Wednesday , 17 January 2018
update
Slow But Sure

Slow But Sure

Bersepeda motor di jalan raya, pandangan saya tiba-tiba tertambat pada pintu belakang bak sebuah truk bertuliskan, “Slow But Sure”. Kalimat singkat berarti “pelan tetapi pasti” itu menarik perhatian saya. Di tengah kondisi jalan raya yang lumayan ramai, cukup lama saya memperhatikan kalimat yang terpampang dengan besar dan jelas itu. Mungkin pemilik truk bermaksud mengatakan bahwa kendaraannya itu memang pelan (jalannya), tetapi pasti (sampai tujuan dan selamat).

Dalam keseharian, kalimat “pelan tetapi pasti” menjelaskan bahwa ada pekerjaan yang “cepat tetapi tidak pasti.” Ketidakpastian muncul barangkali akibat pekerjaan itu dikerjakan secara serampangan. Mungkin juga karena dikerjakan secara tergesa-gesa plus kurang istikamah. Jadinya, hasil pekerjaan itu menjadi tidak pasti, apalagi memuaskan. Pekerjaan apa saja, kalau tidak dikerjakan secara benar dan istikamah, kendati selesai cepat, mustahil dapat dipastikan keberhasilannya. Yang hampir pasti ialah gagal dan berantakan.

Islam melarang kita mengerjakan sesuatu dengan tergesa-gesa. Kebat tetapi terlewat, begitu istilah populernya. Tampaknya sih cepat, namun banyak yang terlewatkan. Tidak sempurna. Rasulullah sendiri diingatkan oleh Allah, gara-gara saat turun wahyu, beliau tergesa-gesa menggerakkan bibir untuk menghafal sebab saking semangatnya. “Wahai Muhammad, janganlah engkau menggerakkan lidahmu dengan tergesa-gesa untuk menirukan Jibril ketika membacakan Al-Qur’an kepadamu. Kamilah yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan membacakan Al-Qur’an kepadamu. Apabila telah Kami bacakan Al-Qur’an kepadamu, barulah engkau mengikuti bacaannya.” (QS Al-Qiyamah/75: 16-18).

Ketergesa-gesaan berasal dari setan. Pencapaian optimal tentu mensyaratkan adanya keteilitan dan kehati-hatian dalam berpikir, berucap, berbuat. Pelan tetapi hasilnya optimal lebih bagus ketimbang cepat tetapi hasilnya acak-acakan. Tentulah yang paling bagus adalah mengerjakan sesuatu secara cepat dengan hasil sempurna. Tetapi, sekiranya tidak mampu memilih yang terbaik, pilihan yang lumayan baik harus diutamakan di atas pilihan yang terburuk. Maksudnya, jika tidak mampu selesai cepat dengan hasil sempurna, biarlah pelan asal dipastikan hasilnya memuaskan.

Kalimat pemacu, ialah “pelan tetapi pasti” itu mendapatkan pembenaran dari Al-Qur’an. Perhatikan kalimat “ahsanu amalan” yang tersurat dalam empat tempat dalam Al-Qur’an (QS Hud/11: 7; Al-Kahfi/18: 7; Al-Kahfi/18: 30; Al-Mulk/67: 2). Tampak sekali yang dikehendaki oleh Allah ternyata “ahsanu amalan” atau perbuatan terbaik, bukan “aktsaru amalan” atau perbuatan terbanyak. Pantas ketika ditanya tentang perbuatan apa yang paling dicintai oleh Allah, Rasulullah menjawab, “Ialah perbuatan yang paling ajek dilakukan, meski sedikit.” Hadis itu sangat populer dan berderajat sahih.

Jawaban dari Rasulullah itu mengonfirmasi firman Allah barusan. Ambil sebuah contoh, kita begitu bersemangat mengerjakan shalat malam. Saking semangatnya, sekali shalat langsung kita kerjakan sebanyak seratus rakaat. Besoknya, kita keletihan dan sudah tidak pernah lagi mengerjakan shalat malam, kecuali sekali itu. Pasti akan lebih utama sekiranya shalat malam, termasuk juga ibadah dan kebaikan lain, dikerjakan secara wajar, namun berkelanjutan. Itulah makna perbuatan yang meski sedikit, tetapi dilakukan secara istikamah.

Kata Rasulullah, Allah paling cinta dengan pelaku perbuatan semacam itu. Perintah Allah kepada Rasulullah berbunyi, “Istikamahlah sebagaimana engkau diperintahkan oleh Allah.” (QS Hud/11: 112). Penegasan Allah di ayat lain, “Sesungguhnya orang-orang beriman yang berkata ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian alias istikamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dan mengatakan, ‘Janganlah kalian merasa takut dan sedih. Bergembiralah kalian dengan surga yang telah dijanjikan untuk kalian’.” (QS Fushshilat/41: 30).

Pungkasnya, kalimat singkat yang saya perhatikan di tengah kemacetan itu telah memantik hikmah berharga: slow but sure, pelan tetapi pasti. Mulai sekarang, mari biasakan diri mengerjakan sesuatu tanpa harus berorientasi asal cepat. Orientasi kerja yang penting banyak juga tidak bagus. Kuantitas memang penting, tetapi jangan mengabaikan kualitas. Target dan tenggat harus diikuti dengan mutu pencapaian.

Saatnya orang beriman menuntaskan setiap urusan dunia, terlebih urusan akhirat, secara teliti, hati-hati, dan selalu mengutamakan kualitas hasil. Kemudian, tunaikan kebaikan-kebaikan itu secara istikamah, bukan hangat-hangat tahi ayam atau rok-rok asem, insya Allah kesuksesan menanti Anda.

M. Husnaini (Penulis buku Dan Allah pun Tertawa)

Leave a Reply

Scroll To Top