Wednesday , 17 January 2018
update
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

van der wijck2“Karena demikianlah nasib tiap-tiap orang yang bercita-cita tinggi; kesenangannya buat orang lain. Buat dirinya sendiri tidak.
Sesudah dia menutup mata, barulah orang akan insaf siapa sebetulnya dia …”
(Hamka)

Bagi pencinta sastra profetik, nama Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) dan roman “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk” tentu tak asing lagi. Sejak awal dimuat berseri di majalah Pedoman Masyarakat hingga dicetak puluhan kali dalam bentuk buku, roman itu selalu mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Bahkan pertengahan Desember 2013 kemarin sebuah rumah produksi secara resmi mempersembahkan film dengan judul sama sebagai adaptasi dari roman fenomal tersebut. Apa dan bagaimana gerangan kisah yang Hamka ketengahkan dalam buah karya yang ditulis pada 1938 ini? Berikut sekilas ulasan berdasarkan buku cetakan ke-31 (Rabi’us Sani 1429/ April 2008) yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang, Jakarta.

Tersebutlah seorang pemuda bernama Zainuddin. Ia adalah putra kelahiran bumi Jumpandang atau Mengkasar. Orang sekarang menyebut daerah tersebut sebagai Ujungpandang atau Makassar. Ayahnya ialah putera asli Padang Panjang (Sumatera Barat) bergelar Pandekar Sutan. Adapun ibunda Zainuddin ialah Daeng Habibah, puteri keturunan bangsawan Melayu Datuk ri Pandang dan Datuk ri Tirro yang mula-mula membawa Islam ke Mengkasar. Pertalian antara ayah Minang dan ibu Bugis inilah yang menjadi awal kisah hidup berliku seorang Zainuddin.

Mengapa Pandekar Sutan ayah Zainuddin bisa menginjak tanah Mengkasar? Tak lain dikarenakan dia dihukum buang dari dusun Batipuh Padang Panjang sesudah membunuh Datuk Mantari Labih, Mamak yang bertindak zalim memakan harta peninggalan ibunda Pandekar Sutan. Karena tak mampu menahan emosi mudanya, Pandekar spontan menusukkan pisau belatinya sebelum dia sempat ditusuk keris oleh Mamaknya itu. Hasilnya, Pandekar Sutan dihukum buang 15 tahun ke Cilacap. Dari Cilacap dia dibawa orang ke Mengkasar, dinikahkan dengan Daeng Habibah. Watak keras ayahanda Zainuddin akibat tempaan penjara ternyata bisa melunak setelah menikah. Itulah kehebatan Daeng Habibah. Kemudian, setelah usia empat tahun pernikahan kedua orang tuanya itulah, Zainuddin lahir di Mengkasar.

Kemalangan demi kemalangan pun tiba jua. Dalam usia masih amat kecil, Daeng Habibah meninggal dunia. Kepergian istri tercinta, membuat Pandekar Sutan seakan kehilangan separuh jiwanya. Beruntung ia masih punya Mak Base, wanita tua yang sudah lama membantu urusan rumah tangganya yang masih setia membantu merawat Zainuddin saat Pandekar sedang tak di rumah.

Hingga pada suatu petang Kamis malam Jumat meninggallah Pandekar Sutan di atas tikar sembahyang. Genaplah Zainuddin menjadi yatim piatu dalam usia yang masih amat belia. Waktu itu Zainuddin kecil sudah menyadari kepergian ayahnya, dia pun cuma bisa menangis. Hanya Mak Base kini yang menjadi tumpuan penghidupannya.

Cerita berlanjut. Begitu beranjak dewasa, Zainuddin merengek kepada Mak Base agar mengizinkannya pergi ke tanah Padang Panjang tempat ayahnya berasal. Ia hendak menyambung tali persaudaraan dengan bako (keluarga dari pihak ayah) di sana.

