Saturday , 24 June 2017
update
Sekolah Negeri vs. Madrasah

Sekolah Negeri vs. Madrasah

Tiga minggu yang lalu, seorang teman kantor saya bercerita mengenai anaknya yang baru masuk sekolah hari pertama di Madrasah. Pemikiran teman kantor saya itu, bagi saya, amat kontras dibandingkan kebanyakan para orang tua lainnya. Sekarang banyak orang tua berlomba-lomba mendaftarkan anaknya ke sekolah negeri, tetapi teman saya itu tetap mendukung anaknya sekolah di Madrasah. Padahal, sekolah Madrasah sedikit lebih mahal biayanya daripada sekolah negeri di Jakarta.

“Berapa pun biaya yang dikeluarkan itu tidak berarti. Yang terpenting ialah sistem pendidikannya yang mengutamakan agama dan akhlak. Jika nanti saya meninggal minimal anak saya bisa membacakan doa untuk saya,” kata teman saya itu.

Saya sangat setuju dengan pendapat itu. Sontak saya teringat pernyataan Ki Hajar Dewantara bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanis). Artinya, pendidikan mesti menjadikan manusia cerdas. Kalau manusia itu sudah cerdas, maka akan bisa menentukan sikap positif. Sikap positif itu menghasilkan akhlak yang baik. Dan akhlak yang baik tidak akan pernah dapat dipisahkan dari agama.

Menurut hemat saya, memang ada yang salah dengan paradigma pendidikan di Indonesia saat ini. Buktinya, masih banyak juga sekarang orang tua yang kelewat bangga jika anaknya mendapat nilai bagus dalam pelajaran Matematika dan IPA saja. Sebaliknya, jika anak tersebut mendapatkan nilai buruk dalam dua pelajaran itu, pasti dianggap anak bodoh. Bidang pelajaran ilmu sosial dan agama bak dianaktirikan dan bukan merupakan tolak ukur prestasi seseorang. Akhirnya, para orang tua berusaha memacu anaknya agar mendapatkan nilai bagus dalam pelajaran Matematika dan IPA.

Saya pun kemudian menduga, bahwa bisa jadi keadaan ini juga yang menyebabkan bangsa Indonesia sekarang banyak melahirkan generasi “cerdas” tapi bermoral buruk. Perilaku korupsi adalah salah satu yang paling menonjol. Coba kita lihat pada 2014, peringkat Indonesia memasuki urutan ke 107 dari 175 negara paling korup di dunia. Indonesia masih kalah dengan Singapura yang berada di urutan ke-7 dengan skor 84 dan Malaysia di urutan ke-50 dengan skor 52. Sementara negara yang menduduki peringkat pertama terbersih dari korupsi adalah Denmark dengan skor 92. (http://www.merdeka.com) Sungguh miris.

Berkaca dari sana, mestinya kita semua mulai bertanya: Mau dibawa kemana sistem pendidikan kita? Mari kita renungkan betapa pentingnya memprioritaskan moral dan agama. Perlu diingat bahwa kecerdasan intelektual (IQ) saja tidak cukup. Kita perlu punya kecerdasan emosional/ moral (EQ). Dalam pandangan Goleman (dalam Sarwono, 2012), sumbangan IQ dalam menentukan keberhasilan seseorang hanya sekitar 20-30%, selebihnya ditentukan oleh EQ yang tinggi.

Namun demikian, menurut saya, EQ saja juga sebenarnya tidak cukup. Kita perlu adanya kecerdasan agama (SQ). Buat apa kalau hidup seseorang sukses hanya untuk mengejar duniawi? Hidup kita tidak ada maknanya jika mengejar dunia semata?. Bukankah kebahagiaan dunia itu fana, sendau gurau, dan kesenangan sementara? Bukankah akhirat itu terminal akhir semua manusia?

“Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’aam: 32).

Semoga ke depan sistem pendidikan Indonesia bisa lebih mengedepankan EQ dan SQ agar bisa memanusiakan manusia. Aamiin.

Kontributor : M. Syaid Agustiar (Anggota Muda FLP Jakarta)

Editor : Nur Afilin

 

Leave a Reply

Scroll To Top