Wednesday , 20 June 2018
update
Sayap-Sayap Mimpi (1)

Sayap-Sayap Mimpi (1)

Malam terasa mengerikan. Aku berjalan cepat-cepat melintasi jalan kampus yang mulai senyap, sendirian. Napasku yang menggumpal tampak melayang sesaat, kemudian menguap di udara yang mulai dingin. Angin yang menyerbu tampaknya terlalu beku sehingga aku gemetar meskipun jaket Rohis SALAM yang kupakai terlampau tebal. Hanya lantunan Asmaul Husna dengan merdu berkumandang dari headset yang menempel di telingaku, membuatku sedikit tenang walau kegelapan di sekelilingku tampak menyeringai menunjukkan taring.

Aku menengadah ragu, cemas. Langit tetap sehitam jelaga sejak aku meninggalkan kampus lima jam lalu, seakan ia hendak menangis. Tak satupun bintang berani menampakkan dirinya. Bulan purnama berusaha mempersembahkan cahaya terbaiknya meskipun sekawanan awan gelap membingkai tepinya, pemandangan yang fantastik namun menggentarkan.

Malam ini aku pulang tergesa-gesa, persis malam-malam sebelumnya yang melelahkan dan menyisakan milyaran tugas kuliah. Beban berton-ton menggelayuti pikirku. Dalam sekejap, secepat perpindahan foton, perasaanku terhadap kota ini berjungkir 1800. Kulirik sejenak bangunan besar berkubah di ujung sana, tampak mengesankan karena setiap sisi tersamarkan kegelapan. Temanku yang lain mungkin sedang shalat Isya berjamaah di sana, setelah menuntaskan tugas kelompok, tapi aku berpaling, tak tertarik. Boleh saja semua orang di dunia menganggapku aneh, tapi ada beberapa alasan logis sehingga aku tidak pernah lagi shalat berjamaah di tempat itu.

Hal pertama yang selalu sukses membuatku merasa terasing di antara spesies-spesies rohani ini adalah, mazhab yang mereka anut berseberangan dengan keyakinanku. Di dunia nyata, aku selalu menghargai perbedaan dan aku bukanlah seorang yang gemar memilah-milah golongan. Perbedaan itu wajar, asalkan tidak keterlaluan, dan seharusnya ini bukan masalah besar jika saja mereka tidak memaksaku terjerumus dalam ritual miring mereka. Mereka kerap memaksaku begini dan begitu. Betapa tidak, tatacara Shalat yang mereka amalkan aneh. Bacaan Al-Quran banyak yang salah, tak sesuai panjang pendeknya, atau tasydid yang tidak pada tempatnya. Ada beberapa orang yang bacaannya lebih bagus tapi lebih memilih jadi makmum. Jadi jika bacaan si imam salah mereka pun asal ikut saja, tanpa sedikitpun memberi teguran.

Kini aku terjebak di sini. Ada semacam pertempuran dalam kepalaku, dentuman-dentuman yang memaksaku untuk sadar bahwa ada yang tidak beres dengan orang-orang ini. Perasaan kesal tak tertahankan yang kupendam bagaikan gunung berapi yang siap memuntahkan magmanya. Trilyunan nasihat yang kuluncurkan ke jantung mereka tak pernah mempan karena makhluk-makhluk bodoh yang merasa dirinya tinggi ini telah membentengi akal mereka dengan berbagai dalil dan hadits-hadits palsu. Sialnya, filsafat kaum minoritas ini terlanjur meracuni penduduk sekitar yang semula bermazhab netral dengan ajaran-ajaran yang menyimpang dan cepat menular.

