Thursday , 13 December 2018
update
Tarbiyah bil Hal

Tarbiyah bil Hal

Seorang ibu dipanggil ke sekolah gara-gara anaknya yang berusia sepuluh tahun sering berbicara dan bersikap kasar. Tentu ibu tadi kaget. Dia penasaran. Apa gerangan yang mendorong anaknya berperilaku demikian? Usut punya usut, perilaku kasar anak di tingkat Sekolah Dasar itu ternyata akibat pengaruh teman-teman di sekitar rumah. Ibu tadi lantas meminta anaknya untuk tidak lagi bermain dengan mereka.

“Makanya Bunda jangan pulang malam, dong. Supaya sepulang dari sekolah, kita buat kegiatan di rumah, dan aku tidak main sama anak-anak itu,” ujar si anak dengan lugu.

Jawaban yang diberikan anaknya sambil menangis itu membuat hati ibu terketuk. Dia merenung. Seketika dia memutuskan untuk bekerja separuh hari. Selebihnya, dia mengasuh anaknya di rumah tanpa jasa pembantu. Subhanallah. Ada perubahan sikap pada diri anak, seiring perubahan orangtua. Kini, sang anak menjadi betah di rumah. Santun dalam bersikap dan berbicara.

Kisah itu dibawakan Ida S Widayanti dalam buku “Mendidik Karakter dengan Karakter” (2011). Sederhana, memang. Tetapi membentuk karakter anak pastilah berbeda dengan mengukir sebuah benda. Anak adalah manusia yang dibekali pikiran dan perasaan. Anak tidak terlalu butuh perintah dan larangan. Yang lebih dibutuhkan anak adalah teladan dari segala yang orangtua ucapkan, lakukan, dan ajarkan.

Itulah tarbiyah bil hal. Pendidikan dengan teladan. Istilah yang dipakai Widayanti ialah mendidik karakter dengan karakter. Analoginya sederhana. Ingin anak melakukan shalat, orangtua harus lebih dulu rajin shalat. Ingin anak gemar mengaji Al-Quran, orangtua harus lebih dulu mengakrabi Al-Quran. Ingin anak suka membaca, orangtua harus lebih dulu mengintimi buku. Ingin anak berlaku sopan, orangtua harus lebih dulu menjaga ucapan dan kelakuan. Ingin anak bersikap jujur, orangtua harus lebih dulu menghindari keculasan.

Sayang, banyak orangtua lupa. Makanya, ada ibu yang biasa mengantar anaknya mengaji ke TPQ dengan memakai kaus pendek dan celana ketat. Malah ada ayah yang terampil memerintah anak jamaah ke masjid, sementara dia sendiri serius memelototi TV. Lucu. Sudah tidak bisa menjadi teladan, orangtua malah sering memarahi anak dengan bahasa-bahasa umpatan disertai pukulan. Jelas itu tindakan yang bertentangan dengan nilai pendidikan.

Orangtua harus terus belajar metode pendidikan. Jangan pernah bosan karena merasa kenyang oleh asam garam kehidupan. Proses mendidik anak itu bagaikan proses melunakkan besi. Kita tahu, sifat besi adalah keras dan kuat. Jika besi dipanaskan, lalu didinginkan secara cepat, maka besi akan mengeras. Berbeda jika dipanaskan, lalu didinginkan perlahan. Besi akan lebih lunak dari kondisi semula.

Begitu pula proses pendidikan yang berlangsung pada manusia. Perkembangan anak menjadi baik, bukan sim salabim. Memiliki anak yang cemerlang otaknya dan luhur budinya, pastilah dambaan setiap orangtua. Tetapi, mewujudkan harapan itu meniscayakan upaya tepat.

Tegasnya, anak tumbuh menjadi pribadi lembut atau keras, semua tergantung pada perlakuan dan pendidikan yang diterima anak dari orangtua dan lingkungan. Jangan buru-buru menyalahkan. Ketika anak tumbuh dengan sifat kasar dan keras, tengoklah dulu perlakuan dan cara pendidikan orangtua selama ini.

Saatnya menjadi orangtua bijak yang mampu menjalankan tugas pendidikan serta pengasuhan anak dengan cara dan sikap yang bijak pula. Idenya, pendidikan harus disertai keteladanan. Malu rasanya menuntut anak berkarakter mulia, sementara orangtua justru kerap berucap dan berperilaku tercela.

M. Husnaini (Penulis buku Menemukan Bahagia)

Editor : Nur Afilin

Leave a Reply

Scroll To Top