Monday , 21 August 2017
update
Satu Tahun Gerakan Subuh Jamaah Nasional, FSLDK Indonesia Serukan Kebangkitan Islam

Satu Tahun Gerakan Subuh Jamaah Nasional, FSLDK Indonesia Serukan Kebangkitan Islam

Solo – Sabtu (1/10), bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1438 H, FSLDK Indonesia telah genap satu tahun menyelenggarakan Gerakan Subuh Jamaah Nasional (GSJN) yang digelar serentak di berbagai titik penjuru Indonesia setiap bulannya. Gerakan Subuh Jamaah Nasional, atau akrab disingkat GSJN, adalah satu gerakan yang dilakukan untuk menekankan keistiqomahan dalam menjalankan sholat subuh berjamaah, dimulai dari civitas kampus sebagai representasi kaum intelektual di masyarakat.

 
Bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, FSLDK Indonesia mengusung tema “Bangkit untuk Berjaya Membangun Peradaban Indonesia”. Tema yang diangkat masih berkaitan dengan tema saat diluncurkannya gerakan pada 25 Oktober 2015, yaitu “Dari Masjid Peradaban Indonesia Bangkit”. Dimana masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi juga menjadi tempat diambilnya keputusan-keputusan besar, tempat para sahabat menimba ilmu, juga tempat dimana musyawarah dan interaksi sosial dilaksanakan pada awal mula Islam berkembang.

 
GSJN ke-13 kali ini diselenggarakan di 36 titik di Indonesia dengan lebih dari 40 masjid kampus yang ikut serta. Mulai dari Aceh hingga Papua, di antaranya Masjid Kampus Universitas Bangka Belitung, Universitas Mulawarman, Universitas Negeri Gorontalo, STIKES Waluya Mandala Kendari, dan Masjid Besar Salman ITB Bandung. Jumlah tersebut adalah jumlah terbanyak selama satu tahun penyelenggaraan GSJN.

 

Hadirnya lebih dari 3.000 jamaah dalam GSJN kali ini menunjukkan kembalinya antusiasme jamaah, mengingat terjadi fluktuasi jumlah peserta dari bulan ke bulan. Bahkan ada beberapa peserta dari luar kota turut hadir dalam acara ini meski hujan terjadi di daerah Soloraya. Pelaksanaan GSJN di Solo sendiri berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp 7 juta yang nantinya akan diserahkan kepada Muslim di Palestina melalui Komite Nasional Rakyat Palestina (KNRP).

 
“Grafik menunjukkan bahwa jumlah peserta/jamaah GSJN di semua masjid penyelenggara terjadi fluktuasi di tiap bulannya selama setahun ini. Tinggi pada awal di-launching-nya, sempat turun, naik lagi di pertengahan, dan saat ini mulai naik lagi. Inilah yang akan tetap kita pantau, keistiqomahan menjadi poin yang harus dimiliki oleh seorang aktivis muslim,” tutur Hanafi Ridwan Dwiatmojo, Ketua FSLDK Indonesia, dalam sambutannya di GSJN yang diselenggarakan di Masjid Nurul Huda UNS.

 
“Kita berharap suatu saat nanti gerakan Subuh jamaah ini berjalan sebagai sebuah kebiasaan, sebagai sarana mencetak para pemimpin besar bangsa ini. Mohon doa kepada semuanya agar 15 hingga 20 tahun ke depan kami siap memimpin Indonesia. Saatnya berproses untuk bangkit. Bangkit untuk berjaya, membangun peradaban Indonesia,” tekan Hanafi atas gerakan ini dalam sambutannya.

 
Hanafi menambahkan bahwa saat ini dibutuhkan dukungan dari para asatidz, rektor, pimpinan perguruan tinggi, dan umat Islam pada umumnya. Upaya pendekatan kepada ormas keislaman, pemerintah, komunitas, dan takmir masjid-masjid di luar kampus terus dilakukan oleh FSLDK Indonesia dan FSLDK di masing-masing daerah agar kegiatan sholat Subuh berjamaah bisa turut dilaksanakan sehari-harinya di luar masjid kampus.

 
“Kegiatan GSJN ini merupakan salah satu cara kita untuk menguatkan iman. Karena sering kali kita dihadapkan oleh aktivitas dunia yang melenakan. Untuk menyiapkan kita menjadi generasi yang membanggakan, iman kita perlu ditingkatkan,” ujar Dr. M. Muchtarom pada pembukaan GSJN di Masjid Nurul Huda UNS.

 

FSLDK Indonesia

Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top