Saturday , 18 November 2017
update
Satu Langkah, Untukmu

Satu Langkah, Untukmu

Pagi. Senin yang membosankan. Rutinitas kembali dikerjakan. Ke sekolah dan bertemu teman-teman yang lainnya. Terik matahari setelah kemarin sore hujan menurunkan banyak air. Ini giliran sinar matahari yang menyengat.

Di lapangan upacara, kaki berbaris seperti ikan yang dipanggang. Aku teringat dengan ikan yang kami panggang kemarin. Mungkin inilah sedikit rasa panasnya. Cairan dalam kepalaku seperti mendidih bak air yang ibu masak setiap sore untuk dijadikan air minum.

Hari  ini Adit tak masuk sekolah. Apakah dia punya masalah lagi seperti dulu ketika kami punya janji keramat dengan ibu Yani? Mungkin saja. Seperti adat istiadat, aku bertanya kepada Adil dan Anam untuk mencari kabar Si keras kepala. Mereka berdua pun menggelengkan kepalanya. Baru saja masalah Adil kami selesaikan, kini muncul masalah kembali. Aku berfikir demikian.

“Nan, nenek Adit meninggal jam 09:00 tadi pagi,” kata ibu saat baru kuletakkan tas di atas meja belajarku.
Aku terhentak mendengarnya. Seolah waktu di dunia terhenti seketika. Tak ada bunyi di sekelilingku. Diam. Hanya aku yang bisa bergerak. Tanpa komentar aku berhambur keluar menuju rumah Adit.

Sampai di sana kutemukan anak bantat itu sedang duduk di belakang rumah. Dia diam tak  seperti biasanya. Di sampingnya kulihat sudah ada Adil dan Anam. Aku menepuk pundaknya sambil berkata, ‘Apa yang berasal dariNya, akan kembali padaNya pula, Boy,’ kuharap ini sedikit melapangkan dadanya.

Namun, ia tak bergeming seolah berada di dunia lain, dunia yang berbeda dari dunia kami bertiga. Aku mengerti ini pukulan telak untuknya. Benar-benar telak menjatuhkan semangatnya. Aku tahu betapa nenek yang ia cinta adalah nenek yang membesarkankannya saat ditinggal ibunya sejak ia kecil untuk berdagang.

Di hari keduanya pun begitu. Ia tak masuk sekolah kembali. Kami sekelas mengerti dengan keadaannya. Ia harus mengurusi semua kegiatan yang nenek kerjakan. Saat kami ke rumahnya, ibu Adit berkata  bahwa mereka akan pindah ke rumah tante mereka di luar kota Lampung. Adit harus melanjutkan sekolah maka ia bersama keponakannya di sana agar tetap melanjutkan sekolah. Tak perlu lagi sudah ia membantu untuk membanting tulang. Sudah hampir satu minggu Adit tak bersama kami. Terdendang di telingaku sebuah nyanyian perpisahan.

Tak mampu melepasnya walau sudah tak ada
hatimu tetap merasa masih memilikinya
rasa kehilangan hanya akan ada
jika kau pernah merasa memilikinya

Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
rasa kehilangan hanya akan ada
jika kau pernah merasa memilikinya

Rindu, Kawan, rindu sekali. Patah hati ini. Aku seperti tak ikhlas melepaskan Adit meninggalkan kami. Tak ada lagi sendau guraunya yang memperolok Anam dan tebunya. Tak ada lagi jagoan yang menuntun kami kepasar. Tak ada lagi sosok yang memunculkan ide–ide gila. Tak ada lagi yang mencairkan suasana dan yang menyemangati tiga pentol korek api ini. Aku kehilangan setengah hatiku, setengah hati yang dibawa pergi oleh Adit. Setengah hati kami yang hilang bersama keperihan Adit.

Kami rindu pergi memancing bersama, ditimpa hujan bersama. Melunasi janji keramat yang belum sempat ia bayar kepada bu Yani. Aku benci Kawan, aku benci jika Adit tak ada di sisi.

