Wednesday , 17 January 2018
update
Taufik “Udjo”: Diplomat Angklung

Taufik “Udjo”: Diplomat Angklung

Angklung ialah alat musik tradisional khas Sunda. Dunia internasional pun sekarang telah mengakuinya. Bicara tentang angklung, tentu tak bisa dilepaskan dari icon pusat kesenian angklung bernama “Saung Angklung Udjo”, disingkat SAU. Perjalanan SAU yang tak mulus hingga go international  seperti sekarang menarik untuk disimak.

Taufik “Udjo” menakhodai SAU sejak tahun 1995. Dialah salah satu kunci sukses sanggar yang berlokasi di Bandung ini. Sang ayah sekaligus pendiri SAU Udjo Ngalagena meninggal pada 2001. Pasang surut SAU berlangsung dalam periode itu. Beruntung Taufik dibantu 9 saudara kandungnya pandai membaca situasi. Merasa perlu ada inovasi demi eksistensi SAU, mereka menggelar pertunjukan angklung bareng Sherina pada Agustus 2000 di Sasana Budaya Ganesha ITB. Hasilnya, sekitar 10.000 penonton memadati Sabuga waktu itu. Nama SAU pun meroket dibuatnya.

Dengan semangat terus mengembangkan, SAU terus melanjutkan inovasinya. Melly Goeslaw tercatat pernah pula digandeng SAU. Kemudian, aransemen lagu pop Indonesia serta beragam genre musik Barat pun mulai digarap oleh SAU. Keyakinan  bahwa angklung pun bisa setara dengan alat musik lain mendobrak perspektif angklung sebagai alat musik lagu tradisional an sich. Prinsip yang selalu Taufik pegang ialah “Keep the old one and create the new one”.

“Ayah selalu memberi sugesti kepada kami bahwa angklung itu memiliki kelebihan 5M: Mudah, Murah, Mendidik, Menarik, Massal. Kalau saya pribadi menambahnya menjadi 6M, dengan memasukkan “Meriah” sebagai kelebihan selanjutnya” kata Taufik.

Selain itu, Taufik meyakini angklung juga bukan sembarang alat musik, melainkan merupakan warisan berharga (intangible heritage).  Meski angklung secara fisik bisa disentuh, namun sentuhan itu tak akan bermakna banyak jika tak disertai dengan kesadaran pentingnya ia sebagai warisan budaya. Nilai filosofis kebersamaan dan kerukunan adalah yang paling melekat dalam permainan alat musik ini.

Kini, angklung lewat perantara SAU semakin mendunia. Beberapa negara bahkan sudah mulai mendirikan tempat semacam SAU juga. Undangan untuk bermai di luar negeri berdatangan.

“Juni nanti insya Allah kami akan bermain dengan 10.000 angklung di Beijing” kata Taufik memberi kabar.

Menurutnya, angklung kini memang telah melewati fungsi dasarnya sebagai alat musik. Dengan angklung Taufik dan rekan-rekan bisa menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan lain sebagainya ke dunia luar. Ya, angklung pun bisa membuat sedunia ini rukun, lanjutnya.

Penulis: Nur Afilin

Leave a Reply

Scroll To Top