Monday , 26 June 2017
update
Sempurna Bertuah

Sempurna Bertuah

Manusia kadangkala menginginkan kesempurnaan, lupa bahwa hakikat kesempurnaan bagi manusia adalah kelemahan.

Manusia kadangkala berputus asa dalam kelemahan, lupa bahwa kelemahan memberi ruang kepada kesempurnaan.

Aku masih terduduk di atap rumah, memandang nanar kearah pertigaan seberang jalan. Sudah selarut ini hanya satu dua kendaraan yang melintas, kontras dengan keadaan dipagi hari. Petugas keamanan yang kebetulan ronda memukul tiang penyangga kabel ‘teeng teeng’ menandakan bahwa sekarang pukul 2 dini hari. Tapi raga yang sudah lelah berkegiatan sepanjang hari ternyata tidak mampu membuat mataku terkantuk, pikiranku malah liar menjajaki slide-slide berisi potongan beberapa kejadian.

##

Aku berjalan santai menuju sekolah. Di desa, anak-anak sekolah biasa berangkat kesekolah dengan berjalan kaki. Dari rumahku aku hanya tinggal melewati jalan raya yang sebelah kiri, karena rumahku tepat berada di pertigaan jalan. Setelah itu aku biasanya memotong jalan lewat persawahan. Sebenarnya bisa saja terus melewati jalan raya tersebut, tapi jadi memutar dan jauh. Selain itu rasanya menyenangkan berjalan melewati jalan setapak diantara sawah dan tanaman-tanaman tumpangsarinya.

Sebenarnya tempatku tinggal bukan lagi ‘desa’ yang benar-benar desa, aku menyebutnya sebagai ‘desa berkembang’ (meminjam istilah ‘negara berkembang’) yang maksudnya adalah desa yang sedang berkembang menuju desa yang maju.

##

Wajahku masih pucat pasi, terkejut atas kejadian beberapa menit yang lalu. Dan tentu saja takut ketika mengingat kembali sosok dengan darah ditubuhnya. Untuk semua itu, aku urung berangkat kesekolah. Aku merogoh sesuatu di saku seragam abu-abuku, mencari bantuan. Mengetikkan pesan teks dan mengirimkannya kepada Mas Cakra.

Mas, Mala di puskesmas tadi ketemu sama orang yang luka parah jadi Mala bawa kesini. Sekarang orangnya masih pingsan, petugas puskesmas bilang Mala suruh tungguin dia sampe siuman.

Aku sedikit lega dengan balasannya.

Hah? Yo wes mas kesana sekarang, diem aja disitu.

##

“Makasih banyak buat semuanya, maaf sudah merepotkanmu sejauh ini.” Aku membalas kalimatnya dengan tersenyum.

“Kita belum kenalan. Siapa namamu?” Ia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku terpaksa mendekat dan balas mengulurkan tangan.

“Ratih.” Jawabku singkat

“Namaku Jati…” Duh Gusti, aku mengumpat dalam hati demi melihat senyumnya. Tadinya aku berharap namanya adalah Galih atau Galuh itu akan jadi dramatis seperti dalam cerita cinta Galih dan Ratna, meski namaku Ratih bukan Ratna.

Jati? Unik, seperti nama tumbuhan. Ahaa, atau ku ganti namaku dengan Randu saja. Kalau namanya tidak bisa berubah, ya namaku saja yang kuubah untuk dapatkan kesan yang dramatis. Ah tapi nggak mungkin, aku sudah perkenalkan namaku.

“… sebenarnya aku sudah tau namamu, aku tanya ke Mas Cakra kemarin.” Kalimatnya membuatku kembali tersadar. Aku tersenyum gugup, buru-buru ku lepaskan jabatan tanganku.

“Oh ya?” Kataku tersipu sambil tersenyum.

“Lukanya masih sakit ya?” Tanyaku melanjutkan pembicaraan.

“Sudah lumayan sembuh, kan nggak terlalu parah juga kata dokter makanya nggak perlu ke rumah sakit.”

“Syukurlah…”

“Besok-besok kalau aku sudah benar-benar pulih, aku traktir kamu sebagai tanda terimakasihku.” Jati tersenyum, senyum yang tetap mempesona dan membuat luruh hati siapapun tak terkecuali (tentu saja) AKU!

##

Ratih. Aku adalah seorang remaja perempuan berusia 16 tahun dengan rekor mengejutkan : belum pernah pacaran. Setidaknya itu menurutku. Karena sepengetahuanku, teman-teman seusiaku sudah pernah pacaran. Bahkan konon ada yang sudah mempunyai lusinan mantan pacar.

Tidak jauh beda dengan teman-temanku, tiga saudara sepupuku juga kesana kemari selalu bersama ‘gandengan’ mereka masing-masing. Baik teman-teman atau saudara sepupuku sama saja, mengolokku karena menurut mereka aku (sedikit) kuper dengan tidak mengikuti gaya remaja seumuranku.

Tapi… masih ingat dongeng-dongeng pengantar tidur saat kecil dulu? Di bagian akhir ceritanya (nyaris) selalu sang putri yang cantik jelita dan baik hati akan hidup bahagia selamanya dengan seorang pangeran pewaris tahta kerajaan yang tamapan rupawan, gagah ksatria, dan tentu saja bijaksana. Dan aku percaya bahwa pangeran seperti di negeri dongeng itu tidak sebatas khayalan belaka. Dan yang kulakukan sekarang adalah: menunggu.

