Friday , 19 October 2018
update
Yth. Presiden Mursi (Bag. 1)

Yth. Presiden Mursi (Bag. 1)

Salam sejahtera untukmu, Mr. Presiden, beserta segenap keluarga dan orang-orang yang tetap berusaha menapaki jalanNya dalam kebaikan. Shalawat untuk Nabiku tercinta, teladan dalam amanah dakwah yang panjang berliku, dengan tangga tertinggi surga. Shalawat pula untuk keluarga Nabi yang sederhana, para tabiin, salafus shalih, dan orang-orang yang senantiasa percaya pada janji Allah.

Apa kabarmu, Tuan? Selama 10 hari terakhir Ramadhan hidupku disibukkan oleh semangat ibadah, itikaf, tilawah Quran, berinfaq shadaqah dan ah, tentu saja. Riuh rendah suasana lebaran yang menjadi budaya bangsa Indonesia : silaturrahim, sungkem dan mencium ayah ibu, menengok kerabat dekat, bercanda dengan keponakan dan handai tolan. Sebagai bagian dari rakyat Indonesia berjumlah 280 juta, kami juga disibukkan oleh harga daging sapi yang melonjak hingga 120ribu/kg, cabai, tiket angkutan dan padat merayap jalanan saat  mudik – balik.

Dan, bertemu bersama keluarga, kembali diskusi-diskusi meriah merebak. Mulai perkembangan anak-anak, pencapaian karir, hingga kondisi negara.

Presiden Mursi,

Sungguh, tak layak. Kata orang, tak baik mengungkap keburukan keluarga sendiri, membuka aibnya pada orang luar. Aku tak ingin membuka aib keluargaku, bangsaku, pada orang lain. Tapi bagiku, kau bukan “orang lain”, Mr. President.

Di negaraku, sejak lama aku merasa menjadi anak angkat, anak tiri, atau tak punya siapa-siapa sebagai tempat mengadu. Sejak kecil, remaja, mulai menikah hingga dewasa; permasalahan yang dihadapi bangsaku serasa tak melangkah maju : ekonomi sulit, kriminalitas, sensitivitas antar suku, kesenjangan antara borjuis proletar. Waktu kecil, tiap kali lebaran aku harus berdesakan bersama sekian ribu pengantri kereta api untuk mudik; sekarang memang lebih baik. Tetapi jalanan dipenuhi kendaraan pribadi sementara kendaraan umum masih jauh dari memadai; baik kenyamanan maupun keamanan. Maka uang lebaran kami habis oleh harga-harga membumbung.

Andai saja, bukan karena  takut kepada Allah SWT dan keinginan untuk berbakti pada orangtua, sungkem pada mereka, dan keinginan menyambung silaturrahim ; rasanya enggan menjadi bagian dari keruwetan lebaran.

Presiden Mursi,

Sepanjang melaju dari Jawa Timur hingga Jawa Tengah, betapa makmurnya negeri kami Indonesia. Kanan kiri dipenuhi sawah, hutan jati, kebun tebu, tembakau. Sungai-sungai mengalir. Di alas Mantingan, masyarakat menjual ikan-ikan yang didapat dari kolam air. Alas Roban tak seseram dulu, jalur perbukitan dibelah. Kanan kiri dipenuhi penjaja kelapa hijau, dan rest area yang menyediakan makanan hangat. Sepanjang Ramadhan dan lebaran, sungguh kami tak kekurangan makan. Apapun bisa didapat di Indonesia. Daging sapi, ayam, beras, buah-buahan. Makanan tradisional hingga franchise Amerika, dapat dipilih mudah. Asalkan punya uang.

Presiden Mursi,

Indonesia demikian makmur. Pepatah berkata, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja. Ibaratnya, melempar kayu, pohonpun tumbuh. Bukan sekedar kolam air, tetapi danau susu.

Maka, aku sangat terbiasa hidup enak. Apa-apa ada.

Sulit rasanya hidup susah. Antri sedikit, malas. Jalan ke tong sampah, malas. Jatuh bangun berdagang , malas. Berpikir 20 tahun Indonesia ke depan, malas. Rasanya, negeri surgawi ini terlalu kaya, sehingga 7 turunan cukup menghidupi anak-cucu-cicit. Mungkin itulah dapat dimaklumi kenapa orang-orang di negeri ini ingin jalan pintas, serba cepat, potong kompas. Maka jangan heran, di negeri kami mulai artis hingga pejabat, terbiasa mencapai karir dengan cara kilat; tak peduli seperti apa kualitas karirnya.

Aku sendiri, pada awalnya adalah anak muda dengan idealisme tinggi.

Ingin mengubah negeri ini, menjadi lebih baik. Langkah-langkah bertahap mulai perbaikan individu, keluarga, masyarakat, lalu negara dan semesta.

Nasehat al Banna dan Syaikh Ahmad ar Rasyid

Presiden Mursi,

Kadang aku kecewa dengan diriku. Dalam tahapan ini, nasehat syaikh Ahmad ar Rasyid, sang dai muharrik sungguh menyentak, menikam. Aku merasa diriku demikian baik, dan akan sanggup memikul segalanya sendiri. Tetapi syaikh ar Rasyid menasehati,

“…akan selalu dibutuhkan dai-dai, pejuang muda. Sebab para pejuang tua, telah kelelahan disebabkan oleh perkara-perkara manusiawi.”

Ya. Manusiawi. Atau duniawi?

Betapa saat muda kami selalu berdiskusi tentang bagaimana mengubah negeri ini. Angkutan negeri, pasar-pasar, sekolah, system perkonomian, pemilihan kepala daerah, kepala pemerintahan. Hal-hal kecil kami bahas, bahkan bagaimana  menyalurkan bantuan jilbab dan bahan makanan ke pelosok banjir.

Perkara-perkara manusiawi lambat laun memperlambat laju kami. Ekonomi yang belum mapan, karir yang belum beranjak, biaya hidup yang melonjak, juga permasalahan keluarga. Maka langkah lelah kami menjadi terseok oleh perkara-perkara yang dulu jauh diluar jangkauan pikiran kami. Keinginan membeli rumah, membeli mobil, membeli baju baru, investasi, dan beragam kepentingan ekonomi yang campur baur antara keinginan dan kebutuhan. Kami, masih menyandang predikat dai. Masih berkinginan menapakai jalan kebaikan. Tapi ah, mengapa sangat sulit kini untuk ikut merasakan keletihan dan perjuangan yang biasa dilalui para Nabi dan Rasul?

……

(Bersambung)

 

Leave a Reply

Scroll To Top