Saturday , 21 October 2017
update
Seminar Peradaban: Sebuah Catatan

Seminar Peradaban: Sebuah Catatan

 

Depok Islamic Study Circle (DISC) adalah organisasi di bawah naungan Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI) kampus Universitas Indonesia (UI) Depok yang mengkaji pemikiran dan peradaban Islam. Salah satu program andalan DISC ialah kajian pekanan intensif yang hingga kini masih berjalan. Yang unik dalam kajian ini biasanya fokus pada pembahasan satu buah buku. Tentu buku yang dikaji bukan buku sembarangan. Sejauh yang saya ketahui setidaknya buku “Islam dan Sekularisme” salah satu master piece karya Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan “Misteri Masa Kelam Islam” telah tuntas dibahas. Kabarnya, kini DISC tengah dalam proses menelaah buah karya Al-Attas lain berjudul “Risalah untuk Kaum Muslimin”.

Tak puas dengan agenda rutin dan dalam rangka sosialisasi, DISC menginisiasi dihelatnya sebuah seminar peradaban dengan tajuk “Hutang Barat terhadap Islam: Memahami Kontribusi Islam bagi Peradaban Barat” di Auditorium Gedung Komunikasi, FISIP UI Jum’at (17/5) siang. Adalah Yon Machmudi, Ph.D, Adnin Armas, M.A., dan Chairuddin Razak, B.Sc. yang didapuk menjadi pemateri dalam seminar ini.

Mendapat giliran kedua, Adnin Armas menyampaikan materi tentang sumbangsih Islam dalam peradaban Barat dalam bidang filsafat. Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini membuka dengan mengutip pernyataan Prof. George Sarton (Harvard University). Sejarawan sains terkemuka itu pernah menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh ilmuwan Muslim menandingi sepak terjang para ilmuwan Yunani pada eranya. Adnin juga mengutip pengakuan Ibn Sina dalam autobiografinya bahwa ia berhasil memahami tujuan metafisika bukan karena membaca karya Aristoteles, melainkan setelah membaca karya Al-Farabi.

Adnin menutup sesinya dengan melakukan compare and contrast antara contoh buah pikiran filosof Barat dengan filosof Muslim. Hasilnya, beberapa teori Rene Descartes (1596-1650), David Hume (1711-1776), dan Isaac Newton (1642-1727) amat mirip dengan apa yang telah dirumuskan Ibn Sina (980-1037), Imam Ghazali (1058-1111), dan Fakhruddin Ar-Razi (1149-1210). Apakah ini sebuah kebetulan belaka?

Senada dengan Adnin, Chairuddin Razak pun turut membeberkan hutang peradaban Barat terhadap peradaban Islam dalam bidang sains. Chairuddin menuturan kisah pribadi dirinya bergelut dengan dunia eksakta. Menurutnya, memang hanya Islamlah agama yang mampu melahirkan ilmu dalam berbagai sendi kehidupan. Ilmu pengetahuan alam adalah hanya salah satunya. Sepakat dengan Adnin, alumnus Universitas Al-Azhar ini pun menyatakan bahwa aspek spiritualitas adalah pembeda kentara antara dua peradaban ini.

Atmosfer ruangan agak naik ketika sesi tanya jawab dibuka. Dua penanya melontarkan beberapa pertanyaan cerdas. Salah satu yang menarik perhatian ialah mengenai ‘klaim’ Islam bahwa Barat telah berhutang. Jangan-jangan Islam hanya transisi pasca Yunani sebelum peradaban dunia dipegang oleh Barat. Mereka pun berbalik menyatakan peradaban Islam berhutang kepada peradaban Yunani yang telah ada lebih dulu.

Dengan cerdas, ketiga pemateri pun mampu membalikkan logika pertanyaan tersebut. Kata Adnin, terlalu banyak contoh yang menunjukkan kebenaran apa yang diucapkan George Sarton di awal. Temuan ilmuwan Muslim terbukti original dan lebih komprehensif ketimbang ilmuwan Yunani. Memang ada beberapa temuan masa Yunani yang menjadi bahan kajian ilmuwan Muslim, tapi itu kemudian ditimbang dengan kaidah Islam. Dengan perantara wahyulah para ilmuwan Muslim ini mampu berbuat lebih. Sementara Chairuddin menyatakan fakta tentang stagnasi peradaban Barat hari ini membuktikan bahwa kemajuan ini bukan murni hasil jerih payah mereka. Bandingkan dengan kala peradaban belum dirampas dari genggaman Islam. Tak ada stagnansi saat itu, yang ada hanyalah perkembangan secara berkelanjutan, ujarnya. Lalu Yon menambahkan peradaban Islam yang hingga mencapai ribuan tahun tentu lucu kalau dianggap hanya transisi. Justru kita patut curigai peradaban Barat yang kini mulai oleng. Padahal Barat baru menguasai peradaban tiga atau empat abad belakangan ini.

Saat closing statement dari masing-masing pemateri tak kalah menarik. Pernyataan Yon Machmudi adalah yang paling berkesan menurut saya. Dosen FIB serta pengamat dunia Timur Tengah dan Islam UI ini bertutur:

“Kajian sejarah dan peradaban Islam itu penting dilakukan. Ini bukan semata romantisme sejarah dan untuk menagih hutang terhadap Barat. Tidak perlu ditagih karena kitalah sebenarnya pewaris yang sah akan peradaban dunia ini. Ini tinggal menunggu waktu saja. Gaung yang menyuarakan hal ini tetap mutlak diperlukan sembari menyiapkan diri dan menanti saatnya tiba. Sebagaimana Al-Fatih yang pada gilirannya mampu menaklukan Konstantinopel, sejak kecil selalu didengungkan kepadanya bahwa dialah orang yang Rasulullah SAW maksud dalam sabdanya akan menjadi penakluk Konstatinopel.”

 

Penulis: Nur Afilin

 

 

 

 

2 comments

Leave a Reply

Scroll To Top