Saturday , 18 November 2017
update
Tugas Kita Hanya Menjawab, Kawan!

Tugas Kita Hanya Menjawab, Kawan!

“Pilihan kita, satu dari dua: sekulerisme atau agama!” –M.Natsir

Wacana tentang penghapusan kolom agama pada KTP benar–benar membingungkan. Entah gagasan itu murni berlatar administratif, politis, atau malah ideologis. Jika alasannya karena banyak aliran kepercayaan di Indonesia, kenapa tidak dari dulu atau sejak dari awal ditetapkan penggunaan KTP? Jangan heran kalau kemudian ada yang mensinyalir bahwa penghapusan kolom agama justru akan menimbulkan permasalahan beragama di Indonesia.  Bukan tak mungkin juga itu bakal berujung pada pelegalan norma-norma lintas agama, nikah beda agama misalnya. Dengan demikian, secara bertahap  pengosongan kolom agama akan membawa pada sekularisasi dan liberalisasi agama dari negara.

Bicara ihwal sekularisasi dan liberalisasi, saya teringat sebuah peristiwa. Suatu ketika seorang kawan bercerita pada saya tentang ibadah kawannya yang sering nyeleneh. Kata kawan saya itu “Ndri, gue bingung sama temen gue. Tiap gue ajak sholat ogah-ogahan mulu.”

“Lha emang kenapa?” tanya saya.

“Iya, katanya percuma shalat kalo hatinya belum tenang. Shalat itu kan kudu pake hati yang tenang” jawabnya.

Dia sudah berkali-kali mengajak temannya itu berdiskusi seraya menasihatinya. Mulai dari teori sederhana sampai dalil-dalil shahih nan mulia, namun tetap saja temannya itu hanya mau shalat jika hatinya sudah tenang.

“Lha kalau nunggu tenang, tenangnya kapan? Tenang itu ya diusahakan. Malah shalat itu justru yang bikin tenang,” saya menyela.

Di waktu yang lain, ia bercerita tentang teman lainnya lagi yang berkeyakinan bahwa shalat sudah cukup diniatkan saja. Ah, ini pemikiran kemarin sore, kawan.

Cerita-cerita itu mengajarkan kita bahwa dari zaman ke zaman tantangan dakwah akan selalu berbeda. Dulu Rasulullah SAW telah berjuang membibit keimanan dan keislaman. Setelah menjadi bunga sempurna, generasi setelahnya berjuang mengembangkan kelopak dan sarinya; budaya dan keilmuannya. Kini, giliran kita generasi  penerus selanjutnya berjuang di era wacana. Mempertahankan pakem agama di tengah liberalnya arus dialektika. Pesatnya kemajuan teknologi, informasi, dan budaya yang saling beralkulturasi membuat evolusi berfikir manusia semakin kompleks, rumit, dan merumitkan.

Ideologi kokoh nan shahih dari ulama yang mulia kini coba dibenturkan dengan konsep evolutif yang naif. Sumber Alquran yang sudah fiks kini coba diotak-atik. Disesuaikan zaman, katanya. Mereka juga melakukan interpretasi dan tafsir seenaknya. Sasarannya tidak lagi masjid atau musholla, tetapi pemikiran, kajian, dan studi-studi keilmiahan serta pendidikan. Tentang ini, M. Natsir pernah mengingatkan kita:

Di lapangan ilmu pengetahuan sekularisme menjadikan ilmu-ilmu terpisah daripada nilai-nilai hidup dan peradaban. Timbullah pandangan bahwa ilmu ekonomi harus dipisahkan dari etika. Ilmu sejarah harus dipisahkan dari etika. Ilmu sosial harus dipisahkan dari norma-norma moral, kultur, dan kepercayaan. Demikian juga ilmu jiwa, filsafat, hukum, dsb. Sekedar untuk kepentingan obyektiviteit. Sikap memisahkan etika dari ilmu pengetahuan ada gunanya, tetapi ada batas-batas dimana kita tidak dapat memisahkan ilmu pengetahuan dari etika.”

Adapaun di masa kini, Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor, Dr. Adian Husaini, pernah menyatakan bahwa pengembangan studi Islam saat ini tidak diarahkan untuk menghasilkan sarjana yang meyakini kebenaran agamanya, tetapi justru menghilangkan klaim kebenaran pada agamanya sendiri.

Dengan slogan-slogan Islam inklusif, plural, dan liberal  mereka berjuang menegakkan kebangkitan spiritual hanya dari segi makna kontekstual. Sedangkan, konsep dan norma fundamental mereka coba kaburkan dengan berbagai penyesuaian. Kaum sekularis-liberalis tidak menganggap perlu adanya hubungan jiwa dengan Tuhan, baik dalam kehidupan maupun peribadahan. Mereka tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai moral itu ditimbulkan oleh masyarakat semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan saat ini saja.

Duh, Islam tidak seperti itu, kawan. Islam diturunkan mencakup makna sekaligus norma. Spriritual, mu’amalah, aqidah, dan ibadah tak bisa terpisah. Maka, tak mungkin Islam melegalkan pernikahan sejenis atau beda agama, membolehkan pornografi, atau menghalalkan pelacuran sebagai profesi.

Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus memiliki tugas menghunjamkan lagi pemahaman dan keimanan tentang hakikat Islam. Kemudian, sekuat tenaga kita juga perlu memotong virus-virus liberalisme agar tak lagi menggurita. Biarkan mereka bertanya dan berwacana, kawan. Tugas mereka memang hanya bisa sampai di sana. Kokohkan kemampuan kita agar mampu melawan. Ingat apa yang pernah ditulis Salim. A. Fillah dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang:

Kitalah, para peniti jalan cinta pejuang yang harus memberi kabar pada dunia. Karena Allah telah menjadikan Rasulullah dan kita sebagai saksi yang menjawab, bukan para jaksa yang bertanya.”  

Terakhir, seperti kata M. Natsir di depan sidang Majelis Konstituante, “Pilihan kita, satu dari dua: sekulerisme atau agama!”

Wallahu a’lam.

Kontributor: Suandri Ansah (Lembaga Pers Dakwah Kampus Nuraniku UNJ, Anggota Muda FLP Jakarta Angkatan 18)

Editor : Nur Afilin

Leave a Reply

Scroll To Top