Jika ditanya tentang sumber, mereka selalu berdalih kata ustad saya. Ustad bilang begini dan begitu. Aku tak habis pikir, sebenarnya siapakah penipu yang lihai memerankan tokoh ustad ini. Ketika kuselidiki, ternyata orangnya biasa saja, sama sekali tidak berilmu dan tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Seperti ustad dadakan yang hanya mengusung popularitas dan sering bergentayangan di televisi. Ada lagi yang ustadnya canggih, berotak encer, mengetahui semua informasi tapi tak bisa membedakan mana yang benar atau salah, yaitu Mbah Google. Mereka mengunduh artikel-artikel islami berlandaskan hadits-hadits yang padahal belum tentu benar, lalu seenaknya dijadikan pedoman hidup. Mereka malah menuduhku yang seorang lulusan pesantren sebagai pengikut ajaran yang salah. Mereka bilang ajaran pesantren hanyalah ilmu usang, kuno, tak berguna, dan tidak layak disandingkan dengan ilmu agama kontemporer yang mereka anut. Betapa tragis. Aku tak percaya hidup di dunia yang seperti ini.

Kadang aku termenung sendiri, sedih mengingat para ulama yang di zaman ini mulai berkurang. Yang menjamur hanyalah manusia berotak kosong yang sok pintar dan merasa benar, membuat fatwa tanpa ilmu, mengarang hadits-hadits palsu. Para Kiai di pesantrenku sudah memperingatkan akan hal ini. Ulama adalah pewaris para Nabi. Kitab-kitab yang mereka tulis bukanlah sekadar karya tanpa makna, meskipun orang-orang zaman sekarang menuduh isinya bid’ah semua. Padahal para ulama bukan orang bodoh. Mereka lebih paham mana yang bid’ah atau bukan. Mereka sudah belajar puluhan tahun, lebih lama daripada ustad-ustad dadakan yang belajar secara instan lewat buku-buku modern tanpa adanya pembimbing, yang cukup bermodal buletin saja sudah merasa paling ustad. Jelas para ulama lebih paham, dan buah pikiran yang mereka tulis di kitab-kitab kuning adalah hasil syuro dengan ulama lain, tidak mungkin asal mencetuskan fatwa seperti perkiraan banyak orang.

Namun ada hal lain yang mendorongku agar segera pindah dari fakultas ini. Masalah perbedaan madzhab hanya problem kecil jika dibandingkan dengan problem yang satu lagi. Masalah terberat yang tidak memberiku pilihan selain meninggalkan fakultas atau bahkan universitas ini. Aku berpaling. Malam ini aku menggendong ransel menjauh dari kemegahan UI yang susah payah kudapatkan, seraya berjalan gontai menuju Terminal Rambutan tanpa menoleh lagi.
******

“Cita-citaku adalah menghancurkan Israel!” ucapku lantang. Para peserta seminar terperangah, panitia yang memintaku maju ke panggung ikut tercengang. Mereka menatapku lekat-lekat seakan tak percaya yang kukatakan. Aku agak malu, tapi aku tak menyesal dengan perkataanku. Aku ingin seperti Rasulullah yang menaklukkan Mekkah, atau seperti Salahuddin Al-Ayyubi yang merebut Jerusalem, atau Muhammad Al-Fatih yang menguasai Konstantinopel. Mereka adalah para pemimpin besar pada generasi mereka, mereka sumber inspirasiku.
Cita-cita itu memang harus tinggi, toh bermimpi itu gratis. Semustahil apapun, Tuhan pasti mendengar doa kita.

Dalam kitab Ta’lim Muta’allim disebutkan, cita-cita itu hendaknya harus setinggi mungkin, karena cita-cita itu bagaikan sayap. Jika sayapnya besar maka terbangnyapun akan tinggi, dan sebaliknya jika sayapnya kecil maka terbangnya akan rendah. Semua yang mendengar ternganga, dan kemudian, seperti dikomando, mereka serempak bertepuk tangan riuh, membuat hatiku melambung. Namun gairahku surut saat terdengar suara tawa seseorang, membahana menyaingi suara aplaus yang mulai mereda. Najid, anak dekan yang sok berkuasa itu terbahak bersama teman-teman tengiknya. Selama ini, dia memang selalu mengejekku hanya karena aku anak kurang mampu.
“Menghancurkan Israel katanya. Bayar taksi aja dia nggak sanggup, gimana mau ke Israel? Mau naik apa dia ke sana? Jalan kaki? Dasar miskin!”

