Tuesday , 16 October 2018
update
Sebuah Janji Keramat

Sebuah Janji Keramat

Namun, aku sudah bosan, Kawan, menunggunya. Sudah tiga jam kira-kira aku menunggu si keras kepala itu, belum datang juga. Apakah dia terlalu kenyang makan? Kemudian tidur bak ular yang telah menelan utuh mangsanya. Atau mungkin ia lupa karena punya janji dengan para pengikutnya. Di hari kedua pun sama saja, terpaksa aku belajar sendiri. Kupelajari bagian tentang sistem saraf, aku ingin sekali membersihkan bagian Talamus Adit yang berkarat agar ia ingat bahwa punya janji untuk diskusi pelajaran bersama. Di sekolah ia sibuk dengan pengikut tengiknya. Lalu kapan lagi ia punya waktu agar nilai biologinya tak lagi berwarna merah tua?

Hari ketiga ini akan kudatangi ia. Setibaku di sekolah sampai lonceng dipukul Pak Haryono sebanyak empat kali, aku tak melihat batang hidung Adit. Pertanyaanku adalah kemana si keras kepala? Kuputuskan untuk berkunjung ke rumahnya. Aku bertanya kepada ibunya, namun ibunya mengatakan ia pergi sekolah tadi pagi. Aku belum mengatakan pada ibunya kalau ia tak ada di kelas reot itu, yang jika hujan turun kau tak dapat berlindung dari air hujan. Aku mulai cemas dengan Adit. Kuhubungi Adil, pemimpin kami. Kuceritakan mulai dari janji keramat yang kami setujui sampai hilangnya seorang anak berbau terasi yang tak laku itu.

Adil menyarankanku untuk terus saja mempersiapkan soal-soal dan berdiskusi bersamanya beserta Anam. Sedangkan masalah Adit biarlah aku yang menyelesaikannya, begitulah Adil. Misterius namun hebat. Hari kamis pun tiba. Kini Adit ada di sekolah, entah apa yang Adil katakan di sudut kelas sebelah utara, dekat papan yang bolong bagian bawahnya. Aku ingin tahu apa yang dikatakan dan reaksi si keras kepala nantinya, Kawan.

Setelah pulang sekolah, Anam, Adil datang ke rumahku untuk membahas soal-soal kimia yang mungkin akan keluar nanti ketika ujian semester. Tak berapa lama kemudian Adit datang. Senyumnya lebar, masih sama, Kawan, bak badut yang bibirnya lebar. Bau busuk terasinya mulai menguasai ruang tamuku. Sebuah ruang dengan ukuran 3×3 meter dan meja tamu serta empat kursi dari menjalin sudah usang menghadap ke selatan.

Kami memulai pembahasan. Satu persatu soal pertanyaan kami lahap tanpa sisa, Kawan. Kami saling mengisi di semua lini. Aku bahagia mempunyai teman-teman seperti mereka. Namun, yang masih terbang-terbang di kepalaku ialah apakah sebenarnya yang dikatakan Adil sehingga si keras kepala bisa hadir di majelis hangat ini. Setidaknya aku dan Adit bisa memulai kemajuan untuk membayar janji kami. satu minggu ke depan. Waktu itu adalah waktu yang sangat singkat untuk kami karena tinggal satu minggu ke depan persiapan kami untuk menghadapi soal-soal yang akan membuat kepalamu berasap dan mendidih.

“Nan ayo bangun. Hari ini kamu ujian semester kan?”

“Ya, Bu..”

“Ayo mandi, sholat trus sarapan sana.. Sudah siang,”

“Ya, ya,” sambil kualihkan selimut yang sudah tak rapi lagi.

Hari pertama untuk berjibaku, Kawan. Telah kulihat di samping kananku si keras kepala dan di belakangku Adil serta Anam. Wah, Kawan, ujian hari ini bak menaiki pegunungan tanpa membawa bekal makanan dan air. Keringatku mengucur deras bak air terjun di Amazon. Sangat deras. Mungkin karena soal-soal yang kutemui dua kali lipat dari apa yang kami kerjakan. Nampak si keras kepala menggaruk-garuk kepalanya. Aku tak tau apa penyebabnya tapi aku yakin ini adalah indikasi yang buruk, mengindikasikan bahwa ia tak mengerti.

Kini hasil telah terpampang di kaca kantor guru. Ukuran kertas A4 dengan kolom pertama adalah nomor, kolom kedua adalah deretan nama kami secara alfabetis dan kolom ketiga adalah nilai, Kawan. Di bawahnya nampak tulisan “Nilai di bawah 70 wajib perbaikan”. Namaku di awal, Kawan, jadi tak susah aku mencarinya. Nyaris, Kawan, nilaiku 75 saja. Untuk pelajaran matematika lumayan lah. Tak ikut golongan perbaikan gizi nilai. Begitu pula dengan ketiga kawanku. Aku masih belum aman, Kawan, perjanjian keramat ialah posisi lima besar. Besok adalah harinya.

Penulis : Anton Nuari
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top