatan yang biasa kita ikuti tetiba kita absen darinya. Berusahalah. Berusahalah untuk menempa diri lebih karena masa ini (pernikahan) menjadi kawah candradimuka yang akan semakin mengasah ketajaman kedewasaan dan profesionalisme kita sebagai wanita, istri dan ibu.

Tenang, tak semua dalam rumah tangga itu masalah. Justru bagi saya banyak menyenangkannya. Demikianlah salah satu tanda hadirnya sakinah dalam keluarga kita, insya Allah. Diawali dari jalan pernikahan yang baik, pemilihan pasangan atas dasar yang baik, hingga pengelolaan keluarga yang baik berlandaskan Allah. Bahagia saya setelah menikah tidak bisa ditukar dengan berbilang rupiah. Bahagia itu saya dan suami ikhtiarkan yang sesekali membuat kita prihatin, berjuang keras ataupun berbahagia atas kemudahan Allah yang tak disangka. Kebahagiaan karena ada di sisi kita seseorang yang menjaga, mengimami, mendoakan lebih, menjadi tempat saling berbagi, menjadi sandaran hati dan teman seperjuangan, menjadi pakaian buat kita, menasihati dan menegur kita, bersama belajar, menjadi seseorang yang paling layak kita taati, ya, kebahagiaan itu takkan mau ditukar dengan bongkahan emas sekalipun.

Siap menikah ya siap bahagia. Siap menikah itu siap belajar. Siap menikah bagi saya berarti juga siap jatuh dan bangun. Siap menikah bermakna siap untuk tidak egois. Siap untuk mewakafkan diri pada keluarga dan dakwah. Siap untuk lebih produktif dan kreatif. Siap untuk membaktikan diri pada suami. Siap menikah berarti siap untuk berletih lebih, berbahagia lebih dan lebih serta berdoa lebih.

Agar kehidupan berkah, mendapati suami/istri yang berkah, mendapati rezeki yang melimpah dan tak kalah berkah maka jangan lupa untuk senantiasa berucap doa Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wafil aa khirotii hasanah, waqinaa ‘adzaabannaar. Semoga kita menjadi keluarga yang bahagia di dunia dan akhirat. Insya Allah kita layak untuk itu. Aamiin..

 

*Disampaikan di Kajian Muslimah Cerdas LDK Al Fathih Sampoerna University 17 April 2015.

 

Leave a Reply

Scroll To Top