Monday , 16 July 2018
update
Sang Pahlawan dari Bumi Jihad

Sang Pahlawan dari Bumi Jihad

Biografi Ayyash Al-Muhandis

Setiap orang memiliki sosok yang dijadikannya sebagai sumber inspirasi dalam menjalankan kehidupan. Karena sosok itulah yang nantinya akan membuat kita semangat dalam menjalani hidup. Sosok itulah yang membuat kita termotivasi untuk maju dan berkembang.Tak peduli rintangan, hambatan.Namun, ketika kita melihat inspirator kita, semangat itu seketika akan muncul kembali. Begitu juga aku yang memiliki banyak inspirator hidup sejak kecil. Mulai dari Bung Hatta, Habibie, sampai artis yang ada di TV pernah aku jadikan inspirator atau idolaku. Seorang inspirator adalah mereka yang rela mengorbankan kepentingan hidupnya demi kemerdekaan orang lain, demi kesejahteraan bangsanya.

Seiring dengan berjalannya waktu (aku duduk di kelas X) akhirnya aku mengubah inspiratorku yang tak hanya hebat di dunia namun juga memikirkan akhirat. Ketika itu isu-isu tentang sebuah negeri yang tiap hari jutaan nyawa meninggal dalam keadaan syahid. Lautan darah di mana-mana. Tak pandang bulu setiap orang dibom tanpa sedikit pun rasa belas kasihan. Dan aku baru tahu bahwasanya ada negeri yang bernama Palestina. Negeri yang mencetak jundullah-jundullah setiap harinya untuk berkorban demi tanah air tercinta. Pilihanku jatuh ke seorang syahid yang bernama YAHYA AYYASH. Mungkin ketenarannya kalah dengan Justin Bieber, Agnes Monica, atau siapa pun yang menjadi idola remaja saat ini. Tidak banyak yang tahu. Siapakah sosok Yahya Ayyash? Izinkan aku sedikit berkisah tentangnya.

Ia lahir di sebuah daerah yang bernama Rafah, tanggal 3 Maret 1966. Sosok yang mewakafkan seluruh hidupnya demi memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Yahya yang bermakna “hidup” dan Ayyash bermakna seseorang yang menjalani kehidupan yang panjang. Berhasil menamatkan pendidikan tingkat menengah di Rafah dengan nilai-nilai yang begitu cemerlang. Kemudian meneruskan pendidikannya di Beit Zeit University dan mendapatkan ijazah Electrical Engineering pada tahun 1988 ketika umurnya 22 tahun. Ayyash berkeinginan keras untuk melanjutkan program magister di luar Palestina namun rezim zionis menghalangi keinginannya. Akhirnya Ayyash memutuskan untuk berperan secara aktif di Bried Izzudin Al-Qassam.

Ayyash menuangkan segala ide dan kreatifitasnya dalam membuat dan merakit bom menggunakan bahan-bahan mentah yang mudah didapati di Palestina. Ayyash dipercaya sebagai orang yang bertanggung jawab dalam pembuatan ‘bom syahid” di Palestina.

Meskipun dikaruniai otak yang genius untuk merangkai bom-bom syahid di Palestina. Beliau adalah sosok yang rendah hati dan bersahaja dan tentu saja berjiwa sosial tinggi. Dia selalu mengatakan bahwasanya dia sangat cinta keluarganya, tetangganya dan tanah airnya. Dia hanya ingin menjadi orang yang berguna untuk negaranya. Tak perduli dengan apapun yang akan dihadapinya. Bahwasanya dengan keterlibatannya untuk melawan zionis, berjuta pasang mata akan mengatur strategi untuk membunuhnya, memusnahkannya, agar tak ada lagi orang genius yang menjadi dalang perakitan bom syahid di Palestina.

Zionis tak segan-segan membunuh warga Palestina ketika mereka sedang shalat berjamaah. Seperti kisah pembunuhan di masjid Al-Ibrahimi di Bandar Khalil. Tiga puluh orang warga Palestina dibunuh saat mereka shalat berjamaah. Seketika itu juga Ayyash bersama dengan Hamas merencanakan untuk membalas perbuatan zionis terhadap negara palestina. Akhirnya pihak zionis mengetahui dalang di balik proses pembalasan serangan itu. Yahya Ayyash menjadi predikat “ The Most Wanted” list rezim zionis. Tak tanggung-tanggung dia mendapatkan peringkat pertama dalam list tersebut selama 3 tahun. Karena menjadi buronan pihak zionis inilah, Yahya Ayyash selalu hidup berpindah-pindah selama 3 tahun. Bahkan untuk menyempurnakan persembunyiannya Yahya Ayyash melakukan penyamaran sebagai Rabi Yahudi. Selama bersembunyi, waktunya dia gunakan untuk melatih pemuda-pemuda Palestina merakit bom syahid dan membuat senjata yang bahan-bahannya mudah di dapat di Palestina.

Yahya Ayyash mempunyai azzam yang begitu kuat yang tertanam dalam dirinya. Karena kegeniusan yang dimilikinya dalam merakit bom. Zionis menyebutnya “The Engineer” atau yang lebih dikenal dalam bahasa Arab“AL-MUHANDIS”. Gelar Al-Muhandis selalu melekat di belakang namanya.“Ayyash Al-Muhandis” adalah sebutan yang mengakar kuat untuknya.

Tepatnya tanggal 5 Februari Ayyash Al-Muhandis dipanggil oleh Allah SWT. Akhirnya rencana zionis berhasil untuk memusnahkan seorang “Hero” untuk Palestina tercinta. Dengan meletakkan bom di dalam telepon bimbitnya. Pihak zionis yang bekerjasama dengan kenalan Ayyash untuk melancarkan strategi itu. Dengan berita kematian seorang HERO yang luar biasa yang dalam 7 hari dapat membunuh puluhan tentara zionis. Seorang HERO yang pandai mengatur strategi bersama sayap Hamas. Seorang HERO yang menjadi “otak” dalam pembuatan bom syahid di Palestina. Palestina dirundung duka. Palestina Menangis. Banyak yang merasa kehilangan sosoknya. Begitu banyak pengorbanan yang telah diberikannya demi satu tekad “Palestina merdeka”. Dialah Ayyash Al-Muhandis.

***

Itulah sedikit kisah mengenai salah satu inspiator dalam hidupku. Itulah sebabnya nama akun fb ini kuberi nama “Ayyash” .Kata pertama yang ada di akun Facebook ini. Nama ini sudah ada sejak aku kelas X. Dan ketika aku duduk di kelas XI mengikuti sanlat, ada seorang narasumber yang namanya mirip dengan nama akun FB ku. Dan ternyata kami memiliki inspirator yang sama. Berharap agar aku bisa meniru semangat dan azzamnya untuk membela negeri ini dari segala bentuk kemungkaran sesuai dengan kemampuan dan caraku sendiri.

Ini Inspiratorku…Siapa inspiratormu?

Dina Fauziah
Penulis bernama pena Ayyash Ibnu Sofian, Sekretaris Umum KAMMI Madani 2013/2014

Leave a Reply

Scroll To Top