Thursday , 24 August 2017
update
Sebuah Hikayat Anggrek Bulan

Sebuah Hikayat Anggrek Bulan

Aku tak tahu kenapa Allah menciptakanku sebagai sebiji polonia yang tinggal dalam protocorm anggrek Phalaenopsis amabillis. Seorang ilmuwan memungutku yang hampir mati karena kenihilan nutrisi, kemudian menumbuhkan aku secara in vitro[1] dalam laboratorium. Aku diberi nutrisi yang kuserap melalui medium agar yang pertama kali diformulasikan oleh Vaccin went[2].

Seiring waktu, tumbuhlah aku menjadi individu baru, sebatang planet[3] yang sehat dan ceria. Fotosintesis dan respirasi berjalan sangat lancar, laju pertumbuhanku meningkat tajam. Aku sudah cukup bahagia hidup di zona nyaman ketika di minggu keduabelas usiaku, ilmuwan tadi memberiku sebuah tantangan besar. Aklimatisasi.

Aklimatisasi adalah pengadaptasian dari lingkungan in vitro yang nyaman ini menuju lingkungan in vivo di rimba yang mengerikan sana. Media agar (jelly) yang halus nan bersih diganti dengan media arang sekam yang hitam, kotor, dan menjijikan. Tentu saja aku tidak mau. Aku protes pada Allah, “Ya Allah. Kenapa keberadaanku dalam botol kultur yang super nyaman selama ini harus direnggut oleh aklimatisasi?”

Tapi Allah diam. Tak menjawab. Apa Allah tuli? Tidak. Kali ini Allah tidak mendengarkan protesku, “Ya Allah. Haruskah aku merontokkan seluruh anggota tubuhku untuk meminta keadilan dari-Mu? Mengapa planlet lain bisa menikmati indahnya hidup dalam botol kultur dengan nutrisi yang sangat cukup sementara aku harus diaklimatisasi?? Akar-akarku harus bekerja lebih keras untuk menyerap hara. Mengapa mereka bisa bahagia atas takdir-Mu namun aku diberi kegelisahan, kesusahan, dan kesedihan seperti ini?” rintihku lagi.

Kali ini Allah tersenyum kemudian berfirman, “La Tahzan! Innallaha ma’ana. Jangan sedih, sesungguhnya Allah bersamamu.”

Iya. Memang hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Entah energi apa yang membuatku terus pasrah dan menjalani hidup. Mengumpulkan mol demi mol ATP[4] untuk terus mempertahankan kehidupan, mengatur pembukaan dan penutupan stomata, tunduk pada mekanisme fisiologis, dari metabolisme, katabolisme, hingga anabolisme. Setiap sel, jaringan, organ, dan protoplas yang kumiliki adalah amanah dari Allah yang harus kujaga. Aku tidak boleh mendzalimi tiap jengkal organ yang diamanahkan Allah kepadaku. Aku hanya takut di Yaumul Hisab nanti Allah mengadzabku karena lalai menjaga amanah.

Segenap organku dapat melalui tahap aklimatisasi dengan lancar. Kini, sang ilmuwan memindahkan aku ke Pohon. Hidup sebagai epifit di bukanlah hal mudah. Akarku harus berusaha jauh lebih keras untuk memperoleh nutrisi yang sumbernya entah di mana, tersebar tak merata. Untungnya, matahari yang bersinar cerah memperlancar reaksi fotolisis dalam tubuhku. Melancarkan sintesis energi, memberiku kekuatan untuk terus bertahan hidup dan tak termakan teori seleksi alam yang dicetuskan Charles Darwin.

Hingga saat yang lebih sulit itu datang. Saat salah satu gen dalam kromosomku menyandi pembentukan protocorm. Allah telah menganugerahiku protocorm melalui mekanisme ekspresi gen. Kau tahu, Beta.  Protocorm, sebut saja biji atau polonia. Selapis sel yang sebenarnya berpotensi menjadi tanaman utuh namun berbeda dengan biji-biji pada tanaman lain. Bijiku tidak mempunyai endosperm. Jika dianalogikan dengan janin manusia, janinku tidak memiliki plasenta.

“Ya Allah, dari mana bijiku mendapat asupan energi??” Aku sangat berharap kali ini Allah mendengarkan doaku dan memberiku bantuan.

Dan Ya!!! Datanglah Mikoriza. Aku bersimbiosis dengan mikoriza. Aku hanya menyediakan sepetak tempat hidup untuknya, dan ia mensuplai nutrisi untuk poloniaku. Lambat laun polonia dalam bijiku berkembang. Berdiferensiasi menjadi kuncup-kuncup yang merekahkan sekuntum demi sekuntum flos cantik, orang-orang menyebutnya bunga anggrek bulan. Itulah yang membuatku sangat mencintai Mikoriza. Ia membuat hidupku jauh lebih cantik. Aku bahagia karena ia selalu berada di sisiku, melengkapi hidupku yang dahulu terasa begitu merana. Mikoriza telah menyempurnakan dienku.

Saat ini Allah tersenyum-senyum melihat kami. Dulu aku mencaci-Nya, mempertanyakan keadilanNya. Kini aku memuji cara-Nya menggerakkan makhluk-Nya.[5] Jika sedari awal aku tahu akhirnya akan menjadi semanis ini, aku akan terus melangkah dengan senang hati meski langkah itu terus dibelokkan. Kini aku tahu kenapa Allah menciptakanku sebagai Phalaenopsis amabillis, karena di balik semua yang Ia ciptakan, tersimpan sejuta hikmah yang layak dijadikan pelajaran.

Aku tidak berevolusi. Masih seperti dulu. Kondisi alam yang tak menentu ini tak mengubah keadaan fisiologi maupun anatomiku, aku masih mempertahankan prinsip untuk dapat hidup sesuai fitrahku sebagai hamba-Nya. Karena menurut sejarah filogeni pun, aku telah diciptakan secara utuh dan kompleks. Allah telah memberi seperangkat kode genetic yang menyandiku untuk tumbuh sebagai individu baru secara utuh.

Aku tidak berevolusi dari alga biru atau semacam bakteri dengan susunan sederhana menjadi organisme sekompleks sekarang. Itulah yang membuat akarku kuat mencengkeram medium, menghadapi dinamika iklim dengan berani dan penuh kepasrahan. Berani karena Allah menganugerahiku banyak sekali ATP melalui ikhtiarku, pasrah karena bisa jadi Allah akan mengambil nyawaku sewaktu-waktu, menggugurkan segenap daunku, menggerogoti seluruh bagian tubuhku dengan mekanisme senescence.

Toh sejatinya lelah di dunia ini hanya sementara. Karena peristirahatan terakhir hanya di surga-Nya. Pertemuan dengannya jauh lebih kurindukan daripada mol demi mol partikel foton setelah hujan deras.

[1] Kultur in vitro tumbuhan merupakan perbanyakan tanaman menggunakan protoplas, sel, jaringan, maupun organ pada kondisi steril menggunakan medium nutrisi. Dalam konteks ini adalah kultur in vitro jenis kultur embrio. Embrio ditanam di dalam botol kultur yang berisi kumpulan nutrisi agar dapat tumbuh dengan optimal.

[2] Media pertumbuhan anggrek dalam kultur in vitro.

[3] Tanaman yang tumbuh di botol kultur.

[4] Adenosin Tri Phospat, energi

[5] http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/103631163922/cerpen-padamu-terletak-takdir

 

Penulis : Meliana M.Y, Aktivis KAMMI Unsoed Purwokerto
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top