Kurobohkan badanku yang kaku dan mataku yang memerah menahan peluh. Kupandangi atap kamar sambil mengingat memori bersamanya, Adit, engkau memang gumpal tapi aku tak akan pernah sedikit pun menyela hatimu yang besar. Kau pahlawan kami saat kami terdesak. Kawan,tak ada lagi kata-kata ‘Boy’ yang terdengar khas dari mulut kecilmu. Aku rindu memecahkan sandi-sandi kehidupan bersama otak berlianmu. Aku rindu semangat yang membakar dada ini. Napasku terputus-putus Dit, aku tak bisa menahan air mataku membasahi bantal ini. Aku susngguh-sungguh tak ingin kehilanganmu. Aku berani menukar apa saja- yang aku miliki asalkan kau kembali pada kami. Kita akan kembali memancing Boy, kita akan jadikan Anam bulan-bulanan kita

Seperti kuku yang terlepas dari jari
Seperti luka tersiram garam
laksana karang terpental karena ombak yang ganas
perahu-perahu terombang ambing karena ombak lepas
aku kehilang jiwa yang bebas
saat menyadari  tak ada lagi dirimu yang indah

Terkadang aku mengisi reluang hati dengan mengingatmu
terkadang pula ku tambali dengan cerita lain
bahkan aku pendamkan cerita bersamu disamudra sana
namun..
tak akan pernah kulit yang terluka akan kembali seperti semula
bahkan saat semuanya akan menjanjikan keindahan yang tiada tara
karena kau adalah semuanya
semua yang pernah ada dan semua yang pernah kurasa

SURAT DARI ADIT  

 Untuk : Sahabat-sahabat Eiffelku 

Ini kehidupan, Boy. Tak usah kalian risaukan nasib anak pasar ini. Kita hanya berbeda cara untuk bertemu di bawah Eiffel. Aku berjanji kepada kalian walau kering kerontang badan ini, aku pasti datang di malam saat kita di Paris. Kita akan  menceritakan cara masing-masing menggapainya, Boy.

Anam, sampaikan maaf untuk tebumu, Kawan. Maaf untuk olok-olokan yang sering aku lakukan. Kau mau tau Boy kenapa aku lakukan itu padamu? Karena kau paling bengal di antara kami semua. Sebelum kau dimarahi dunia, diolok-olok lingkunganmu, maka aku mengambil inisiatif untuk melatih pertahanan emosimu. Kau lulus dengan nilai sempurna. Jangan kau tinggalkan tebumu karena terkadang kau pintar bukan main karena sari tebu keras itu.  

Adnan, aku tahu kau yang paling cengeng di antara kita, Boy. Kau seperti perempuan yang dipingit, kau lebih peka daripada bunga putri malu. Jangan kau risaukan jarak kita, teguhkan hatimu, kita akan pergi memancing bersama lagi . Masih ingat dengan janji keramatku dengan Ibu Yani? Akan kubalas tuntas, Boy, bukan hanya lima besar di kelas namun aku akan menjadi lima besar juara dunia Fisika.

Pak Ketua yang bijaksana, Adil. Terkadang kita tak bisa menyembunyikan masalah, Boy. Kau harus ceritakan pada kami. Tak perlu kau risaukan, masalah apapun kami terima. Tak perlu kau harus telan sendiri.  

Kuresapi nafas yang mengalir lembut indah
tak terasa seperti tak berguna
mengalir lirih terkadang begitu sunyi
sunyi namun berarti
itulah kalian
tak pernah kurasa berarti saat bersama
namun menghujam hati ketika kalian berdiri jauh disana

kalian perlu sedikit keras kepala sepertiku, Boy, karena hanya orang keras kepalalah yang masih berani menggali sumur di padang pasir. 

-Salam Manis Adit-

Ada kehilangan yang luar biasa yang kurasa. Aku berada seolah tak di dunia ini. Setelah pulang sekolah kami terbiasa bersama, tidak untuk hari ini. Kami bertiga masih merasakan timpang dalam otak ini, tak waras. Sesekali kami latah menunggu kedatangan Adit yang sebenarnya ia sudah pergi.

TAMAT

Kubuka gorden kamarku, terdengar penjual roti keliling yang bersaut-sautan. Aku masih belum terbiasa dengan suasana ini. tak ada embun di jendela kamarku. Yang ada hanya debu-debu hasil produksi kendaraan beroda. Bagaimana tidak? Inilah ibukota, kota tersibuk di Indonesia. Telah lama kutunggu dan kuresapi keadaan di mana aku akan melanjutkan studi keluar daerah dan meraih cita-cita lainnya. Termasuk ke Paris, Perancis.

Hari ini kukirim pesan singkat untuk Anam dan Adil bahwa aku telah masuk kuliah. Inilah hari pertamaku.  Adit, entah kau berada di mana, Kawan. Namun, benar perkataanmu, aku harus sedikit keras kepala untuk terus melanjutkan mimpi-mimpiku. Waktu yang sangat singkat dan mimpi yang sangat indah bisa mengulas memori tentang kalian semua, Kawan-Kawan Eiffelku.

Penulis : Anton Nuari (Paramadina University, Human Empowerment Staff of KAMMI Madani)
Editor : SCE

One comment

  1. ditunggu ceritA2 BERIKUTNYA… :)

Leave a Reply

Scroll To Top