Monday , 16 July 2018
update
Tangga Kesuksesan

Tangga Kesuksesan

Kita mendapatkan pelajaran sangat berharga dari perjalanan dakwah Rasulullah. Wahyu pertama berupa surah Al-Alaq ayat 1-5, jelas menandai kenabian manusia mulia itu. Namun, sekitar dua atau tiga tahun, beliau tidak melakukan dakwah karena belum diperintahkan. Setelah turun surah Al-Muddatstsir ayat 1-7, barulah Rasulullah mulai bergerak. Tiga tahun berdakwah secara rahasia itu, turunnya surah Al-Hijr ayat 94 merupakan start dakwah secara terbuka. Tetapi, melihat masyarakat Jahiliah yang begitu kejam dan ganas, dari mana harus memulainya? “Berilah peringatan kepada kerabat dekatmu,” bimbing Allah lewat surah Asy-Syuara ayat 214.

Jelas, kerabat dekat merupakan obyek dakwah yang lebih minim risiko. Allah seolah mengirimkan sinyal kepada Rasulullah bahwa untuk melaksanakan tugas hebat, mulailah dari yang sederhana. Mustahil menempuh jarak bukan dari langkah yang pertama. Puncak segala ketinggian juga selalu bermula dari anak tangga paling bawah. Think big act small, begitu kata orang. Bahkan, menaiki motor dengan langsung menginjak persneling ke gigi empat atau lima, hanyalah akan menyebabkan kendaraan itu mengerang-erang tanpa mau berjalan dengan segera.

Bacalah sejarah pribadi-pribadi sukses. Semua meniti karier dari bawah. Tidak ada pakar keilmuan di bidang apa pun, yang mendadak tenar tanpa meretas jalan ilmu dari bawah. Pebisnis ulung juga dulu hanya mengawali usaha kecil-kecilan, sebelum kini mampu memainkan modal jutaan, bahkan triliunan rupiah. Pertama membuka usaha, bangkrut adalah hal lumrah. Bukan mustahil, pengusaha pemula juga harus beberapa kali mengalami ditipu orang. Tetapi, itulah onak dan duri kehidupan yang harus dijinakkan oleh siapa saja yang ingin mencapai kesuksesan.

Berikut beberapa cuplikan tentang pribadi-pribadi hebat yang merangkai karier dan sukses meraih impian. Sebelum menjadi kaya, Nabi Ibrahim adalah seorang peternak hewan sederhana. Bersama partner bisnis sekaligus keponakan beliau sendiri, Nabi Luth, jumlah hewan ternak Nabi Ibrahim terus berkembang biak sampai tidak muat ditampung di kandang yang tersedia. Lambat laun, Nabi dan Rasul keenam itu akhirnya hidup sebagai jutawan dan mengelola usaha yang maju pesat. (QS As-Shaffat/37: 108-113).

Kita juga menyimak kisah Nabi Daud. Sebelum menjadi raja, Nabi Daud mulanya seorang prajurit biasa. Ketika Raja Thalut sedang menyusun strategi perang untuk menghadapi serangan Raja Jalut dari Palestina, Nabi Daud bersama dua kakak beliau diperintahkan sang ayah, Yisya atau Isai, untuk bergabung dalam barisan laskar Raja Thalut. Tetapi, keberanian Nabi Daud sungguh luar biasa. Beliau mampu memenangkan duel melawan Raja Jalut yang terkenal perkasa. Raja Thalut terkesan. Dipungutlah Nabi Daud sebagai suami dari putrinya, Mikyal. Seiring waktu, nama Nabi Daud meroket hingga berhasil menduduki singgasana kerajaan. Di bawah kekuasaan Raja Daud, rakyat Bani Israil merasa aman, makmur, sejahtera, dan berlimpah berkah. (QS Al-Baqarah/2: 251).

Bagaimana dengan orang di zaman kita? Menurut penuturan Prof Imam Suprayogo, tokoh sekaliber Hamka ternyata memulai karya dengan tulisan-tulisan sederhana. Karena Buya Hamka begitu rajin menulis dalam jangka waktu lama dan istikamah, pada urutannya, tulisan-tulisan beliau menjadi bagus dan berbobot. Sejarah lalu mencatat nama Buya Hamka sebagai ulama sekaligus penulis dan sastrawan kondang. Sangat boleh jadi, saat mulai menulis karya-karya sederhana itu, Buya Hamka tidak pernah memprediksi bahwa nama beliau akan setenar sekarang. Apa yang sedang dipikirkan, itulah yang beliau tuangkan dalam tulisan.

Jangan lagi meragukan kedahsyatan hal-hal sederhana. Apalagi sampai tidak fokus. Suatu rencana belum juga tuntas, sudah beralih ke rencana-rencana lain. Tumpukan rencana hanya membuat orang digulung kepusingan yang serasa memecahkan kepala. Dari sekarang, tanamkanlah pola pikir fokus. Jika hari ini menekuni suatu kebiasaan baik dengan sungguh-sungguh, yakinlah, kebiasaan itu kelak akan mendatangkan “sesuatu”. Bukan karena diharapkan atau diperjuangkan, tetapi “sesuatu” itu akan datang dengan sendirinya, bahkan lewat jalan-jalan yang amat lapang dan dimudahkan.

Kini, mulailah mengerjakan setiap kebaikan secara ikhlas dan istikamah. Kendati sekadar kebaikan sederhana, itulah tangga kesuksesan.

M. Husnaini (Penulis buku Menemukan Bahagia)

 

Leave a Reply

Scroll To Top