##

Aku sedang berdiri di depan sekolah, menunggu seseorang datang untuk menjemputku. Kali ini aku pergi dengan ‘gandengan’. Suatu pemandangan yang tidak biasa, dan sudah cukup membungkam mulut dan membuat merah pipi teman-temanku yang melihat. Bagaimana tidak? Jati datang memenuhi janjinya beberapa minggu yang lalu.

##

Jati. Kuncoro Jati. Pemuda dengan senyum mengagumkan. Dia adalah pengambil alih seluruh tanggung jawab mendiang ayahnya. Salah satu tanggung jawab yang ditinggalkan mendiang ayahnya kepadanya adalah puluhan outlet mebel yang tersebar di beberapa kota di Jawa. Usaha ini adalah usaha keluarga mereka yang turun-temurun. Tapi bedanya, di tangan ayah Jati usaha mereka dikelola dengan baik dan profesional hingga berkembang pesat. Tunggal tanpa saudara kandung, membuatnya harus memikul semua sendirian walau untuk beberapa hal ia berbagi tugas dengan ibunya, wanita dengan tutur kata lembut khas wanita jawa.

Beberapa bulan sejak Jati menjemputku di gerbang sekolah kami mulai melakukan banyak hal lain. Kadangkala Jati mampir kerumahku, atau aku yang mengunjungi rumah dan ibunya, atau kami berkeliling alun-alun, makan bersama, menjemputku dari sekolah ke rumah atau sebaliknya, atau sekedar melakukan hal-hal kecil lain. Kami melakukannya berdua, tapi sering kali kami melakukannya bertiga plus Mas Cakra. Ini imbas dari rekornya yang makin mantap tak terkalahkan sebagai pria tanpa gandengan. Payah! Bahkan truk tronton saja punya gandengan.

##

Hidup ini sempurna. Jati adalah wujud nyata dari pengeran negeri dongengku. Tapi… aku heran kenapa Jati tidak pernah berkata ‘aku mencintaimu, Ratih’ atau kalimat semacamnya kepadaku?

“Mas gimana?” tanyaku.

“Gimana apanya? Kamu kenapa? Dari tadi nggak jelas!” Dia mendongakkan kepala sejenak dari komik favoritnya demi membentakku.

“Iya itu, kata temen-temenku aku suruh nembak Jati duluan… kan nggak masalah mas, toh Jati juga belum punya pacar.”

“Kamu jadi anak perempuan kok ganjen banget, sudah tunggu aja. Kalau Jati minta kamu jadi pacarnya ya kamu terima, tapi kalau nggak ya berarti ada sesuatu yang membuat dia tidak melakukan itu.”

“Iya tapi mau sampai kapan? Tunggu ada orang lain yang datang dan aku tercampakkan?”

“Ya nggak gitu juga lah. Apa kamu nggak bisa sabar dikit, kamu kan tau jati orangnya berhati-hati.”

“Iya ini juga udah sabar, tapi nggak bisa juga terus kayak gini. Sementara orang diluar sana sibuk mencibir bilang aku bukan orang yang cocok buat Jati, aku butuh kepastian setidaknya penjelasan atas apa yang selama ini kita lakukan.” Aku kukuh manjelaskan.

“Kenapa kamu jadi marah-marah sama Mas? Yasudah lah terserah kamu! Mas nggak tau kenapa kamu jadi kayak gini!” Mas Cakra masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.

##

Pagi ini sudah kubulatkan tekat, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

“Jati, boleh aku tanya sesuatu?”

“Boleh. Ada apa? Kok tumben?”

Aku mulai gugup, sekuat tenaga merangkai kata.

“Jati, apa kamu mencintaiku?”

##

“Ratih… maafkan aku. Aku kenyataannya aku tidak mencintaimu. Aku menyukaimu karena kamu baik dan kamu adalah orang yang menolongku dari maut. Maaf!”

Aku menghela nafas panjang. Helaan panjang nafasku ini adalah yang terakhir untuk masalah ini. Aku janji!

“Jadi?”

“Aku menyukai orang lain…”

“Apa?”

“…Mas Cakra mu, aku mencintainya. Ini satu alasan lain mengapa aku harus terus denganmu.”

“Apa… apa Mas Cakra juga…?”

“Mana mungkin, dia normal… yang ku ketahui dia gila karena mencintai seseorang!”

“Siapa?”

“Namanya Mala.”

##

Pagi ini aku berjalan diantara pematang. Terakhir kali aku lewat jalan ini, hamparan padi menguning ini adalah sawah berlumpur dengan kerbau dan pak tani yang sedang membajak sawah. Sejak SMP dulu, aku tidak pernah alpa menjadi saksi atas hadirnya sebutir nasi dari sawah ini. Beberapa bulan ini aku alpa, dan bisa jadi padi-padi ini mengutukku.

Aku, Ratih Kumala Sari. Tidak percaya sama sekali pada kesempurnaan, dan tidak berharap sama sekali akan datangnya pangeran negeri dongeng.

 

Penulis : Lusia Aida

Leave a Reply

Scroll To Top