Monday , 21 August 2017
update
Wasiat Dahsyat (2)

Wasiat Dahsyat (2)

Ini adalah hari pertamaku berangkat sekolah setelah kepergian Bapak. Aku tambah bersemangat untuk bersekolah karena wasiat Bapak itu. Namun, semangatku agak ternoda karena Ari, teman akrabku melaporkan hal yang tidak enak ini. Dia mengatakan bahwa Pandu mengancam dirinya jika masih berteman denganku. Katanya Pandu sangat membenciku karena aku menggeser posisinya sebagai peringkat 1 paralel di semester lalu. Namun, aku berusaha untuk tetap tenang mendengar kabar itu.

***

Hari ini tepat bulan kedua aku bekerja di toko kain Pak Ardi ini. Langit tampak kelam sore ini. Mendung bergelayutan di atas sana. Nampaknya akan turun hujan. Beberapa tukang becak pun nampak menepi untuk menghindari hujan yang mungkin akan turun sebentar lagi. Jam dinding di toko Pak Ardi berdentang empat kali.

Sebuah mobil BMW berhenti di depan toko Pak Ardi. Nampak seorang ibu keluar disertai seorang bapak yang sudah aku kenali. Ya, itu adalah kedua orang tua Pandu. Ada apa mereka kemari? Aku tak mau menduga yang tidak-tidak.

Kemudian, mereka menemui Pak Ardi dan berbicara lirih-lirih. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Yang kutangkap saat tak sengaja melirik adalah perubahan mimik muka Pak Ardi. Beliau tampak ketakutan. Tak berapa lama, kedua orangtua Pandu pulang. Hujan pun turun dengan lebatnya. Petir menyambar-nyambar seakan ingin membelah sang mega.

Pak Ardi mendekatiku, dan tiba-tiba berkata, “Nak Faiz, maaf  Bapak nampaknya sudah tidak membutuhkan kamu untuk membantu di toko ini lagi. Beberapa minggu terakhir ini, nampaknya pembeli berkurang. Bapak dibantu Ibu kayaknya cukup untuk melayani pembeli. Jadi, ini Bapak beri uang pesangon. Mulai besok kamu tidak perlu datang ke sini lagi.”

Kilat yang menyambar di langit sana seakan menyambar tubuhku. Aku menjadi lemas mendengar keputusan maha mendadak ini. Bagaimana dengan sekolahku nanti? Apakah aku bisa membantu ibu membeli beras seperti beberapa bulan terakhir ini? Apakah masih ada tempat bekerja lain yang menawarkan upah cukup untuk orang yang bekerja paruh waktu seperti aku ini? Aku belum bisa menjawab pertanyaanku sendiri saat ini. Yang bisa kulakukan hanya menerima pesangon berupa 2 lembar uang bergambar Soekarno-Hatta, kemudian melangkah gontai meninggalkan toko Pak Ardi.

*

Sengaja tak kuceritakan apa yang terjadi kemarin sore. Aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Kuikuti pelajaran dengan pikiran melayang kemana-mana. Bu Fitri yang biasanya kubuat tersenyum karena aku selalu dapat menjawab pertanyaan yang beliau ajukan, kini tampak kecewa. Aku hanya menjawab, “Tidak tahu, Bu,” saat beliau mengajukan pertanyaan kepadaku. Biasanya teman-teman lain juga tidak lebih tahu kalau pertanyaan itu sudah diajukan  kepadaku.

Di rumah pun aku lebih banyak diam. Aku hanya bilang sedang tidak enak badan, sehingga aku izin tidak kerja kepada Pak Ardi. Ibu pun nampak mempercayai perkataanku. Aku tak tau apakah benar-benar ibu percaya, karena sorot matanya sebenarnya mengisyaratkan banyak pertanyaan. Hanya saja mungkin beliau ingin aku istirahat cukup dulu.

