Wednesday , 15 August 2018
update
Sebuah Refleksi: Da’i atau Tong Kosong?

Sebuah Refleksi: Da’i atau Tong Kosong?

Kelesuan tarbiyah, kendornya suplemen ruhiyah, hilangnya tradisi diskusi, lemahnya membaca dan mengkaji dan lari dari ta’lim, semakin hari semakin menggerogoti kredibilitas seorang da’i. Da’i atau aktivis da’wah yang kurang bekal dalam menempuh perjalanan da’wahnya, cepat atau lambat ia akan tergelincir dari jalan ini. Atau mungkin menjadi bahan ejekan atau celaan masyarakatnya karena apa yang ia da’wahkan tidak ubahnya omong kosong belaka. Tidak ada keteladanan padanya juga tidak ada ilmu yang melekat dari setiap perkataannya. Padahal medan da’wah adalah medan pertempuran, pertempuran terhadap kebodohan, kerusakan, hawa nafsu dsb. Kalau tidak ada bekal senjata yang memadai, lalu dengan apa kita memenangkan pertempuran ini?

DR Yusuf Al-Qorodhowy dalam kitabnya Tsaqoofatud Daa’iyyah menjelaskan kepada kita tentang 3 senjata utama agar kita menang dalam pertempuran ini, yaitu:

1. Al-Iman, tanpa kekuatan iman maka semuanya menjadi sia-sia dan gagal, tapi keimanan yang dimaksud disini bukanlah keimanan yang dibuat-buat melainkan keimanan yang mengakar dalam hati dan dibuktikan juga dengan perbuatannya.

2. Al-Akhlaq, akhlaq merupakan konsekuensi dari sebuah keimanan yang benar, karena ia merupakan buah dari keimanan itu sendiri. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, Rosulullah SAW bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaqnya.” (Shohih Ibnu Hibban hadits no. 479, 4176, Sunan At-Tirmidzi hadits no.1162, Imam At-Tirmidzi mengatakan haditsnya hasan shohih, Syekh Al-Albani juga mengatakan hadits ini hasan shohih dalam kitabnya Silsilatul Ahaadiits Ash-Shohiihah hadits no. 284, Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan isnadnya hasan).

Allah juga telah mensifati penghulu para da’i (Nabi Muhammad SAW) dengan mengatakan dalam surat Al-Qolam ayat 4

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qolam : 4)

Di dalam ayat yang lain Allah SWT juga mengatakan

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…” (Ali Imron : 159).

3. Al-‘Ilmu atau Ats-Tsaqofah, senjata yang ketiga termasuk bekal fikriyah bagi para da’i disamping bekal yang lainnya seperti bekal ruhiyah dan akhlaqiyah. Da’wah itu memberi dan orang yang tidak memiliki ilmu dan pengetahuan lalu bagaimana dia akan memberi orang lain? Pepatah arab mengatakan:

“فاقد الشيء لا يعطيه”

“Orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan bisa memberikan sesuatu.”

Sebagaimana orang yang tidak memiiliki harta yang mencapai nishob, lalu bagaimana bisa ia berzakat?

Terus…ilmu atau pengetahuan apa saja yang harus kita siapkan sebagai seorang da’i? DR Yusuf Al-Qorodhowy menuliskan setidaknya ada tujuh bekal pengetahuan yang harus dimiliki seorang da’i, yaitu:

a. Pengetahuan keislaman (الثقافة الإسلامية)

b. Pengetahuan tentang sejarah (الثقافة التاريخية)

c. Pengetahuan sastra dan bahasa (الثقافة الأدبية واللغوية)

d. Pengetahuan tentang manusia (الثقافة الإنسانية)

e. Pengetahuan keilmuan (الثقافة العلمية)

f. Pengetahuan tentang realita (الثقافة الواقعية)

(Untuk lebih jelasnya tentang perinciannya bisa dibaca di buku DR Yusuf Al-Qorodhowy yang berjudul Tsaqoofatud Daa’iyyah)

Semoga Bermanfaat, sebagai langkah awal untuk lebih baik

Faridi Abdul Mukti, Aktivis KAMMI UMS
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top