Setelah bertukar pikiran dan membujuk, Mak Base pasrah melepas kepergian Zainuddin ke tanah Minang. Demi meyakinkan ibunda angkatnya itu, di akhir perpisahan Zainuddin mengutip pepatah Mengkasar:

‘Anak laki-laki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang.’ (hal. 19)

Sampailah Zaenuddin di dusun Batipuh kota Padang Panjang, tanah air ayahnya. Di negeri itu kemudian Zainuddin bertemu dan berkenalan dengan Hayati. Keduanya sama-sama menaruh hati dan bermaksud menjalin hubungan serius sesuai hukum dan adat yang mereka junjung. Namun, apa hendak dikata. Ketinggian adat yang melingkupi Hayati pada gilirannya memaksa hubungan mereka tak bisa berlanjut.

Di mata ninik dan mamak Hayati, pemuda bernama Zaenuddin itu ialah orang Mengkasar bukan orang Minang. Hal ini lantaran mereka menganut garis keturunan ibu (matrilineal), sedangkan ibunda Zainuddin ialah orang Bugis. Padahal di Mengkasar pun ia telah dianggap orang lain, lantaran ayahnya bukan pribumi Mengkasar. Malang benar nasib Zainuddin itu.

Demi memisahkan Zainuddin dan Hayati, Mamak dari Hayati menyuruh Zainuddin keluar dari Batipuh menuju kota supaya tak ada lagi kesempatan berjumpa wajah. Tak mampu melawan, Hayati hanya berpesan saat melepas Zainuddin:

“…Cinta bukan melemahkan hati, bukan membwa putus asa, bukan menimbulkan tangis tali sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkn hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan. Berangkatlah! Dan biarlah Tuhan memberi perlindungan bagi kita.” (hal. 63)

Berbekal janji setia dari Hayati dan pesan di atas Zainuddin menjalani hidup baru di kota. Meski gelisah hatinya, beruntung dia mampu mengerjakan apa yang menjadi salah satu tujuannya datang ke tanah Minang yakni menuntut ilmu. Di sana dia belajar banyak hal, tak hanya ilmu agama.

“…murid-murid telah boleh berdasi, boleh berpakaian cara Barat, karena agama bukan pakaian, tetapi sanggup bertempur, berjuang di dalam menjalankan agama. Dalam pada itu, oleh guru-guru diizinkan pula murid-murid mempelajari musik, mempelajari bahasa asing, sebagai Belanda dan Inggris…” (hal. 73)

Tiba saat hati Zainuddin telah mantap dan perbekalan berumah tangga dirasa cukup, ditulisnya surat bermaksud melamar Hayati. Apa hendak dikata, ternyata kakak dari Khadijah (sahabat Hayati) bernama Aziz telah pula melamar Hayati. Dan bisa ditebak kesudahannya. Dikarenakan pertimbangan harta dan keturunan, ditolaknya lamaran Zainuddin dan diterimalah Aziz. Ironisnya, berawal dari keterpaksaan karena adat dibumbui “intervensi” Khadijah, Hayati tak bergeming. Ia tetap melangsungkan pernikahan dengan Aziz. Remuklah sudah hati Zainuddin. Selama dua bulan dia demam hebat dan mengigau menyebut-nyebut nama Hayati.

Beruntung di saat seperti itu Zainuddin kemudian disadarkan kembali tentang makna hidup oleh seorang parewa bernama Bang Muluk. Parewa ialah sebutan orang Minang untuk para pemuda yang enggan bekerja namun gemar berjudi, menyabung ayam, dan sejenisnya. Keduanya kemudian berjanji menjadi sahabat setia sehidup semati. Bang Muluk bahkan bersedia tobat dan hendak memperbaiki dirinya dengan mengikut ke mana saja Zainuddin pergi. Pergilah kemudian mereka ke Jakarta, lalu ke Surabaya.

Singkat cerita, Zainuddin kemudan menjelma menjadi penulis kenamaan dengan nama pena “Z”. Terkadang ia juga menggunakan nama “Shabir” (Orang yang sabar) sebagai nama samarannya. Tulisannya selalu dinanti banyak orang. Hidup Zainuddin berubah drastis. Semua kebutuhan hidup bisa dipenuhinya. Bahkan ia biasa menyumbang orang-orang tak mampu, utamanya yang berasal dari Sumatera. Bersama “Klub Anak Sumatera” Zainuddin banyak menghimpun jaringan orang Sumatera yang merantau di Surabaya.

