Tuesday , 12 December 2017
update
Serial Ayu

Serial Ayu

Prolog

“Gedubrak!!!!!” Begitulah teriakan meja yang kupukul dengan penggaris. “Currr!!” Seplastik es tumpah akibat guncangan meja yang kuciptakan dalam pemukulan meja kala itu. Aku sangat kesal. Kembali aku membentaknya, “Enggak! Pokoknya aku nggak mau!!” bentakku.

Namaku itu Jamillah. Arti namaku itu cantik. Tapi Jamaludin a.k.a Conan beserta teman-teman SD-ku malah memanggilku Jame atau Jem yang entah apa artinya. Tentu saja mereka membuatku kesal.

“Jem itu kelen tau. Kayak altis dali Amellllllllika.[1]” olok Jamaludin, anak gila yang hobinya mengejekku.

“Nggak mau pokoknya aku nggak mau dipanggil Jem. Kata Jamillah itu bukan dayi Ameyika, tapi dayi bahasa Ayab. Aytinya Cantik.”

“Yah… Jamillah, kamu itu gimana si?? Masa dipanggil kayak altist Amelika kagak mau. Malah nyelitain alti nama kamu yang bahasa alabpp,” kata Jamaludin dengan wajah polos. “Jaka sembung naik becak, nggak nyambung, Cantik!” sambungnya, sok-sokan meniru gaya Ibu Guru Bahasa Indonesia dalam berpantun.

“Teyseyah!! Pokoknya aku nggak mau dipanggil Jem!” bentakku lagi, “Kalo Conan masih manggil aku Jem, tak pukul nih pake penggayis!” seruku seraya mengayunkan sebilah penggaris yang berlumuran es.

“Ampun! Ampun!” Kata Jamaludin dengan mimik ketakutan, “Ya udah aku manggilnya bahasa jawa aja ya?? Jadi kamu aku panggil Ayu!!”

Aku meletakkan jari telunjuku di pelipis. “Mmmm….” Berpikir sejenak, “Ya udah deh nggak papah,” sahutku seraya mengggut-manggut.

“Okeh!! Aku pinjem penggalisnya ya?”

***

Aku hanya tersenyum ketika mengingat dialog masa SD-ku bersama Jamaludin kala itu. Semua orang memanggilnya Udin, kecuali aku. Aku lebih suka memanggilnya Conan akibat kacamata tebal yang menghiasi wajahnya. Selain itu, semua orang berpendapat bahwa Jamaludin adalah orang yang paling tepat untuk Jamillah. Jamaludin memang cukup berpengaruh bagi perkembangan nama panggilanku dan bagaimana orang-orang memanggilku.

Jamaludin menjadi ketua kelas selama enam tahun. Artinya, selama menjadi murid SD Negeri 1 Purbalingga, dia adalah ketua kelas. Udin sangat berpengaruh di kelas. Ia adalah dedengkot kelas yang memiliki status kurang lebih setara dengan ketua preman di Pasar Sega Mas Purbalingga. Jadi, kelakuanya memanggilku Ayu pun menular ke semua orang di SD ku. Sejak saat itu, semua orang memanggilku Ayu.

Sialnya, SMP dan SMA aku terus sekelas dengan Udin yang terus menjadi ketua OSIS. Jadi aku juga terus dipanggil Ayu oleh semua orang. Alhamdulillah saat kuliah kami terpisah. Dia melanjutkan kuliah ke Sekolah Kedinasan. Tepatnya, Sekolah Tinggi Administrasi Negara atau terkenal dengan nama STAN. Sedangkan aku, yang dulunya bercita-cita menjadi Guru Bahasa Inggris, tanpa diduga aku tak diterima di Universitas mana pun yang mempunyai fakultas Pendidikan Bahasa Inggris. Akhirnya, aku terlempar ke Fakultas Biologi Unsoed.

Meskipun sudah menjadi seorang Mahasiswa, perkembangan mentalku masih tetap lain dengan muslimah pada umumnya. Aku selalu tak mampu menggunakan otak kananku dengan optimal. Selalu rasional tanpa mempertimbangkan rasa yang ada di hatiku dan di hati orang-orang sekelilingku. Aku tak banyak memikirkan orang-orang yang memberiku panggilan kontras dengan nama yang terukir di kartu identitasku. Aku sudah sangat terbiasa dipanggil Ayu.

Akibatnya, di hari pertama kuliah, spontan aku mengenalkan diri dengan berkata, “Nama Saya Jamillah. Saya biasa dipanggil Ayu.” Dan selalu perkenalanku berbuntut ‘huuu’ seru dari khalayak yang menyaksikan.

Yaa!! Arti nama memang penting. Mana adalah doa yang ditujukan spesial untuk pemiliknya, dari ia lahir diri kita hingga menghembuskan nafas terakhir. Untuknya, aku selalu mengenang lekat kawanku satu itu, sesatunya yang memanggilku perdana dengan panggilan Ayu. Ya, dia, Jamaludin.

 

 Bersambung

[1] Jame itu keren tau, seperti artis amerika

 

Penulis : Meliana Moga Yufita, mahasiswi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top