Saturday , 18 November 2017
update
Tantangan Umat Islam Versi Hamka

Tantangan Umat Islam Versi Hamka

“…Dan kalian boleh juga duduk dalam pemerintah asal Islam itu kalian simpan jangan kalian perjuangkan…”

ghirah-cover

Judul buku      : Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam

Penulis             : Prof. Dr. Hamka

Tebal buku      : viii + 92 hal.

Penerbit           : Pustaka Panjimas, Jakarta

Tahun terbit     : Maret 1982 (cetakan ke-2)

Nama Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) tentu tidak asing lagi di telinga para pembelajar muslim. Langgengnya nama penerima gelar kehormatan Doctor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Kairo ini salah satunya disebabkan banyaknya buah karya yang masih menjadi rujukan dalam berbagai studi. Sebut saja kitab Tafsir Al-Azhar yang fenomenal itu. Kemudian, masih ada pula beberapa karya yang selalu diminati hingga kini.

Adapun keseluruhan karya pemikiran Buya Hamka (panggilan akrab Hamka) sebenarnya jauh melampaui yang sudah dibukukan. Jam terbang mengisi ceramah, seminar, dan pertemuan lain yang sulit dihitung tentu mengharuskan Buya menulis banyak makalah. Buku “Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam” ini adalah satu di antara buku Buya Hamka yang disusun dari kompilasi makalah dalam berbagai forum.

Diterbitkan oleh Pustaka Panjimas pada 1982 (cetakan pertama) buku yang tergolong tipis dengan jumlah halaman 92 ini mengajak kita berefleksi mengenai tantangan yang kini dihadapi umat Islam, utamanya tantangan perang pemikiran (ghazwul fikri). Ada delapan subjudul dalam buku ini. Namun, kalau dipetakan, menurut hemat saya, terdapat empat bahasan besar dalam buku yang telah mengalami cetak ulang pada Maret 1984 ini.

Bagian pertama mengkaji secara teliti tentang makna, sebab, dan implementasi ghirah yang benar. Secara eksplisit disebutkan oleh Buya bahwa ghirah (kecemburuan) itu ibarat hanya bagi seseorang, khususnya seorang muslim. Menurutnya, dengan ghirah lah dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar akan tetap hidup. Dengan ghirah pula kehormatan seorang muslimah akan terjaga. Jika ada pihak yang secara sengaja berusaha mengganggu keduanya (agama dan wanita), maka ghirah kita harus mendorong kita untuk berbuat sesuatu. Demikian kurang lebih pesan yang ingin Buya sampaikan dalam topik bahasan pertama.

Berlanjut ke bagian kedua, Buya memberi label “Al-Ghazwul Fikri”. Menurut hemat saya, jika menelaah keseluruhan risalah buku ini agaknya bahasan bagian ini yang menjadi poin utama. Hal ini disimpulkan dari beberapa pernyataan Buya Hamka pada tiga bahasan lain yang ternyata mengaitkan dengan tema ghazwul fikri.

Pada bagian awal bahasan kedua ini, Buya simpulkan bahwa yang dimaksud ghazwul fikri ialah sebagai berikut:

“suatu tehnik propaganda hebat, melalui segala jalan, baik kasar maupun halus, baik secara kebudayaan atau secara ilmiah, agar cara Dunia Islam berfikir berubah dari pangkalan agamanya dan dengan tidak disadarinya dia berfikir bahwa jalan benar satu-satunya supaya orang Islam maju, ialah dengan meninggalkan Fikiran Islam” (hal.29)

Selanjutnya, Buya Hamka berpendapat bahwa biang dari ghazwul fikri ialah paham yang memisahkan antara agama dan negara (sekularisme). Buya mencontohkan “Turkinisasi” yang dilakukan Kemal Atatturk pasca tumbangnya Khilafah Turki Utsmani. Saking parahnya sekularisme saat itu sampai-sampai azan pun diperintahkan untuk dikumandangkan dalam bahasa Turki bukan bahasa Arab. Karena sekularisme ini orang diminta untuk tidak mendakwahkan Islam lagi. Islam disuruh untuk menjadi urusan pribadi saja, tidak ada lagi upaya nasihat-menasihati, saling berwasiat, dan sejenisnya. Urusan negara pun tidak boleh disentuh oleh Islam. Makna Islam sebagai agama yang syumul (menyeluruh) menjadi hancur karena sekularisme ini. Intinya, sekularisme hendak menyeru seperti ini:

“Kalian boleh menyebut Islam tetapi jangan Islam yang diajarkan Rasul, jangan Daulah Islamiyah, jangan Syari’at Islam. Dan kalian boleh juga duduk dalam pemerintah asal Islam itu kalian simpan jangan kalian perjuangkan. Hendak harta kami beri harta hendak pangkat kami beri pangkat tetapi kekuasaan tidak ada di tangan kalian” (hal. 34)

Kemudian, bagian ketiga Buya menyoroti fenomena pergaulan bebas yang mulai merebak di kalangan umat Islam Indonesia. Tentu bahasan ini sekarang lebih kontekstual lagi, bukan? Kata Buya Hamka persoalan ini layak menjadi PR bersama, sehingga dia membuat tajuk “Untuk Kita Fikirkan Bersama” dalam mengkaji persoalan ketiga ini. Mulai dari membahas tentang amat terlarangnya pebuatan zina, perintah menjauhi sarana yang mendekati zina, hingga solusi yang ditawarkan komplet disajikan oleh Buya. Secara singkat, di bagian akhir pembahasan ini Buya menawarkan solusi keluarga Islami sebagai senjata utama memberantas penyakit akhlak ini.

“Sesudah itu pancarkanlah pengaruh kebaikan pribadi tadi dalam rumah tangga sebagai seorang suami terhadap istri sebagai seorang ayah terhadap anak dan cucu, sebagai seorang majikan kepada pembantu-pembantu rumah tangga…….Tegakkanlah suasana beragama dalam rumah. Tanamkan cinta kasih dan wibawa ibu bapak terhadap anak-anak. Sehingga anak-anak itu bangga dengan ayahnya, sampai ayahnya mereka jadikan ‘favorit’, dia merasa takut dan dia merasa malu nama ayahnya akan tercela lantaran perbuatannya” (hal. 65)

Adapun pada bagian akhir, Buya mengetengahkan kajian tentang “Siri”. Siri yang berarti “harga diri” atau “rasa malu” ini adalah kata yang biasa dipakai masyarakat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja di Sulawesi Selatan. Pengalaman Buya tinggal di daerah tersebut selama tiga tahun (1931-1934) mengilhami topik ini. Singkatnya, Buya Hamka menilai budaya “siri” yang sudah tumbuh di sana sejatinya akan lebih bagus manakala dibingkai dengan nilai Islam. Artinya, jangan sampai dalam rangka membela harga diri kita melakukan suatu hal secara membabi buta. Buya mengakhiri risalah ini dengan mengutip pernyataan K.H. Mas Mansur dalam Kongres Muhammadiyah ke-21 di Makassar pada tahun 1932 sebagai berikut:

“Saya kagumi keberanian orang Bugis dan Makassar menghadapi maut, sehingga dari karena bertengkar fasal yang sepuluh sen, mereka bisa berbunuh-bunuhan. Saya pujikan keberanian menghadapi maut itu. Tetapi alangkah baiknya jika dia dipergunakan untuk cita-cita yang lebih tinggi. Misalnya untuk kemuliaan tanah air dan bangsa kita dan ketinggian agama kita. Sehingga sepadanlah harga kematian dengan harga yang dipertahankan…..!”

Terakhir, saya ingin menyampaikan apresiasi tinggi terhadap karya salah satu pemikiran pahlawan nasional kita ini. Dalam bahasa yang lugas, ringkas, namun bernas buku ini sepertinya akan berhasil membagi keresahan penulis tentang tantangan terhadap umat Islam. Hanya saja, sebagaimana karya Hamka lainnya, penggunaan bahasa Indonesia yang kental citarasa Melayu mungkin menjadi tantangan tersendiri bagi pembaca ketika mencerna buku ini. Namun, diksi dalam beberapa bagian buku ini yang agaknya sengaja dibuat berima khas karya seorang sastrawan menambah nilai keunggulan lain.

Nur Afilin

Leave a Reply

Scroll To Top