Tuesday , 12 December 2017
update
Yang Lembut, Yang Menyentuh…

Yang Lembut, Yang Menyentuh…

Saya tertarik untuk menyampaikan ini kembali untuk para pembaca sekalian, kisah yang tak asing di telinga kaum muslimin tentang lelaki badui yang nyaris dikeroyok oleh para Sahabat Rasulullaah Saw.

Siang itu di tengah ruangan yang berlantaikan pasir dan kerikil, dengan suasana yang sejuk dan menentramkan, Rasulullaah Saw berkumpul bersama para sahabat untuk mengadakan pengajian bersama para sahabatnya. Di Masjid Nabi ini Muhammad Saw sering berbagi, diskusi, atau bahkan menyiapkan strategi perang.

Di tengah syahdunya nasihat yang tertutur dari ucap Rasulullaah Saw kepada sahabat, tetiba datanglah seorang badui yang lusuh, namun ia datang tak bermaksud untuk ikut bergabung dalam majelis ilmu Rasulullaah. Ia berlalu saja melewati majelis ilmu dan menuju sudut Masjid. Sejurus kemudian, badui itu buang air kecil tanpa merasa salah atau malu sedikitpun.

Hampir semua sahabat marah, gaduh, riuh, naik pitam. Aura emosi para sahabat sangat terasa, hingga Umar pun mengangkat pedangnya dan meminta izin Rasulullaah Saw untuk memenggal kepala orang badui itu. Kemarahan para sahabat sebetulnya sah-sah saja, mengingat ini adalah Rumah Allah, Masjid Nabi, tempat mulia, tempat ayat-ayat Allah dilantunkan namun seenaknya saja lelaki badui itu buang hajat mengotorinya.

Namun, apa yang dilakukan Rasul Saw? Beliau Sallaahu’alaihi Wa Salaam menenangkan para sahabat dan memerintahkan untuk diam dan menunggu hinggakan sang badui menuntaskan hajatnya tersebut. Dengan senyum terlembut dan tatapan menentramkan, Rasulullaah Saw menasihati Badui tersebut. “Sesungguhnya”, begitu Sallaahu’alaihi Wa Salaam memulai nasihatnya, “Masjid ini dibangun bukan untuk buang air kecil, tetapi untuk dibacakannya Al-Quran dan dilaksanakannya Sholat.”

Lalu tibalah waktu sholat. Rasulullaah Saw pun menjadi imam, diikuti oleh para sahabat. Tak disangka, orang badui ini pun mengikuti sholat bersama Rasulullaah dan para sahabat.

Mereka sholat seperti biasa. Setelah bangun dari ruku’, Rasulullaah Saw mengucap, “Sami’ Allaahu liman hamidah”. Serentak para sahabat pun menjawab, “Rabbanaa walakal Hamdu”, Tuhan kami, dan segala puji bagiMu.

Ada sesuatu yang menjadi perhatian, ternyata lelaki badui ini menambahkan doa i’tidal ini dengan, “Rabbanaa walakal Hamdu. Allahumarhamnii wa Muhammadan walaa tarham ma’ana ahadan.”. Tuhan kami, dan segala puji bagiMu. Yaa Allah sayangilah aku dan Muhammad, dan jangan sayangi selain kami berdua.

Subhanallaah..

Ketika yang lain membaca dengan suara yang biasa saja, namun lelaki badui ini mengucapkannya dengan lantang dan keras, pastilah Rasulullaah Saw pun mendengar ucap lelaki badui ini.

Baiklah, kita sepakat bahwa lelaki Badui ini salah. Membaca sesuatu yang tidak diajarkan didalam sholat. karena memang lelaki badui ini tidak tahu apa-apa tentang islam, dan ini adalah sholat pertamanya.

Namun ada pelajaran besar bagi kita, sangat besar. Rasulullaah dengan akhlak yang memukau, mampu menyentuh hati terdalam lelaki badui ini hingga mampu mengubah posisi Rasululullaah Saw yang awalnya seseorang yang tak dikenal oleh lelaki badui ini menjadi seseorang yang istimewa di hatinya. Mampu mengubah doa-doa yang terpanjat dan mengasih pada Rasulullaah Saw, namun keras untuk para sahabat.

Setelah sholat, Rasulullaah Saw seperti biasa membalikkan badannya, lalu ia Sallaahu’alaihi Wa Salaam berucap pada lelaki badui ini, “Engkau telah menyempitkan sesuatu yang luas”. 

Lagi-lagi Rasulullaah Saw memberikan nasihat yang secukupnya, sekadarnya. Pas. Sesuai dengan kapasitas lelaki badui ini. dan nasihat ini pula menambahkan kecintaan lelaki badui ini pada Rasulullaah Muhammad Saw.

Ah, betapa selalu yang lembut yang menyentuh. yang berakhlak yang mengesankan. Sungguh yang indah, ialah yang menggugah.

Penulis : Majid Muhammad, @majid_badar
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top