Di sepertiga malam akhir aku kembali terbangun seperti biasa. Aku mengadu lagi kepada Dia Yang Maha Kuasa. Aku tumpahkan segala perasaanku. Hanya kali ini berbeda yang kuadukan. Kukatakan kepada-Nya bahwa bila aku memang tidak diizinkan-Nya sekolah, besok aku akan keluar. Aku akan bekerja full untuk membantu ibu dan sekolah kedua adikku. Biarlah kedua adiknya yang terus bersekolah sampai menjadi orang. Kututup do’aku dengan memohon dibukakan jalan keluar terbaik atas kesulitan keluarga kami ini.

***

Hari ini Pandu tidak berangkat sekolah. Keterangan yang masuk menyebutkan dia sakit. Aku kembali belajar di kelas dengan tiada gairah. Bel pulang pun rasanya lama sekali karena aku tidak menikmati lagi pelajaran sebagaimana biasanya.

Setelah bel berbunyi, aku keluar kelas. Aku akan meminta tolong  Bu Fitri menemaniku menemui Wakasek Kesiswaan. Akan kusampaikan keinginanku untuk keluar siang ini juga.

Namun, tiba-tiba…

Kedua orangtua Pandu muncul dari balik pintu ruang guru. Bu Shinta, ibunya Pandu langsung berlari ke arahku dan memelukku sambil menangis.

“Ma..ma..maafkan kami, Nak Faiz…!” ucap Bu Shinta terbata-bata.

Aku bingung. Tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

“Maafkan kami, Nak Faiz…!” kembali Bu Shinta mengiba padaku.

Akhirnya Pak Roni, ayahnya Pandu angkat bicara,“Kami meminta maaf, Nak Faiz. Kami telah menyebabkan Nak Faiz dikeluarkan oleh Pak Ardi. Kami yang memaksa Pak Ardi memecat Nak Faiz atas permintaan Pandu. Akibatnya, sejak semalam Pandu demam. Tubuhnya panas sekali. Dia selalu memanggil-manggil nama Nak Faiz. Kami rasa ini adalah pertanda kami harus meminta maaf kepada Nak Faiz. Mohon pula Nak Faiz datang ke rumah kami untuk membesuk Pandu. Menurut dokter dia bisa lebih cepat sembuh jika orang yang disebut-sebut namanya saat mengigau datang. Kami mohon  sekali lagi. Pandu anak kami satu-satunya. Kami tidak ingin terjadi apa-apa dengan dia.”

Terenyuh aku mendengar pengakuan mereka. Aku teringat pesan bapakku untuk menjadi seorang terdidik yang sejati. Makanya, dengan segera kuanggukkan kepalaku. Kuikuti permohonan kedua orangtua Pandu.

Lima hari setelah kesembuhan Pandu, yaitu Minggu pagi, kedua orang tua dan Pandu sendiri berkunjung ke rumahku. Bu Shinta nampak menitikkan air mata begitu melihat kondisi dalam rumahku. Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan semua anggota keluargaku. Sebelum pulang, Pak Roni memberitahukan bahwa dirinya akan membiayai pendidikanku sampai lulus S1. Aku diperbolehkan memilih perguruan tinggi manapun di negeri ini. Beliau mengatakan itu sebagai tanda terimakasih dan permohonan maaf dari keluarganya. Aku semula berusaha menolaknya. Namun, beliau justru mengatakan akan merasa bersalah seumur hidup apabila aku tidak menerimanya. Melihat ketulusan hati yang terpancar dari mata beliau, aku pun luluh. Anugerah itu aku terima dengan penuh rasa syukur. Pandu sekeluarga pun pamit pulang.

Walaupun kuliahku sudah dijamin, aku putuskan untuk tetap bekerja pada Pak Ardi. Beliau pun telah meminta maaf kepadaku beberapa hari yang lalu. Beliau ingin aku tetap bekerja di sana. Bahkan beliau memintaku menjadi pengawas dari pekerja disana. Artinya, penghsilanku bisa lebih. Itu pasti cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah kedua adikku.

Akhirnya, kupanjatkan syukur yang mendalam atas apa yang kami sekeluarga terima ini. Bapak pasti senang melihat aku akan segera menunaikan wasiatnya. Sebuah wasiat dahsyat dari Bapak untuk kebahagiaan kami.

 

Penulis : Nur Afilin
Editor : SCE

 

Leave a Reply

Scroll To Top