Sebaliknya, hukuman Tuhan ternyata berlaku kepada Hayati dan Aziz. Keduanya kini bangkrut lantaran kebiasaan lama Aziz berjudi dan main perempuan kumat. Hayati tak mampu berbuat apa-apa, selain menangis dan terus berusaha menasihati sang suami. Tapi, lantaran cinta sejati tak juga mampu melekat pada keduanya, semua menjadi sia-sia.

Dalam keadaan seperti itu mereka kemudian dipertemukan. Bisa dibayangkan bagaimana gundahnya hati Hayati. Mendadak ia teringat lagi salah satu pesan Zainuddin dalam suratnya dahulu:

“Jangan sampai terlintas dalam hatimu bahwa ada pula bahagia selain bahagia cinta. Kalau kau percaya ada pula satu kebahagiaan selain kebahagiaan cinta, celaka diri kau Dik! Kau menjatuhkan vonis kematian ke atas diri kau sendiri!” (hal. 177)

Hingga puncaknya, Aziz stres dan bunuh diri di sebuah hotel. Sebelumnya, ia telah menceraikan Hayati dan menyerahkannya kepada Zainuddin. Bagaimana Zainuddin menyikapi hal demikian?

Ternyata Zainuddin belum bisa menghapus dendam akibat ingkar janji Hayati. Diputuskannya Hayati harus kembali ke Padang Panjang. Dengan hati remuk sebagaimana Zainuddin dulu, naiklah Hayati dalam kapal Van der Wijck yang hendak menyeberang ke Sumatera. Ditulislah surat “penghabisan” dari Hayati untuk Zainuddin.

Lain hati lain tindakan. Zainuddin berubah pikiran apalagi setelah membaca surat perpisahan dari Hayati. Bermaksud menjemput, namun naas niat tak tersampai. Tuhan mengendaki kapal Van der Wijck tenggelam. Akhir cerita, Hayati pun meninggal dunia setelah sempat dirawat dan membaca syahadat di penghujung sakaratul maut dengan bimbingan Zainuddin. Setahun berselang, Zainuddin menjumpai ajal pula lantaran sakit. Sesuai wasiatnya, ia lalu dimakamkan bersebelahan dengan pusara kekasih hatinya, Hayati.

Demikian ringkasan jalan cerita dalam “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”. Bagi saya, membaca roman ini bisa menambah perbendaharaan rasa dan makna ihwal cinta, kasih sayang, persahabatan, adat istiadat, keindonesiaan, sekaligus keislaman. Kesemuanya diramu secara apik oleh Hamka karya setebal 224 halaman ini. Setiap konflik yang berkelindan mampu mengaduk perasaan dan emosi. Beruntung kita mempunyai seorang ulama yang juga sastrawan seperti Hamka ini.

Namun demikian, mungkin akan tetap ada pertanyaan seputar “keulamaan” sang Buya Hamka karena karya bergenre roman picisan ini. Terlepas dari hal itu, melihat track record pahlawan nasional itu, saya memilih berhusnuzhan bahwa roman ini sejatinya ialah manifestasi dari ajaran tuturan kebaikan yang dikemas dalam bentuk yang lebih “bersahabat”. Kesimpulan ini saya dasarkan pada perkataan Hamka di bagian pendahuluan roman “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” yang mulai ada pada cetakan keempat:

“Sesungguhnya bagi seorang golongan agama, mengarang sebuah buku roman, adalah menyalahi kebiasaan yang umum dan lazim pada waktu itu. Dari kalangan agama, pada mulanya, saya mendapat tantangan keras. Tetapi setelah sepuluh tahun berlalu, dengan sendirinya heninglah serangan dan tantangan itu, dan kian lama mengertilah orang apa perlunya kesenian dan keindahan dalam hidup manusia.” (hal. v)

Selamat membaca.

Nur Afilin

 

 

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top