Aku merengut menahan marah. Dia hanya berbisik, tapi aku bisa menangkap ucapannya. Padahal sesama anggota Rohis, tapi kelakuannya bejat tak terkira. “Lihat saja nanti, akan kubuktikan kalau aku bisa!” kataku penuh tekad.

Sepulang seminar, aku menyempatkan diri menjenguk ibu di rumah sakit. Seperti biasa, senyumnya mengembang saat melihatku datang. Ia menanyakan kabarku dan kelancaran kuliahku. Keadaannya semakin memprihatinkan. Ia semakin kurus seakan tak berdaging. Ia selalu berpura-pura tegar di depanku, padahal aku tahu penyakitnya parah. Kasihan ibuku. Sejak ayah meninggal, ibu membanting tulang seharian sebagai penjual kue demi membiayai kuliahku. Namun sejak ia sakit, ia merelakan sawah warisan kakek dijual agar aku bisa terus kuliah.

Kami tak punya apa-apa lagi. Ibu telah merelakan semuanya untukku. Namun, apa yang bisa kuperbuat untuknya? Dengan air mata berurai, aku menggenggam tangannya. Suatu saat, budi baiknya selama ini pasti akan kubalas.

Langit terasa suram, angin terasa jahat, dan udara terasa menyesakkan, panas bagai dihembus dari neraka. Hari itu rasanya ada yang berbeda. Di kampus, beberapa orang memandangku dengan tatapan tajam, sadis, menusuk. Aku tak tahu mengapa. Tanpa alasan yang jelas, semua yang kulewati memperlihatkan sorot mata menuduh, sesuatu yang biasa kusebut “muka rusuh”. Tiba di kampus, aku melihat Astri, teman sekelasku, sedang berdiri di samping pilar.

“Hei, Astri!” sapaku ramah. “Tugas dan laporanmu sudah semua?” Astri diam saja, bertingkah seakan tidak mendengarku. Dengan cuek dia melenggang pergi, meninggalkan aku yang membeku. Senyum tulusku berubah menjadi seringai salah tingkah. Ada apa ini? Apa bicaraku yang salah ya?

Bukan hanya itu. Di kelas, aku seperti diabaikan, seakan tak ada yang ingat namaku. Nama Abbas Gunawan seperti hanya pelengkap di daftar absen kelas. Semua berseliweran sok sibuk, bersikap cuek, tak ada satupun yang menyapa, bahkan melihatku pun sepertinya tidak. Ah, mungkin harus aku duluan yang bertanya. Namun, ketika kusapa, mereka hanya menjawab seadanya, malas-malasan, dan kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Lebih parah lagi, saat aku mencoba nimbrung di obrolan mereka, dengan kompaknya mereka malah membubarkan diri. Karena tak ada yang peduli, aku memutuskan untuk membaca buku saja. Namun huruf-huruf di buku itupun seperti menertawakanku. Celotehan teman-temanku amat berisik dan menusuk-nusuk telinga. Hatiku remuk redam mendengar mereka tertawa, tanpa melibatkanku dalam obrolan mereka.

Ah, apakah aku harus benci saat mereka bahagia? Aku memaksakan senyum, menyemangati diri meski hati terasa berat. Aku menoleh mengamati sekitar. Barisan tempat duduk di sebelahku kosong, seolah tak ada yang mau dekat-dekat denganku, bahkan anak yang tadi duduk di sebelahku mendadak pindah ketika aku datang. Masya Allah, cobaan apa lagi yang harus kuhadapi. Aku mengelus dada, coba menyemangati diri. Ayo maju, pikirku, keluarlah kalian wahai rintangan, coba halangi aku kalau bisa! Kalian pikir dengan perkara semacam itu bisa menghancurkan hidupku? Serangan kalian tak akan membunuhku! Toh seberat apapun dunia tak mungkin lebih buruk dari neraka.

Bersambung..

Penulis : Badrun Mahera Agung, Pemenang 20 besar lomba cerpen Indigenus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top