Saturday , 18 November 2017
update
Wasiat Dahsyat (1)

Wasiat Dahsyat (1)

“Kamu tetap mau sekolah, Nak?” ibuku bertanya dengan nada tercampur duka.

“Insya Allah iya, Bu! Aku ingin menunaikan janjiku pada bapak. Aku nggak mau Bapak sedih melihat aku putus sekolah,” jawabku memantapkan hati.

Ibuku hanya menggeleng mengetahui tekadku ini.

“Faiz, Faiz… kamu itu memang persis bapakmu. Kalo udah punya kemauan, susah untuk diubah. Ibu tahu kamu memang harus melaksanakan janji. Apalagi ini janji dengan Bapak. Tapi, ibu nggak tahu gimana caranya kamu bisa tetap sekolah. Belum lagi biaya dua adikmu di SD. Memang ada BOS, tapi keperluan sekolah itu kan banyak, tho?”

Iba juga aku mendengar ibu mengatakan fakta itu. Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk memperdebatkan permasalahan ini. Saat ini kami semua, terlebih ibuku, sedang dirundung duka. Tiga hari sudah rumah ini kehilangan sosok bijak dan bertanggungjawab itu. Ya, Bapak yang selama ini selalu “memprovokasi” agar aku selalu rajin berangkat sekolah kini telah tiada. Aku hanya bisa menangis tertahan saat pertama kali kulihat jasadnya terbujur kaku dikelilingi tetangga dan sanak kerabat. Aku tidak menyangka beliau akan meninggalkan kami begitu cepatnya. Ternyata beliau mengidap penyakit paru-paru basah. Sungguh di luar sepengetahuan kami semua.

Namaku Faiz. Walaupun demikian, nampaknya harapan bapak terhadapku belum terwujud. Beliau pernah bercerita padaku tentang alasan mengapa aku diberi nama “Faiz”. Bapak yang memang seorang religius itu mengatakan bahwa namaku harapan bapakku. “Faiz” artinya “beruntung” atau “sukses”. Bapak memang sangat berharap aku bisa menjadi lebih baik daripada dirinya.

Dalam sejarah keluargaku belum ada satu pun yang bisa kuliah, apalagi menjadi seorang pegawai atau pengusaha sukses. Dan Bapak ingin akulah orang pertama yang akan memecahkan “rekor” itu. Saking besar harapannya, beliau memberikan pesan atau wasiat khusus kepadaku. Isi wasiat itu intinya bapak menginginkan aku terus menuntut ilmu setingi-tingginya. Beliau yakin bahwa hanya dengan pendidikan keluarga ini akan menjadi lebih baik di masa depan. Segala permasalahan dan kekurangan di keluarga ini akan teratasi bila aku menjadi seorang yang terdidik. Namun, beliau berpesan bahwa aku harus terdidik dengan benar. Maksudnya, tidak hanya intelektualnya saja, tetapi perilaku dan keterampilan pun harus mencerminkan seorang terdidik. Bapak tidak mau aku korupsi seperti banyak pejabat saat ini. Dan yang terakhir, bapak pesan agar setelah sukses, aku harus berbagi dengan yang membutuhkan. Kata Bapak seperti itulah hakikat tujuan pendidikan yang beliau tafsirkan dari UU No. 20 Th. 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Heran juga aku dibuatnya. Dari mana bapak tahu UU Sisdiknas itu. Padahal Bapak SMP saja tidak sampai lulus, karena harus bekerja membantu orangtuanya. Aku jadi malu karena baru di  kelas XII SMA Negeri 1 Comal ini aku tahu tentang itu.

***

Pagi belum benar-benar datang. Ayam-ayam pun nampaknya masih enggan meninggalkan kehangatan di dalam kandangnya. Mentari mungkin saja masih menghabiskan sisa malam untuk beristirahat, sebelum bersiap-siap muncul dan bertugas hari ini. Hanya sisa angin malam yang masih setia berkeliaran di luar sana. Pantas saja. Jam dinding di ruang tengah, tempatku menggelar tikar butut untuk tidur, menunjukkan pukul 3 dini hari.

Namun aku sudah terbangun. Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak. Wasiat  almarhum Bapak terus-menerus terngiang di gendang telingaku. Aku rasa ini adalah pertanda aku harus melaksanakannya. Maka, kuputuskan untuk “curhat” kepada Dia yang telah memanggil Bapak. Aku yakin hanya Dia yang bisa membantuku keluar dari dilema ini. Aku ingin menunaikan wasiat Bapak, tapi aku juga tidak mau menambah beban bagi ibuku.

Selesai mengadukan semua yang kurasakan, aku baru bisa tidur dengan nyenyak. Aku dibangunkan tiga puluh menit kemudian ketika azan Subuh berkumandang. Namun, tidurku yang hanya sekejap itu justru membuat tubuhku menjadi segar. Aku juga merasa lebih tenang dan mantap dengan solusi yang kupilih.

***

 “Ibu, aku berangkat sekolah dulu, ya?” pamit aku setelah sarapan seadanya.

Lho, kok kamu mau berangkat sekolah? Ibu kan sudah bilang tidak sanggup membiayai sekolahmu, tho?” ibuku bertanya

Aku coba menjelaskan dengan singkat dan hati-hati, “Ibu, aku sudah berjanji akan terus sekolah untuk memenuhi wasiat bapak. Jadi, ibu tidak usah khawatir tentang biaya. Faiz pulang sekolah nanti akan cari kerjaan di Pasar Comal. Mudah-mudahan bisa menambah pemasukan buat kita semua, juga buat sekolahku.”

“Bukan itu saja, Faiz. Ibu tidak mau tubuh mudamu itu berkelahi dengan waktu. Ibu khawatir kamu sakit kalau nyiksa diri seperti itu.”

“Percayalah, Bu! Faiz nggak apa-apa kok. Bukankah Ibu mengatakan bahwa aku ini seperti Bapak? Jadi, Faiz pun akan berjuang sekuat tenaga seperti bapak dulu. Faiz juga ingin Ibu tidak terlau berat bekerja menjual nasi dan lauk berkeliling kampung tiap pagi dan malam. Faiz ingin Ibu bahagia.”

Ibuku terisak mendengar yang kukatakan. Tiba-tiba, dia merangkul dan memelukku sambil terus menangis. Dia berbisik lirih di telingaku, “ Bapak pasti bangga mempunyai anak sepertimu, Nak! Ibu merestui kalau kamu memang tetap bersikukuh. Mudah-mudahan kamu dapat apa yang kamu inginkan. Sehingga bapakmu tersenyum melihatnya dari alam sana.”

“Aamiiin…” jawabku sambil mengusap butiran mutiara yang mulai menganak sungai dari mataku. Tak kusadari aku pun hanyut dalam suasana penuh haru itu.

(bersambung)

 

Penulis : Nur Afilin
Editor : SCE

 

Leave a Reply

Scroll To Top