Wednesday , 20 June 2018
update
Tetralogi Pulau Buru : Sebuah Konfirmasi Sejarah

Tetralogi Pulau Buru : Sebuah Konfirmasi Sejarah

Membaca tetralogi pulau buru berarti menyelami ruang dan waktu Indonesia pada periode pra kemerdekaan. Mengenal lebih jauh periode pergolakan kesadaran nasional dan awal perlawanan kaum intelegensia. Tetralogi yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ini mengambil latar kebangunan dan cikal bakal sebuah negeri bernama Indonesia di awal abad ke 20. Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. Pembagian ini boleh jadi menurut pram merupakan pembabakan tumbuhnya kesadaran dan pergerakan Nasional dalam beberapa periode. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah kaca.

Bumi Manusia

Pada buku pertama tetralogi pulau buru ini Pramoedya mencoba menggambarkan kondisi pribumi yang begitu terpuruk dalam hagemoni Kolonial. Munculnya pergundikan, munculnya starata sosial bikinan kolonial yang menempatkan pribumi pada tempat terendah setelah kaum totok, peranakan, cina dan arab, serta kaum priyayi. Kemerosotan moral pribumi serta penindasan yang semena-mena inilah yang menggugah Minke untuk mulai melawan melalui tulisan-tulisan di surat kabar. Pertemuannya dengan sang mertua Nyai Ontosoroh juga merupakan katalisator jiwa perlawanan Minke. Menanamkan kasadaran akan pentingnya kaedilan ditegakkan, bahwa manusia terpelajar harus adil sejak dalam fikiran.

Anak Semua Bangsa

Periode ini menceritakan pertemuan langsung Minke yang seorang priyayi yang merupakan siswa HBS Surabaya dengan realita yang terjadi dilapangan. Pertemuannya dengan Trunodongso, seorang petani yang menolak tanahnya disewakan secara paksa pada perusahaan gula milik kolonial semakin menggugah kesadaran Nasionalnya. Pribumi terpelajar harus membuat yang lain terpelajar juga, harus mampu berbicara dalam bahasa yang dimengerti rakyatnya. Karena setiap yang terjadi di kolong langit ini adalah urusan setiap orang yang berfikir, apalagi mereka yang terpelajar.

Jejak Langkah

Jejak langkah adalah periode dimana Minke semakin matang secara pribadi dan semakin menemukan bentuk perlawanan terhadap kolonialisme. Pada bagian ini diceritakan perlawanan Minke dengan senjata-senta modern bernama organisasi dan pers yang membuat pemeriantah kolonial kebakaran jenggot. Didiklah rakyatmu dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.

Rumah Kaca

Rumah Kaca merupakan buku penutup tetralogi pulau buru menceritakan tentang periodisasi pemberantasan pergerakan-pergerakan pribumi oleh pemerintah kolonial. Buku ini ditulis dengan apik oleh Pramoedya dengan mengambil sudut pandang J. Pangemanann, seorang agen kepolisian kolonial yang ditugaskan untuk memadamkan usaha-usaha perlawanan pribumi. Pergolakan batin seorang Pangemanann yang merupakan seorang Manado membuat Rumah Kaca begitu sarat pesan moral.

Sebuah Konfirmasi Sejarah

Tokoh R.M Minke dalam tetralogi pulau buru sejatinya merupakan tokoh imajinatif dari R.M Tirto Adi Soeryo. Seorang pelopor kesadaran pergerakan Nasional yang tak banyak dikenal Rakyat Indonesia. dalam buku berjudul Sang Pemula Pramoedya menuliskan biografi sang pelopor pergerakan Nasional ini.

Semasa hidupnya R.M Tirto Adi Soeryo telah mendirikan pers pribumi pertama yang diberi nama Medan Priyayi. Melalui Medan Priyayi juga Tirto mempopulerkan bahasa Melayu yang simple dan tidak hirarkis. Peraih galar Pahlawan Nasional dan Pelopor Pers Nasional ini juga merupakan pelopor berdirinya Syarikat Dagang Islam (SDI). Yang kemudian berubah nama menjadi Syarikat Islam (SI) saat Tirto di Internir ke Maluku dan SDI dibekukan pemerintah.

Setelah dibekukannya SDI yang kemudian berubah nama menjadi SI. Berturut-turut tampuk kepemimpinan SI diemban oleh H. Samanhudi, seorang saudagar batik dari Solo. Kemudian Tjokroaminoto, seorang pemuda berbakat dari Surabaya. Dari bimbingan Tjokroaminoto inilah nantinya muncul tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Soekarno (Pendiri PNI/Presiden Pertama RI), Semaun (Pendiri PKI), Muso, Alimin, dan Karto Suwiryo (Pimpina DI/TII).

Selepas Medan Priyayi digulung pemerintah, Suwardi Suryaningrat dan Eduard Dowes Dekker yang merupakan anak didik Tirto di Medan Priyayi bersama dr. Cipto Mangunkusomo mendirikan Indische Party, partai pertama di Hindia. Karena terlalu kritis mereka bertiga akhirnya di eksternir ke Negeri Belanda. Indische Party dibubarkan. Namun Indische Party terlanjur menginspirasi banyak pemuda.

Bung Karno pernah Berpesan, Jangan Sekali-kali melupakan sejarah. Dan R.M Tirto Adi Soeryo adalah Sang Pemula yang telah menginspirasi bangkit dan tumbunhya kesadaran Nasional.

Penulis : Arif Syaifurrisal, Pegiat KAMMI Surabaya
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top