Tuesday , 21 October 2014
update
Sang Kiai : Teladan Perjuangan

Sang Kiai : Teladan Perjuangan

Jagad perfilman Indonesia pantas kembali berbangga. Di tengah maraknya film horor atau komedi bertabur nuansa seks yang kerap dihujani kritik, kini muncul satu tontonan yang bergizi. “Hadratussyaikh Sang Kiai” demikian judul lengkap film ini. Orang-orang banyak menyebutnya “Sang Kiai” saja. Film anyar garapan rumah produksi Rapi Film ini resmi diputar di bioskop mulai hari ini Kamis 30 Mei 2013. Seperti apa kisah dalam tontonan yang cocok menjadi tuntunan ini? Berikut sekilas alur ceritanya.

Adalah pesantren Tebuireng, Jombang Jawa Timur sebagai saksi munculnya tokoh pejuang kemerdekaan ini. Tokoh yang dimaksud ialah K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri ormas Islam terbesar di tanah air Nahdhatul Ulama (NU).  Bermula dari tahun 1942, perjalanan manis pahitnya perjuangan kiai dan para santri dimulai.

Kala itu Indonesia masih diduduki Jepang. Dengan dalih sebagai saudara tua, Jepang lambat laun makin berulah di bumi Indonesia. Tak terkecuali di daerah Jawa Timur. Menyadari hal itu, K.H. Hasyim Asy’ari bersikap tegas. Bahkan beliau menyatakan ritual seikerei (menghormati Dewa Matahari dengan cara membungkukkan badan) sebagai perbuatan syirik yang dipaksakan Jepang kepada rakyat Indonesia.

Dituding sebagai provokator, Jepang pun meringkus Kiai Asy’ari. Penangkapan ini berbuntut panjang. Beberapa nyawa melayang. Pesantren Tebuireng pun menjadi incaran Jepang. Merespon situasi ini, K.H. Wahid Hasyim (Gus Wahid) dibantu K.H. Wahab Chasbullah melobi pemerintah Jepang di Jakarta melalui petinggi Jepang yang Muslim yaitu A. Hamid Ono. Pasca negosiasi inilah, Kiai Asy’ari memilih strategi berpura-pura memihak kepada Jepang sehingga beliau dibebaskan. Ini dilakukan dengan pertimbangan maslahah mursalah alias kepentingan banyak orang, terutama umat Islam dan lebih khusus lagi warga NU.

Singkat cerita, setelah mendengar kabar Jepang menyerah kepada Sekutu bentuk perjuangan kemerdekaan para santri pun berubah. Sebagaimana diketahui Sekutu disinyalir kuat akan mengambil alih penguasaan Indonesia. Maka, tercetuslah fatwa “Resolusi Jihad” yang mendorong para santri keluar untuk langsung bertempur melawan Sekutu. Resolusi yang kemudian digaungkan oleh Bung Tomo ini akhirnya menjadi spirit perjuangan kuat rakyat. Pertempuran Surabaya 10 November 1945 adalah bukti mengakarnya fatwa Kiai Asy’ari ini.

Selain mengungkap sejarah peran santri dalam masa kemerdekaan Indonesia, drama cinta romantis nan Islami juga menghiasi film besutan Rako Prijanto ini. Di balik pemikiran besar kiai, beliau memberi teladan bagaimana membina rumah tangga yang baik. Pun demikian dengan Harun, santri Tebuireng yang akhirnya syahid meninggalkan sang istri yang tengah hamil.

Maka, tak berlebihan rasanya jika dikatakan film “Sang Kiai” ini bisa berfungsi sebagai tontonan sekaligus tuntunan. Darinya kita bisa menarik hikmah betapa tak mudah memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Sehingga, muara dari itu mestinya generasi muda sekarang malu jika nihil kontribusi dalam mengisi agenda membangun bangsa dan negara Indonesia.

 

Oleh: Nur Afilin

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top