Wednesday , 13 December 2017
update
Sektarianisme Mahasiswa

Sektarianisme Mahasiswa

Sejak turunnya Soeharto pada 1998 negara ini masih terpuruk. Sudah berganti-ganti presiden namun kondisi bangsa tetap sama. “BBM naik tinggi susu tak terbeli, orang pintar tarik subsidi anak kami kurang gizi”. Begitulah lirik lagu iwan fals yang saat ini cukup tepat dengan realita bangsa. Wacana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan pemerintahan Jokowi-JK sontak menjadi perhatian khusus namun entah masyarakat sudah lupa atau mentoleran tindakan pemerintah bisa juga bosan dengan janji para penipu. Nyatanya wacana kenaikan BBM ini tidak serta ditanggapi oleh mahasiswa, karena biasanya mereka yang paling reaktif terhadap persoalan bangsa.

Mahasiswa dalam sektranisme

Keterpurukan itu bertambah parah akibat gerakan mahasiswa yang sedikit demi sedikit dibekukan dari berbagai hal. Selain dari internal kampus tentunya datang dari eksternal juga. meredupnya gerakan mahasiswa saat ini jauh berbeda dengan terdahulu, jika dulu banyaknya penangkapan aktivis mahasiswa oleh pemerintah. Kini justru datang dari internal kampus sendiri, dikarenakan kampus sudah bukan lagi lembaga yang memproduksi ilmu pengetahuan yang emansipatoris. Akan tetapi, kampus sudah menjadi lembaga yang melanggengkan kapitalisme.

Melihat kondisi di Indonesia sebetulnya memang sudah mengalami disorientasi. Sejak era Orde Lama dibenarkan Komunisme, era Orde Baru dibenarkan Kejawen dan era Demokrasi dibenarkan Liberalisme. Begitupula yang terjadi disoriented pendidikan kita juga sangat kacau, bahwa filsafat barat mengatakan bahwa agama itu bukan ilmu melainkan kebudayaan. Kita kehilangan orientasi dan sudah dicabut dari pangkalnya dan diserang habis-habisan. Dari awal kita tidak memegang prinsip-prinsip negara, yang menentukan tingkat kecerdasaan bukan dengan hikmah. Padahal disila keempat kita berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Pemusyawaratan Perwakilan”.

Namun pendiri negara ini untuk menafsirkan Pancasila seharusnya mengacu kepada Al-Qur’an, hanya saja keadaan pada saat itu sudah disabotase oleh kelompok-kelompok sekuler. Pendirian negara kita secara ideologi sudah dirampas dengan pemikiran Nasakom (nasionalis komunis). Kita kehilangan orientasi untuk pendirian negara dari pangkalnya. Sehingga anggaran negara, regulasi, dan dasar negara sudah terjadi disorientasi.

Sektranisme di kalangan mahasiswa makin memperparah keadaan. Latar belakang ideologi dan pandangan politik organisasi tersebut menjadi dasar untuk melabelkan perbedaan. Akibatnya analisa yang dibangun terkotakan, saling melemahkan dan mudah dihancurkan. Bungkamnya mahasiswa saat ini tentunya menjadi rentetan panjang perjalanan melemahkan kekritisan mahasiswa. Ketiadaan konsepsi politik perjuangan menyebabkan gerakan mahasiswa dengan mudah dipolarisasi berdasarkan kepentingan elit tertentu.

Jika saat ini gerakan mahasiswa tidak dapat merumuskan taktik-taktik baru dalam menghadapi perubahan (dinamika) politik yang terjadi maka mengacu pada sebuah niat yang baik dan sebuah sikap politik yang masih bersih tanpa racun dari luar efektivitas gerakan terbangun. Tidak saling curiga dan untuk menyatukan sebuah kesepakatan tidak sulit, sehingga satu kata dalam sejarah telah dicatat adalah kata “katakan tidak pada yang tidak benar”.  Semoga gerakan mahasiswa tidak hilang kreatifitas walaupun dipaksa untuk berkreasi di luar.

 

Konsepsi Ideologi

Sektranisme yang muncul disebabkan oleh metode pendidikan kapitalisme yang menuntut mahasiswanya dengan berbagai macam mata kuliah yang jauh dari realita, juga dibesar-besarkan oleh karena ketidak-adaan konsepsi ideologis yang kuat. Mengacu pada 10 Syarah Dasar Arkanul Bai’ah bahwa Al Fahm, atau  paham menjadi urutan pertama. Konsepsi ideologi yang matang tentunya akan mendatangkan pemahaman terhadap dirinya.

Jati diri manusia ada pada kekuatan mengenal diri sendiri dan itulah kepribadian yang sejati. Apa gunanya ilmu pengetahuan kalau kemudian  manusia tidak mengenal dirinya. Allah Yang Maha Pencipta ini telah menciptakan alam semesta agar manusia mengenal dirinya sehingga kemudian baru dia akan dapat mengenal Tuhannya, bahwa manusia pada akhirnya harus mengenal siapa penciptanya dan kemana dia harus kembali.

 

Penulis : Min Syahril, Lembaga Pers Inspirasi  BSI
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top