Wednesday , 20 June 2018
update
Sang Pemusar Gelombang

Sang Pemusar Gelombang

pemusar“Hasan Al-Banna adalah rajulun qur’any atau manusia Quran, karena seluruh pemikiran revolusionernya datang dari Al-Qur’an yang dipelajarinya dan diyakininya. Umat Islam Dunia berutang budi pada berbagai terobosan Al-Banna yang mengejawantah dalam al-Ikhwan al-Muslimin. Sampai sekarang.”

(Prof. Dr. H. M. Amien Rais)

Judul                     : Sang Pemusar Gelombang: Sebuah Novel yang Berpusar pada Perikehidupan Syaikh Hasan Al-Banna

Penulis                 : M. Irfan Hidayatullah

Penerbit              : Salamadani

Cetakan               : Juli 2012 (Cetakan I)

Tebal                     : xviii + 502 halaman

ISBN                      : 978-602-84-5895-5

Hasan Al-Banna. Pria asal Mesir yang satu ini memang manusia biasa. Namun, dia berhasil melampaui kebiasaan masyarakat di masanya. Alhasil, kini namanya masih dikenang oleh banyak kalangan di penjuru dunia. Corak pemikiran dan gerakan pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin itu juga menginspirasi banyak gerakan Islam di banyak negara. Maka, mempelajari seluk beluk pemikiran dan kiprahnya semestinya menjadi sebuah agenda bersama. Terlebih saat ini faktanya peran Islam dalam mengatur segala dimensi kehidupan banyak tercerabut.

Sayangnya, selama ini kita lebih sering menjumpai sejarah Hasan Al-Banna dalam naskah yang terkesan berat. Mungkin saja bagi sebagian orang membaca naskah tersebut akan membosankan. Melihat celah ini, M. Irfan Hidayatullah dengan cerdas memilih genre novel demi mengisahkan kembali perikehidupan pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) itu. Di sinilah kelebihan pertama sebuah karya sastra dakwah (meminjam istilah Habiburrahman El Shirazy) buah tangan Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat 2005-2009 ini.

Ada tiga tokoh yang agaknya menjadi sentral cerita dalam novel ini: Hasan, Randy, dan Cikal. Meski berlatar belakang berbeda, ketiganya memiliki satu kesamaan, yakni “terpengaruh” pemikiran Hasan Al-Banna. Awal, tengah, dan akhir perjalanan ketiga tokoh ini pun menjadi menarik disimak lantaran unsur kesamaan itu menjadikan mereka memiliki saling keterkaitan satu sama lain. Khusus untuk Randy dan Cikal keduanya nanti akan sama-sama berperan besar dalam aksi solidaritas Palestina dalam novel ini. Sedangkan Hasan akhirnya mendapat banyak asupan tentang sosok Hasan Al-Banna dari Randy.

Kehadiran tokoh Maryam yang digambarkan sebagai aktivis dakwah solehah nan cerdas jelita menambah suasana novel yang lazimnya menyinggung ihwal cinta ini makin hidup. Namun jangan harap percintaan dalam novel ini akan sevulgar novel kacangan. Hemat saya, justru kisah cinta dalam novel ini memberikan satu pelajaran penting bagi kita. Pelajaran tentang memahami cinta sebagai anugerah suci dari Ilahi yang mestinya tidak dikotori.

Diawali dari fragmen cerita Randy Al-Banna, si aktivis dakwah kampus yang ngefans dengan Hasan Al-Banna. Ia senagaja mencatut nama belakang itu demi menjadi sugesti positif bagi dirinya. Dilahirkan dari klan keluarga kaya raya, Randy memilih bebas dari hedonisme dan materialisme yang bercokol di benak sebagian besar anggota keluarganya. Tak ayal sikapnya itu mengundang kontroversi di kalangan keluarga besar Danujaya. Namun, Randy tetap gigih pada prinsip dan bertekad membuktikan kebenaran pilihannya.

Berlanjut kepada sekilas tentang Hasan Al-Banna. Ya, Hasan Al-Banna. Dalam novel ini, selain sebagai nama tokoh Islam, nama tersebut  juga menjadi nama lahir dari seorang pemuda yang sempat tersesat dalam paham Komunis-Marxis. Beruntung naluri muda kemudian menggiring Hasan melakukan pencarian akan identitas dirinya yang asli. Sejak awal, ia yang tumbuh dewasa sebagai yatim piatu itu heran kenapa namanya sama dengan nama seorang tokoh pembaharu Islam fenomenal. Jawaban akan pertanyaan batin itu akhirnya mengantarkannya pada satu cahaya terang.

Lain lagi dengan Cikal, sang vokalis grup band ternama The Soul. Di tengah puncak karirnya sebagai musisi, Cikal justru mengalami frustrasi. Ia galau dengan apa yang selama ini dijalaninya. Dengung kalimat demi kalimat dari teman sekampusnya yang seorang akhwat membuat hidupnya tak tenang. Rentetan “teror” sang akhwat itu kemudian menjadi perantara Cikal bertobat.

Sedangkan Maryam adalah seorang akhwat aktivis dakwah kampus yang menjadikan hidup Cikal sang selebritis itu lepas dari keglamorannya. Nasihat dan sindiran Maryam yang selalu terngiang dalam benak Cikal ternyata tak hanya berbuah hidayah, tetapi juga perasaan fitrah dari Cikal. Ya, Cikal kemudian menaruh hati kepada Najwa (bahasa Arab: bisikan). Cikal menyematkan julukan itu karena nasihat Maryam yang selalu menjelma menjadi bisikan-bisikan dalam hatinya.

Maryam pula yang dalam novel ini dikisahkan sempat membuat gelisah hati Randy. Beruntung kemudian Randy masih mampu menahan diri dan tetap berjalan sesuai track yang diyakini. Meski begitu, tak bisa dimungkiri, Randy belum bisa menghapus sepenuhnya kelebat bayang akhwat itu. Dan Maryam pun mampu menunjukkan teladan luar biasa. Karena tiada maksud dirinya untuk tebar pesona, ia berhasil istiqomah hingga akhir kisah. Ia tetap berkontribusi dalam dakwah sebagaimana mestinya tanpa terganggu dua pria yang mengaguminya.

Lalu, dimana kisah Hasan Al-Banna sesungguhnya? Dengan apik, Irfan menyelipkan sejarah, pemikiran, serta kiprah Hasan Al-Banna dalam beberapa bagian novel ini. Kisah sang imam mulai dari masa dakwah di kedai kopi hingga tragedi pembunuhan yang mengantarkannya menjadi seorang syahid (insya Allah) diurai menyatu dengan perjalanan kisah tokoh-tokoh dalam novel ini. Bahkan beberapa kali kutipan perkataan Hasan Al-Banna pun turut menghiasi tanpa merusak citarasa sastra.

Satu hal lagi yang menarik, menurut saya, ialah adanya sosok adik Randy yang bernama Gilang. Dari bab “Kutub yang Berbeda” yang menceritakan dialog antara kakak beradik itu kita bisa belajar banyak hal. Meski satu darah, Gilang memiliki prinsip yang berseberangan dengan si kakak. Menariknya, keduanya tetap akur lantaran keduanya sering berdialog bahkan berdebat mengenai banyak hal. Dengan paduan perspektif rasionalis dan sekularis, Gilang kerap “menyerang” Randy. Namun, Randy yang banyak tercerahkan dengan keutuhan pemikiran Hasan Al-Banna dan banyak tokoh Islam kontemporer lainnya dengan tangkas bisa balik “menyerang”. Dari bagian ini, saya pikir penting bagi kita sebagai aktivis dakwah untuk bukan hanya memahami ayat-ayat Al-Qur’an, melainkan juga memahami logika berpikir orang lain sekaligus menguasai banyak bidang lain.

Akhirnya, membaca karya fiksi islami ini adalah penting menurut saya. Selain bisa mendapatkan gambaran tentang Hasan Al-Banna, kita juga memperoleh pelajaran kehidupan lainnya yang tak mustahil akan kita hadapi nanti. Selamat membaca dan menyelami kisah penuh hikmah. Semoga kita terinspirasi untuk melakukan kerja besar demi kemajuan agama, nusa, dan bangsa. Aamiin. (Nur Afilin)

Pancoran, 13 November 2013

 

Leave a Reply

Scroll To Top